Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Viral Bangunan Parkir Permanen di Atas Trotoar di Jalan Ambon Bandung

Viral Bangunan Parkir Permanen di Atas Trotoar di Jalan Ambon Bandung
Viral Bangunan Parkir Permanen Mejeng di Atas Trotoar di Jalan Ambon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Bangunan permanen di atas trotoar Jalan Ambon Bandung viral karena digunakan sebagai tempat parkir, padahal seharusnya area tersebut untuk pejalan kaki.
  • Satpol PP Kota Bandung menegaskan bangunan itu tidak berizin dan akan ditertibkan sesuai peraturan daerah jika pemilik tidak membongkarnya secara mandiri.
  • Pemkot Bandung terus merapikan bangunan dan lapak di atas trotoar dengan pendekatan dialogis, melanjutkan penataan setelah sukses menertibkan kawasan Cicadas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bandung, IDN Times - Sebuah bangunan permanen dibangun di atas trotoar di Jalan Ambon, Kota Bandung. Bangunan tersebut bahkan sempat viral setelah akun Instagram PRFM memperlihatkan adanya mobil pribadi yang terparkir di dalam bangunan tersebut.

Dari pantauan IDN Times, Minggu (14/6/2026), bangunan dengan tinggi lebih dari dua meter ini memang dibangun di atas tempat pejalan kaki. Bangunan berwarna putih ini pun di bagian atasnya ada toren untuk mengisi toilet yang berada di bagian belakang bangunan.

Namun, saat IDN Times mendatangi tempat ini tidak ada kendaraan yang terparkir. Salah seorang warga, Sandi, menuturkan bahwa bangunan ini sudah lama dan sering dijadikan tempat parkir kendaraan pengangkut sampah.

"Biasanya buat mobil sampah," kata dia.

Untuk kejelasan penggunaan bangunan tersebut, Sandi pun mengarahkan agar mendatangi perwakilan rukun warga yang memang membangun tempat tersebut.

1. Bangunannya tidak terawat

WhatsApp Image 2026-06-14 at 10.02.46 (1).jpeg
Viral Bangunan Parkir Permanen Mejeng di Atas Trotoar di Jalan Ambon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sekilas bangunan berukuran 3 x 4 meter ini kurang terawat. Di bagian dalam tidak ada barang berharga hanya ada sisa lemari lapuk yang sudah tidak dipakai.

Selain itu juga terlihat ada terpal berwarna biru yang tidak dipakai, sapu, pengki, hingga barang kecil lainnya. Sementara itu untuk toiletnya masih digunakan masyarakat termasuk pedagang sekitar.

2. Satpol PP akan temui pemilik bangunan

WhatsApp Image 2026-06-14 at 10.02.46 (2).jpeg
Viral Bangunan Parkir Permanen Mejeng di Atas Trotoar di Jalan Ambon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Bandung Bambang Sukardi memastikan bahwa bangunan tersebut tidak berizin dan memang tidak seharusnya berada di atas trotoar. Trotoar sudah selayaknya menjadi tempat pejalan kaki sehingga tidak bisa dipakai untuk aktivitas lainnya, termasuk mendirikan bangunan yang kemudian menghalangi pejalan.

"Insya Allah akan ditertibkan karena melanggar peraturan daerah, nanti kami akan update laporannya," kata Bambang.

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Masyarakat dan Anggota (PMA) Satpol PP Kota Bandung, Chris, menyebut bahwa pihaknya akan mendatangi pemilik untuk meminta agar bangunan tersebut bisa dihancurkan. Jika mereka tidak menyanggupi maka dari Satpol PP yang bakal bertindak.

3. Pemkot gencar rapihkan bangunan di atas trotoar

WhatsApp Image 2026-06-14 at 10.02.45.jpeg
Viral Bangunan Parkir Permanen Mejeng di Atas Trotoar di Jalan Ambon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sebelumnya, Pemerintah Kota Bandung memastikan penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cicadas berjalan dengan humanis serta mengedepankan dialog panjang bersama para pedagang.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut penertiban PKL di Cicadas rampung pada Selasa (19/5) dini hari dan selanjutnya Pemkot Bandung akan melanjutkan penataan serupa ke ruas Jalan Cipadung.

“Bahkan, pembongkaran lapak dilakukan secara mandiri oleh para PKL setelah tercapai kesepakatan bersama. Alhamdulillah, semua berjalan lancar,” kata Farhan di Bandung, Kamis.

Menurutnya, pendekatan komunikasi menjadi kunci utama keberhasilan penataan kawasan Cicadas. Sejak awal memilih jalan dialog dibanding langkah represif agar proses berjalan kondusif dan tetap menjaga kepentingan masyarakat kecil.

“Kalau mau menggusur orang itu harus ngobrol dulu. Memang prosesnya lama, tapi hasilnya lebih baik,” ujarnya.

Ia mengungkapkan dirinya secara langsung memantau perkembangan penataan kawasan tersebut hampir setiap pekan.

“Setelah pembongkaran selesai, fokus berikutnya adalah pembenahan infrastruktur dasar, terutama sistem drainase yang selama ini terganggu, karena tertutup bangunan dan lapak PKL,” kata dia.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More