Siswa dan Orang Tua di Bandung Sambut Baik Rencana Sekolah Tatap Muka

Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung belum mengizinkan sekolah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Meskipun, Wali Kota Bandung Oded M Danial telah mengeluarkan dan menandatangani Peraturan Wali Kota (Perwal) No 83/2021 tentang PPKM Level 3.
Dalam perwal tersebut dinyatakan kegiatan sekolah diperbolehkan melaksanakan kegiatan belajar tatap muka dengan syarat dan kapasitas ruang kelas dibatasi hanya 50 persen saja.
Munculnya Perwal baru ini tentu menjadi kabar gembira bagi siswa dan orang tua yang selama 1,5 tahun hanya belajar dari rumah.
Kinan Annisa Jose misalnya, siswi kelas 3 SMP Darul Hikam ini sangat senang mendengar sekolah bisa melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) meski terbatas. Belajar di sekolah sudah sangat dinanti Kinan karena selam ini merasa bosan dan kesulitan menangkap pelajaran dari guru ketika belajar dari rumah.
"Lebih enak belajar di sekolah. Kalau belajar online lebih susah. Kadang malu kalau mau bertanya pas kita ga ngerti," ujar Kinan ditemui saat ikut vaksinasi massal di Darul Hikam, Rabu (25/8/2021).
1. Senang bisa bertemu banyak teman

Menurutnya, sekolah tatap muka selain bisa lebih mudah menyerap pelajaran, juga bisa bertemu dengan teman sekelas yang selama ini tidak bisa dilakukan akibat pandemik COVID-19. Biasanya Kinan dan teman-temannya hanya berbincang lewat media sosial atau grup perbincangan lewat ponsel.
"Senang juga ketemu teman lagi. Walaupun kita tetap harus jaga jarak dan terapkan protokol kesehatan, tapi memang lebih enak belajar di sekolah," ungkap Kinan.
2. Tidak semua orang tua siap dampingi anak sekolah online setiap hari

Sementara itu, Susi Indriani salah satu orang tua siswa menuturkan, mendampingi anak untuk sekolah online tidak mudah. Meski kadang bisa bekerja dari rumah, tapi hal itu tidak serta merta memudahkannya menjaga anak mengikuti arahan ketika sekolah dari rumah.
Dengan adanya relaksasi sekolah tatap muka, Susi berharap ini bisa segera dilakukan agar anaknya bisa belajar bersama teman-temannya, dan tidak selalu berdiam di rumah.
"Semoga bisa segera dilaksanakan sekolah tatap muka ini," ungkap Susi.
3. Vaksinasi massal untuk pelajar digeber

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung pun mempercepat vaksinasi massal untuk pelajar khususnya 12 tahun ke atas. Pemberian vaksin diharap bisa meminimalisir penyebaran virus corona ketika PTM diselenggarakan bulan depan.
Salah satu titik vaksinasi massal ada di SMP Darul Hikam. Tercatat, pendaftar peserta vaksinasi lebih dari 1.200 orang yang dibagi dua hari menjadi 600 orang pada hari pertama dan 600 orang pada hari kedua. Dari target 600 peserta pada hari pertama ini, setidaknya 200-an siswa Darul Hikam ataupun siswa non-Darul Hikam turut divaksin.
Ketua Yayasan Darul Hikam Sodik Mudjahid mengatakan, melimpahnya antusias pendaftaran vaksinasi yang digelar. Pertama, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk meningkatkan imunitas. Kedua, masyarakat ingin segera lepas dan bebas dari serangan COVID-19 yang telah sangat mengganggu kehidupannya.
Pendaftar dan peserta vaksin ini selain keluarga besar Darul Hikam, yakni guru, siswa, dan jemaah, juga masyarakat luas. Menurut Sodik, kegiatan ini merupakan ikhtiar Darul Hikam dalam mendukung akselerasi vaksinasi yang tengah digalakkan pemerintah pusat, Pemprov Jabar, dan Pemkot Bandung.
Diharapkan Sodik, vaksinasi yang digelar Darul Hikam ini akan membantu mempercepat terbentuknya herd immunity (kekebalan kelompok) sehingga aktivitas masyarakat kembali normal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Meskipun sudah divaksin, Sodik menekankan, agar masyarakat tetap mematuhi protokol utama kesehatan, yakni memakai masker, dan menjaga jarak dan mencuci tangan.
Ketua Pelaksana Vaksinasi Darul Hikam, Chairul Basyar menyiapkan, sebanyak 10 petugas validasi data, 8 petugas pemeriksaan tekanan darah, 8 tenaga vaksinator, 8 pendamping vaksinator, 8 tenaga kesehatan, 16 petugas pencatatan dan validasi, 6 petugas keamanan, 6 orang protokoler. Para petugas kesehatan dan relawan tersebut berasal dari Yayasan Darul Hikam, Fakultas Kedokteran Unisba, Bandung Home Care, dan relawan Salman ITB.
Chairul menjelaskan, peserta vaksinasi dapat mengikuti alur pelayanan dengan baik, mulai dari pendaftaran dan validasi data, pemeriksaan tekanan darah, skrining dan vaksinasi, hingga pencatatan dan observasi. Jika dalam proses observasi selama, peserta vaksinasi tidak mengeluhkan gejala apa pun, peserta dipersilakan untuk pulang.


















