Sky Digital Meluncur di Bandung, Usung Teknologi Hybrid Printing

- PT Putra Mutiara Jaya meluncurkan Sky Digital di Bandung sebagai inovasi baru di industri digital printing, menghadirkan efisiensi dan fleksibilitas produksi bagi pelaku usaha.
- Sky Digital mengusung teknologi hybrid dan UV printing yang memungkinkan cetak roll serta flat tanpa coating tambahan, sehingga menekan biaya operasional dan mempercepat proses produksi.
- Industri digital printing Indonesia menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku hingga 20 persen, namun tetap menunjukkan prospek positif dengan tren pasar yang mulai meningkat pasca-April.
Bandung, IDN Times – PT Putra Mutiara Jaya resmi meluncurkan produk terbarunya, Sky Digital, dalam sebuah acara di Bandung Convention Center, Selasa (21/4/2026). Peluncuran ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadirkan inovasi di industri digital printing yang terus berkembang di Indonesia.
Sekitar 150 pelaku industri turut diundang dalam acara tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung teknologi terbaru yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas produksi.
Kepala Putra Mutiara Jaya cabang Solo, Sutiyo, menyebut peluncuran ini bukan sekadar pengenalan produk, tetapi juga bentuk komitmen perusahaan dalam menjawab kebutuhan pasar yang semakin dinamis.
1. Teknologi hybrid jadi sorotan utama

Salah satu keunggulan utama Sky Digital adalah teknologi digital hybrid yang memungkinkan satu mesin memiliki dua fungsi sekaligus, yakni cetak roll dan cetak flat.
Menurut Sutiyo, inovasi ini memberikan efisiensi signifikan bagi pelaku usaha printing karena tidak perlu lagi menggunakan banyak mesin untuk kebutuhan berbeda.
“Hybrid ini memungkinkan satu mesin untuk mencetak dua fungsi sekaligus, yaitu cetak roll dan cetak flat,” ujarnya.
Dengan kemampuan tersebut, pelaku usaha dapat menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan produktivitas.
2. Lebih efisien dengan teknologi UV printing

Selain hybrid, Sky Digital juga mengandalkan teknologi UV printing yang membuat proses cetak menjadi lebih praktis.
Teknologi ini memungkinkan berbagai jenis bahan, baik flat maupun roll, dapat dicetak tanpa perlu coating tambahan.
“Tidak semua bahan harus menggunakan coating. Baik bahan flat maupun roll bisa digunakan tanpa perlakuan tambahan tertentu,” jelas Sutiyo.
Keunggulan ini dinilai mampu mempercepat proses produksi sekaligus mengurangi biaya bahan tambahan yang selama ini cukup membebani pelaku industri.
3. Industri printing hadapi tantangan dan peluang

Sutiyo mengungkapkan bahwa kondisi industri digital printing di Indonesia cukup beragam di setiap daerah.
Di Jawa Tengah, produksi stiker seperti stiker motor masih mendominasi. Sementara di Jakarta, segmen sign graphic mengalami penurunan, namun industri sublimasi justru meningkat. Adapun di Bandung, pertumbuhan dinilai relatif merata di berbagai segmen.
Ia juga menyoroti adanya pola musiman dalam industri ini, terutama setelah hari raya.
“Biasanya setelah hari raya terjadi penurunan, tetapi setelah April akan mulai naik kembali. Ini siklus tahunan,” katanya.
Di sisi lain, tantangan juga datang dari kenaikan harga bahan baku, khususnya plastik untuk stiker yang meningkat hingga 15–20 persen. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus lebih cermat dalam mengelola impor dan produksi.
Meski begitu, pihaknya tetap optimistis terhadap prospek industri digital printing ke depan.
“Saat ini sudah mulai terlihat adanya peningkatan pasar, dan mudah-mudahan terus naik hingga akhir tahun,” tutup Sutiyo.


















