Minggu ke-3 WFH, Farhan: Solusi Pangkas Pengeluaran BBM ASN

- Pemkot Bandung melihat dampak nyata dari kebijakan WFH minggu ketiga, dengan penghematan BBM ASN mencapai sekitar Rp33,8 juta per hari berkat berkurangnya mobilitas pegawai.
- Wali Kota Farhan menegaskan WFH sebagai strategi efisiensi menyeluruh di tengah lonjakan biaya operasional, termasuk listrik dan pengangkutan sampah yang terdampak kenaikan harga solar non-subsidi.
- Pengawasan berbasis aplikasi lokasi meningkatkan disiplin ASN; pelanggaran turun dari 136 menjadi 16 kasus dalam dua minggu, menunjukkan efektivitas sistem kontrol selama penerapan WFH.
Bandung, IDN Times – Memasuki minggu ketiga pelaksanaan work from home (WFH), Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai melihat dampak konkret dari kebijakan tersebut. Tidak hanya dari sisi kedisiplinan pegawai, tetapi juga pada efisiensi anggaran, terutama dalam menekan pengeluaran bahan bakar minyak (BBM) aparatur sipil negara (ASN).
Wali Kota Bandung, M Farhan, menegaskan bahwa kebijakan WFH dirancang bukan sekadar sebagai pola kerja alternatif, melainkan bagian dari strategi besar untuk mengurangi beban operasional pemerintah. Salah satu fokus utama adalah menekan mobilitas harian pegawai yang selama ini menyumbang biaya cukup besar.
Di tengah meningkatnya harga energi dan kebutuhan efisiensi di berbagai sektor, Pemkot Bandung mencoba mengoptimalkan teknologi untuk menjaga kinerja ASN tetap produktif tanpa harus mengorbankan anggaran. Hasil awalnya pun mulai terlihat sejak pekan kedua pelaksanaan WFH.
1. WFH tekan mobilitas, hemat BBM hingga puluhan juta

Farhan mengungkapkan, pengurangan mobilitas ASN selama WFH berdampak langsung pada penghematan BBM harian. Berdasarkan data Pemkot Bandung, sekitar 1.354 ASN biasanya mengeluarkan rata-rata Rp25 ribu per hari untuk transportasi.
Jika dihitung secara keseluruhan, potensi penghematan dari kebijakan ini mencapai sekitar Rp33,8 juta per hari.
“Mobilitas pegawai kita tekan serendah mungkin untuk memastikan efisiensi operasional, termasuk konsumsi BBM,” ujar Farhan.
Ia menilai, langkah ini menjadi solusi rasional di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, sekaligus tetap menjaga efektivitas kerja ASN.
2. Efisiensi jadi strategi di tengah lonjakan biaya operasional

Lebih lanjut, Farhan menjelaskan bahwa WFH merupakan bagian dari upaya efisiensi yang lebih luas. Selain BBM, penghematan juga terjadi pada penggunaan listrik serta biaya operasional lain di lingkungan Pemkot Bandung.
Kondisi ini menjadi semakin penting mengingat adanya kenaikan signifikan pada biaya operasional layanan publik, salah satunya pengangkutan sampah. Saat ini, truk sampah menggunakan solar non-subsidi dengan harga yang melonjak dari sekitar Rp14 ribu menjadi Rp23 ribu per liter.
“Kenaikan ini membuat biaya pengangkutan sampah hampir dua kali lipat. Jadi kita harus mencari cara agar sektor lain bisa lebih efisien,” jelasnya.
3. Pengawasan aplikasi efektif tekan pelanggaran ASN

Di sisi lain, Kepala BKPSDM Kota Bandung, Evi Hendarin, memastikan bahwa penerapan WFH tetap diiringi dengan pengawasan ketat berbasis teknologi. Pemkot menggunakan aplikasi berbasis lokasi untuk memantau keberadaan ASN selama jam kerja.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kepatuhan yang signifikan. Pada minggu pertama, tercatat 136 ASN melanggar aturan karena keluar dari zona kerja. Namun, angka tersebut turun drastis menjadi hanya 16 ASN pada minggu kedua.
“Setiap pelanggaran kami konfirmasi ke atasan langsung. Jika tidak ada tugas atau izin resmi, maka akan dikenakan sanksi administratif,” ujar Evi.
Ia menegaskan, hingga minggu ketiga, pelaksanaan WFH berjalan semakin optimal. Produktivitas ASN tetap terjaga, sementara efisiensi anggaran, khususnya dari sektor BBM, mulai memberikan dampak nyata bagi Pemkot Bandung.


















