Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cerita Rasa Juara, dari Jualan Seblak kini Sukses Masuk Pasar Modern

Cerita Rasa Juara, dari Jualan Seblak kini Sukses Masuk Pasar Modern
UMKM camilan dari Kota Bandung, Rasa Juara, sukses menjual produk secara online dan offline. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Rasa Juara bermula dari dapur kecil di Bandung tahun 2015 dan kini sukses menembus lebih dari 5.000 titik distribusi, termasuk jaringan minimarket besar di seluruh Indonesia.
  • Pemanfaatan data e-commerce seperti Shopee menjadi kunci strategi Rasa Juara dalam validasi produk, pemetaan pasar, serta pengambilan keputusan berbasis data untuk ekspansi yang lebih efisien.
  • Dengan menggandeng UMKM sebagai pemasok dan menjaga standar kualitas ketat, Rasa Juara terus berinovasi menghadapi tantangan bahan baku sambil menargetkan ekspansi global membawa makanan Indonesia ke dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Dari dapur sederhana di sebuah ruko di kawasan Pasir Kaliki, Bandung, perjalanan Rasa Juara dimulai tanpa banyak rencana besar. Tahun 2015, Christ Abraham memanfaatkan lantai satu ruko yang sebelumnya tak terpakai. Di atasnya, bisnis software house berjalan seperti biasa. Sementara di bawah, dapur kecil mulai mengepul, menyajikan nasi goreng seharga Rp15 ribu untuk para pekerja kantoran di sekitar.

Konsep awalnya pun sederhana, menghadirkan berbagai jajanan khas seperti cireng rujak hingga nasi goreng dalam format food court. Bahkan, ide seblak yang kini jadi produk andalan sempat dipandang sebelah mata. Istrinya yang pertama kali mengenalkan makanan itu menyebutnya “makanan campur-campur”, membuat Christ sempat ragu.

“Kebetulan istri saya kenal seblak. Dia bilang, “Ini ada makanan ini sampah,” karena semua dicampur. Saya pertama lihat bingung ini makanan apa, kerupuk dibasahin. Ternyata setelah dicoba rasanya very rich. Dari situ kita coba masukin ke menu,” kata Christ ditemui di kantornya, Rabu (22/4/2206).

Perjalanan bisnis ini kemudian berlanjut saat Christ mengikuti program food startup di Surabaya pada 2018. Dari situ muncul ide membuat produk kemasan. Awalnya, kemasan sederhana dengan stiker seadanya justru menuai banyak kritik. Tapi dari fase itu, Rasa Juara mulai belajar bahwa membangun jenama  industri barang kebutuhan sehari-hari bukan sekadar jualan, melainkan soal kualitas, rasa, hingga komunikasi produk.

1. Sukses jangkau ribuan titik distribusi

WhatsApp Image 2026-04-24 at 06.31.01.jpeg
UMKM camilan dari Kota Bandung, Rasa Juara, sukses menjual produk secara online dan offline. IDN Times/Debbie Sutrisno

Perlahan tapi pasti, Rasa Juara berkembang dari bisnis rumahan menjadi jenama dengan distribusi luas. Kini, produknya sudah hadir di hampir seluruh pulau di Indonesia, bahkan menembus sekitar 5.000 titik offline.

Tak hanya itu, Rasa Juara juga berhasil masuk ke jaringan modern trade seperti minimarket besar. Produk seperti seblak dan cuanki menjadi “hero product” yang konsisten mendongkrak penjualan.

Menariknya, pertumbuhan bisnis ini justru semakin pesat setelah pandemi COVID-19. Saat banyak bisnis offline terpuruk, Rasa Juara justru menemukan momentum baru dengan mengombinasikan strategi online dan offline. Dalam empat tahun terakhir, Christ mengklaim bisnisnya tumbuh hampir dua kali lipat setiap tahun.

“Sekarang produksi kita di atas 10.000 karton per bulan. Satu karton isi 12. Itu mix, offline dan online dalam penjualannya. Penjualan kita sudah hampir ke seluruh daerah di Indonesia,” ungkap Christ.

2. Membaca data untuk perluas pasar

WhatsApp Image 2026-04-24 at 06.30.59 (1).jpeg
UMKM camilan dari Kota Bandung, Rasa Juara, sukses menjual produk secara online dan offline. IDN Times/Debbie Sutrisno

Salah satu kunci perkembangan Rasa Juara ada pada pemanfaatan data, khususnya dari e-commerce seperti Shopee. Bagi Christ, platform ini bukan sekadar tempat jualan, tapi alat validasi pasar.

Sebelum meluncurkan produk baru ke pasar luas, timnya selalu menguji terlebih dahulu di Shopee. Jika produk tersebut mendapat respons positif, barulah didorong ke distribusi offline. Sebaliknya, jika tidak perform, produk bisa langsung dihentikan tanpa kerugian besar.

Data yang tersedia juga sangat detail, mulai dari lokasi pembeli, usia, hingga pola review. Dari situ, Rasa Juara bisa memetakan pasar secara lebih presisi. Misalnya, ketika permintaan tinggi datang dari Bali atau Batam, mereka langsung membuka distribusi atau gudang di wilayah tersebut.

“Shopee bantu validasi market. Kita bisa lihat siapa yang beli, dari mana, umur berapa. Dari situ kita mapping (pemetaan). Misalnya Bali banyak yang beli, kita masuk minimarket di Bali. Batam banyak, kita buka gudang di Batam,” kata dia.

Tak hanya itu, data juga digunakan untuk menentukan positioning brand, desain kemasan, hingga strategi promosi seperti voucher dan membership. Semua keputusan dibuat berbasis data, bukan sekadar intuisi.

3. Inovasi produk dan tantangan bahan baku

WhatsApp Image 2026-04-24 at 06.31.00.jpeg
UMKM camilan dari Kota Bandung, Rasa Juara, sukses menjual produk secara online dan offline. IDN Times/Debbie Sutrisno

Di balik pertumbuhan produk, ada tantangan besar yang harus dihadapi, terutama dalam menjaga kualitas dan konsistensi bahan baku. Rasa Juara tidak hanya memproduksi sendiri, tetapi juga menggandeng sekitar 15 UMKM sebagai pemasok topping.

Namun, kerja sama ini tidak asal jalan. Setiap mitra harus melalui proses kurasi ketat, mulai dari survei hingga uji laboratorium. Bahkan, Rasa Juara juga melakukan pendampingan agar standar kualitas tetap terjaga.

Di sisi lain, dinamika global seperti kenaikan harga bahan baku juga menjadi tantangan tersendiri. Christ menyebut, kondisi ekonomi yang fluktuatif adalah hal yang pasti terjadi setiap tahun. Kuncinya adalah adaptasi dan kemampuan mencari celah di tengah kesulitan. Dengan persaingan produk juga semakin ketat, terutama di kategori makanan ringan, Rasa Juara memilih fokus pada diferensiasi, baik dari segi rasa, kemasan, maupun storytelling brand.

4. Target besar bawa makanan Indonesia ke level global

WhatsApp Image 2026-04-24 at 06.31.01 (1).jpeg
UMKM camilan dari Kota Bandung, Rasa Juara, sukses menjual produk secara online dan offline. IDN Times/Debbie Sutrisno

Ke depan, Rasa Juara tak ingin berhenti sebagai jenama makanan kemasan biasa. Christ memiliki visi besar untuk membawa makanan Indonesia ke pasar global, dengan konsep yang lebih terstruktur dan modern.

Salah satu rencana yang sedang dikembangkan adalah menghadirkan konsep store seperti minimarket, tapi berisi produk makanan khas Indonesia dari berbagai daerah, bukan hanya Jawa Barat, tapi seluruh nusantara.

“Kita lagi kembangkan konsep store, kayak FamilyMart tapi Indonesian food,” ungkap Christ.

Selain itu, Rasa Juara juga mulai menjajaki pasar internasional melalui e-commerce di Malaysia dan Filipina. Meski masih tahap eksplorasi, Christ melihat potensi besar, terutama karena tren kecintaan terhadap makanan lokal sedang meningkat.

“Kita sudah mulai eksplor lewat Shopee ke Malaysia dan Filipina. Waktu itu sempat diundang juga. Tapi jujur, untuk market sana kita masih belum bisa grab datanya secara maksimal. Masih tahap coba dulu,” kata dia.

Lebih dari sekadar produk, Rasa Juara juga ingin membangun “culture”. Melalui kemasan dan storytelling, mereka mencoba menghadirkan pengalaman, bukan hanya rasa. Target akhirnya jelas: menjadikan makanan Indonesia lebih accessible, higienis, dan punya standar rasa yang konsisten di mana pun.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More