Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sukabumi Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah

Sukabumi Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah
Sekda Kabupaten Sukabumi Ade Suryaman (IDN Times/Fatimah)
Intinya Sih
  • Pemkab Sukabumi menetapkan status tanggap darurat bencana pergerakan tanah di Kecamatan Bantargadung selama tujuh hari untuk mempercepat penanganan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
  • Ratusan warga dari Desa Bantargadung dan Bojonggaling terdampak, dengan puluhan rumah rusak berat hingga ringan serta sebagian warga mengungsi ke lokasi aman atau pengungsian terpusat.
  • Pemerintah daerah menyiapkan bantuan jangka pendek seperti dapur umum dan uang sewa rumah, serta merencanakan relokasi dan pembangunan hunian tetap bagi penyintas setelah kajian selesai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kabupaten Sukabumi, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat bencana pergerakan tanah di Kecamatan Bantargadung setelah ratusan warga terdampak. Keputusan ini diambil untuk mempercepat penanganan korban serta memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.

Status tanggap darurat tersebut berlaku selama tujuh hari hingga 10 Maret 2026, mencakup wilayah Desa Bantargadung dan Desa Bojonggaling yang terdampak pergerakan tanah.

Dalam masa tanggap darurat tersebut, perangkat daerah terkait diberikan kemudahan akses untuk melakukan penanganan bencana, termasuk dalam proses evakuasi korban, mobilisasi sumber daya manusia, peralatan, hingga pemenuhan kebutuhan logistik bagi warga terdampak.

1. Ratusan warga terdampak pergerakan tanah

IMG_1630.jpeg
Dampak pergerakan tanah di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sukabumi per Kamis (5/3/2026) pukul 17.00 WIB, ratusan warga terdampak bencana tersebut.

Di Desa Bantargadung, tepatnya di Kampung Cijambe RT 05/RW 07, tercatat sebanyak 112 kepala keluarga (367 jiwa) terdampak. Dari jumlah itu, 49 KK atau 160 jiwa mengungsi secara mandiri, sedangkan 63 KK atau 207 jiwa berada di pengungsian terpusat.

Kerusakan bangunan juga cukup signifikan, yakni 36 rumah rusak berat, 18 rumah rusak sedang, dan 20 rumah rusak ringan. Selain itu, satu jalan lingkungan serta satu pondok pesantren Haryadul Fallah turut terdampak.

Sementara itu di Desa Bojonggaling, pergerakan tanah berdampak pada 23 kepala keluarga atau 109 jiwa di beberapa kampung, yakni Cijagung, Cikananga, Babakansirna, dan Cijarian.

Dari jumlah tersebut, sebelas KK atau 52 jiwa mengungsi secara mandiri. Kerusakan yang tercatat meliputi delapan rumah rusak berat, tujuh rumah rusak sedang, dan delapan rumah rusak ringan.

2. Pemkab siapkan penanganan jangka pendek hingga relokasi rumah

IMG_1635.jpeg
Dampak pergerakan tanah di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman mengatakan pemerintah daerah telah menggerakkan sejumlah perangkat daerah untuk menangani dampak bencana tersebut.

“Penanganan jangka pendek telah kita lakukan. Termasuk menggerakkan semua pihak untuk menyediakan dapur umum, obat-obatan, hingga keperluan cuci dan mandi,” ujarnya dalam rapat koordinasi penanganan bencana di Kecamatan Bantargadung, Kamis (5/3/2026).

Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan bantuan uang sewa rumah bagi warga terdampak selama enam bulan ke depan.

“Kami siapkan bantuan uang sewa rumah untuk para korban bencana. Silakan camat untuk menyosialisasikan agar masyarakat terdampak bisa mencari kontrakan,” katanya.

3. Rencana hunian tetap bagi penyintas bencana

IMG_1633.jpeg
Kondisi penyintas bencana di tenda pengungsian (IDN Times/Siti Fatimah)

Untuk penanganan jangka panjang, Pemkab Sukabumi berencana menyiapkan lahan relokasi bagi warga yang rumahnya terdampak pergerakan tanah. Namun, proses tersebut masih memerlukan kajian terlebih dahulu sebelum pembangunan hunian dilakukan.

“Kami akan berusaha menyediakan hunian tetap (huntap) atau hunian sementara (huntara) bagi masyarakat yang terdampak bencana,” ungkap Ade.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak agar penanganan bencana berjalan cepat dan masyarakat terdampak bisa segera mendapatkan kepastian.

“Mari kita bergerak bersama. Tanpa kolaborasi, kita akan kerepotan,” katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More