Pemprov Jabar Tak Lagi Dukung Operasional Masjid Raya Bandung

- Belum ada kejelasan dari Pemda
- Pemprov Jabar belum memberikan keputusan resmi terkait perubahan Kepgub sejak 2002.
- Kepastian tersebut penting agar operasional Masjid Raya Bandung bisa berjalan maksimal.
- Butuh dana hingga Rp200 juta per bulan
- Operasional Masjid Raya Bandung membutuhkan anggaran hingga Rp200 juta per bulan.
- Dana digunakan untuk perbaikan bangunan, gaji pegawai, air, dan listrik.
- Pemkot siap ramaikan Masjid Raya Bandung
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dipastikan tidak lagi memberikan bantuan operasional untuk Masjid Raya Bandung. Hal ini terjadi karena lahan masjid tersebut bukan merupakan aset milik Pemprov, melainkan tanah wakaf.
Ketua Nadzir Masjid Raya Bandung Roedy Wiranatakusumah mengatakan, sejak 2002 Pemprov mengeluarkan keputusan gubernur (Kepgub) Jawa Barat yang memutuskan mengganti masjid ini dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung. Melalui Kepgub ini pun Pemprov bisa mengeluarkan dana untuk menggaji sejumlah pegawai dan perbaikan bangunan.
Namun, setelah diketahui bahwa lahan ini sebenarnya bukan aset daerah, per Januari 2026 Pemprov Jabar tidak lagi memberikan bantuan dana untuk para pekerja yang berada di Masjid Raya Bandung.
"Per Januari ini kami hanya andalkan uang kencleng, donasi, atau kerja sama dengan pihak luar yang fokus untuk melanjutkan keberadaan masjid ini," kata Nadzir dalam konferensi pers, Selasa (6/1/2026).
1. Belum ada kejelasan dari Pemda

Dia menuturkan, meski sudah ada kepastian bahwa tidak ada dukungan dana, hingga saat ini belum ada keputusan dari Pemprov Jabar mengenai perubahan Kepgub yang sudah ada sejak 2002. Kepastian tersebut sebenarnya penting agar operasional Masjid Raya Bandung bisa berjalan secara maksimal meskipun mandiri tanpa bantuan dana Pemprov.
Roedy menuturkan, dia tidak mempermasalahkan ketika Masjid Raya Bandung harus mandiri dalam pencarian dana operasional. Meski demikian, sebagai salah satu fasilitas ibadah yang memiliki sejarah, alangkah baiknya ketika ada dana dari Pemda dalam membantu pendanaan.
"Karena masjid ini punya sejarah tinggi, bukan berarti masjid lain tidak ada sejarahnya. Tapi memang fasilitas ini berada di pusat kota dan menjadi tempat banyak orang dari berbagai daerah membasuh, bersalawat, dan beribadah di sini," ujarnya.
2. Butuh dana hingga Rp200 juta per bulan

Menurutnya, dalam operasional Masjid Raya Bandung anggaran yang dibutuhkan dalam sebulan bisa mencapai Rp200 juta yang dipakai untuk perbaikan bangunan, membayar gaji pegawai yang lebih dari 20 orang, air, hingga listrik. Nominal ini memang tidak kecil sehingga diharap ada bantuan dari berbagai pihak agar masjid ini tidak mati.
Di sisi lain, Roedy pun sangat berharap masyarakat yang datang ke masjid ini bisa membantu dalam bentuk sedekah berapapun besarannya.
"Ini merupakan bangunan warisan yang kondisinya harus diketahui publik, maka seluruh stakholder harus tahu sehingga ini jemaah istilahnya dipaksa agar jemaah harus bersedekah karena kami juga harus bayar listrik dan air," katanya.
3. Pemkot siap ramaikan Masjid Raya Bandung

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah mematangkan arah pengembangan Masjid Raya Bandung sebagai ruang ibadah yang aktif menghidupkan kegiatan seni budaya berbasis religi. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, penguatan isi dan aktivitas masjid akan menjadi prioritas utama sebelum berbicara tentang aspek fisik bangunan.
“Hal yang paling penting dari masjid itu adalah isinya dulu. Ruang fisiknya sudah sangat luas, 12.000 orang. Nah, bagaimana caranya energi 12.000 ini bisa betul-betul terasa sampai 120.000. Jadi kita mesti banyak membuat kegiatan-kegiatan budaya berbasis religi,” ujar Farhan usai menghadiri kegiatan Karsa Asih Hari Lahir R.A.A.H.M. Wiranatakusumah V di Masjid Raya Bandung, Minggu (23/11/2025).
Salah satu kegiatan yang akan kembali dihidupkan adalah festival bedug, yang disebut Farhan mulai jarang digelar di Kota Bandung. Ia akan berkomunikasi dengan Gubernur Banten untuk memperkaya konsepnya.
“Contohnya festival bedug. Itu sudah jarang di Bandung. Nanti ada Disbudpar akan bikin festival bedug di sini. Kami juga ngobrol dengan Pak Gubernur Banten karena salah satu bedug yang paling bagus se-Indonesia ada di Banten,” katanya.
Farhan menilai, pendekatan kebudayaan ini akan menjadi jiwa yang mengisi suasana khas Masjid Raya Bandung ke depan. “Percuma kami bicara fisik apabila jiwanya tidak ada. Kita isi dulu jiwanya,” ucapnya.
Sembari mempersiapkan program-program tersebut, Pemkot Bandung juga fokus mengoptimalkan konsep yang sudah ada, termasuk menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan.
Sementara, mengenai pengerjaan kawasan Alun-Alun Bandung, yang terhubung langsung dengan area masjid, Farhan berharap penyelesaiannya dapat dirampungkan sesuai target.
“Mudah-mudahan selesai. Mudah-mudahan kita bisa merayakan tahun baru di sana,” ujarnya.
Dengan penguatan fungsi budaya dan religius, Pemkot Bandung berharap Masjid Raya Bandung tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang berkegiatan yang menggugah, membangun nilai, dan memberi energi positif bagi masyarakat.

















