Bocah Disabilitas di Bandung Barat Makan Daun, Luput dari Bansos

- Seorang bocah disabilitas bernama Muhammad Rizki di Bandung Barat viral karena kebiasaannya memakan daun, dipicu keterbatasan mental dan kondisi ekonomi keluarganya yang belum pernah menerima bantuan sosial.
- Pemerintah daerah melalui Dinsos KBB memperbaiki data kependudukan keluarga Rizki agar bisa masuk kategori penerima bansos serta menyiapkan rujukan rehabilitasi ke Balai Wiyataguna.
- Bupati Bandung Barat telah mengunjungi keluarga Rizki, memerintahkan pemeriksaan kesehatan dan memastikan anak tersebut akan disekolahkan di SLB serta mendapat pendampingan dari dinas terkait.
Bandung, IDN Times - Seorang bocah laki-laki penyandang disabilitas di Kabupaten Bandung Barat viral di media sosial karena memakan rumput dan dedaunan. Selain karena kebiasaan, orangtuanya tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah.
Bocah ini bernama Muhammad Rizki (11 tahun), warga Kampung Babakan Cianjur, RT 04/07 Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Lokasi rumah Rizki memang tidak begitu jauh dari pusat perkotaan.
Bocah yang akrab disapa Kiki tersebut diketahui merupakan penyandang disabilitas dengan gangguan mental dan tunawicara.
1. Kiki punya kebiasaan makan daun sejak usia dini

Kiki tinggal bersama ayahnya, Asep Setiawan (49 tahun), serta neneknya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Namun, orangtuanya membenarkan bahwa Kiki memang suka memakan rumput hingga dedaunan yang ada di sekitarnya.
"Betul anak saya Kiki punya kebiasaan memakan dedaunan, dari rumput sampai daun apa saja di sekitarnya. Tapi dia tahu mana yang beracun dan tidak," kata Asep dikutip Kamis (30/4/2026).
Video viral Kiki memakan dedaunan diambil saat bermain di sekitar lokasi pembakaran sampah yang tidak jauh dari rumah mereka. Asep pun tidak membantah kondisi itu salah satunya disebabkan karena kondisi ekonomi yang belum berkecukupan.
"Memang ada dua faktor. Pertama karena keterbatasan mentalnya, kedua karena faktor ekonomi," ujar dia.
Asep bercerita, kebiasaan Kiki memakan dedaunan sudah ada sejam usia empat tahun. Saat itu, mereka masih tinggal mengontrak di wilayah Bunisari, Gadobangkong, dan dirinya bekerja sebagai penjual sandal keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Meski kejadian awal sudah beberapa tahun lalu, ingatan Asep saat Kiki pertama memakan dedaunan masih melekat dan tidak bisa hilang. Saat itu, dia pulang berkeliling berjualan tanpa sempat sarapan, dan meninggalkan anaknya di dalam kontrakan untuk mencari makanan.
"Waktu saya balik bawa nasi dari orangtua, saya lihat Kiki lagi makan daun talas di dalam kamar. Ternyata dia bawa dari luar dan disimpan di sakunya," kata Asep.
2. Orangtua tidak bisa melarang

Dengan kondisi itu, Asep menganggap Kiki memakan daun karena tidak mampu mengungkapkan rasa lapar. Dia mengatakan, anaknya itu akan marah jika kebiasaannya dilarang secara langsung.
"Mungkin karena dia tidak bisa bicara kalau lapar, jadi makan daun. Kalau diambil suka marah," tuturnya.
Hingga akhirnya kebiasaan tersebut masih kerap dilakukan Kiki, meski Asep berupaya mencegahnya. Namun, Asep berujar sebagai orangtua dia tetap berusaha memberikan makanan yang layak dengan bantuan dari orangtuanya.
Paling mengagetkannya lagi, Asep dan keluarga ternyata belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun bantuan lainnya. Asep pun berharap adanya perhatian dari pemerintah agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan dan terapi yang layak.
Asep mengaku kesulitan untuk bekerja secara penuh karena harus merawat Kiki setiap hari, mulai dari memandikan, memberi makan, hingga mengawasi aktivitasnya. Sebab, dirinya kini hanya tinggal bersama sang nenek.
"Kalau tidak dijaga, dia bisa pergi dan tidak tahu jalan pulang," ucapnya.
Sementara, Ketua RT 04 setempat, Cecep Mulyana, menyebut tokoh di wilayahnya terus berupaya mendampingi keluarga tersebut agar bisa mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
"Saya mohon pemerintah turun tangan. Beri penanganan untuk anaknya juga ayahnya beri pekerjaan agar bisa memberikan penghidupan. Kami dari kewilayahan terus mendampingi, agar dapat bantuan, kami sedang usaha penataan administrasi kependudukan," ucap dia.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bandung Barat Idad Saadudin mengatakan, keluarga Kiki selama ini masuk dalam kategori desil enam, sehingga tidak masuk dalam prioritas penerima bansos, meski hidup dalam keadaan serba terbatas.
Saat ini Dinsos KBB tengah memperbaiki data kependudukan Kiki dengan memisahkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dari Kartu Keluarga (KK) ibunya dan memindahkannya ke KK ayah.
"NIK-nya akan kami ubah sesuai peruntukannya. Kemarin masih ikut NIK ibunya, (karena orangtuanya sudah bercerai) maka sekarang KK-nya harus dipisah dan untuk penyesuaian desil. Nah kami akan usulkan itu, agar masuk ke desil satu sampai lima," ujar dia.
Perbaikan data ini menjadi krusial, mengingat selama ini keluarga Kiki mengaku belum pernah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), meski faktanya, mereka masuk kategori rentan.
Dinsos juga menyiapkan intervensi lanjutan berupa rehabilitasi. Kiki direncanakan akan dirujuk ke Balai Rehabilitasi Sosial Wiyataguna untuk mendapatkan pembinaan sesuai kebutuhannya.
"Untuk pembinaan kami rekomendasikan ke Wiyataguna untuk rehabilitasi tunawicara dan intelektual yang lemah," kata dia.
3. Bupati sebut bukan berarti keluarga Kiki tidak mampu

Sedangkan, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail memastikan sudah mendatangi langsung kediaman Kiki dan keluarganya. Dia memastikan, Rizki memakan rumput karena telah menjadi kebiasaan dari kecil. Sedangkan, orangtuanya memastikan memang ada faktor dalam kondisi ekonomi yang serba pas-pasan.
"Jadi hari ini saya mengunjungi adik Rizki, bersama ayahnya Pak Asep. Berdasarkan keterangan keluarganya, memang Rizki sudah lama punya kebiasaan makan rumput, tujuh tahun lalu. Dan itu salah satunya karena pengaruh kondisi kesehatan mentalnya," kata dia.
Jeje beranggapan, kebiasaan Kiki memakan rumput bukan berarti keluarganya tak bisa memenuhi kebutuhan makannya. Namun Kiki memang tak suka makan nasi.
"Ya tadi obrolan sama keluarga juga bukan tidak diberi makanan normal, tapi memang suka enggak mau makan nasi. Sukanya makan mie," ujar Jeje.
Meski begitu, Jeje memerintahkan Dinas Kesehatan untuk memeriksa kondisi kesehatan Rizki. Kendati bocah itu terlihat baik-baik saja, namun pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh perlu dilakukan.
"Harus dicek kesehatannya, nanti ada pendampingan dari Dinkes karena dikhawatirkan ada bakteri, soalnya makan rumputnya kan langsung dari tanah. Kemudian nanti akan ada pendampingan dari Disduk dan Dinsos," kata Jeje.
Jeje pun berjanji akan memasukkan Kiki ke sekolah luar biasa (SLB) sesuai permintaan keluarga. Kemudian dilakukan penanganan untuk kondisi gangguan mental yang diidap bocah tersebut.
"Ya nanti kami akan sekolahkan, sekolahnya tentu ke SLB ya melihat pada kondisi Rizki. Untuk pembinaan kami rekomendasikan ke wiyataguna untuk rehabilitasi tuna wicara dan intelektual yang lemah," ujarnya.


















