Melihat Mesin RDF di Gedung Sate, Sampah Disulap Jadi Briket dan Kompos

- Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengembangkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di Gedung Sate untuk mengubah sampah menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara.
- Hasil uji coba RDF di Gedung Sate berhasil mengolah hingga 1 ton sampah per hari menjadi 300–400 kilogram briket, yang diminati industri tekstil di Rancaekek hingga Cimahi.
- Teknologi RDF ini ramah lingkungan tanpa insinerator dan akan diperluas ke seluruh kelurahan Bandung melalui kerja sama pembiayaan antara pemerintah provinsi dan kota.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya membantu menyelesaikan persoalan sampah di wilayah Kota Bandung. Salah satu yang akan diterapkan yaitu pengelolan sampah dengan metode Refuse Derived Fuel (RDF).
RDF merupakan teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara jenis briket. Rencana tersebut disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat Pemkot Bandung mengirimkan surat permohonan untuk status darurat sampah pada Selasa (2/6/2026).
1. Mesin akan diberikan ke beberapa kelurahan di Kota Bandung

Menurut Dedi permohonan status darurat tersebut harus dipertimbangkan terlebih dahulu karena ditakutkan berdampak buruk ke masyarakat. Alih-alih menerapkan status tersebut, dia menyarankan Pemkot Bandung turut menyelesaikan sampah di skala kelurahan dengan pengelolaan RDF seperti di Gedung Sate.
"Uji cobanya sudah berhasil dilakukan di Gedung Sate, ada alat yang merubah sampah jadi bahan bakar, bahan bakarnya bisa jadi pengganti batu bara," ucapnya.
Menurutnya, hasil pengolahan sampah tersebut mulai dilirik sejumlah industri di Jawa Barat sebagai sumber energi pengganti. "Di beberapa industri di Jawa Barat bahasa sederhananya briket, berhasil diuji coba di Gedung Sate kapasitas lima ton sehari," katanya.
Lebih lanjut, Dedi mengatakan teknologi serupa akan diperluas ke berbagai daerah, termasuk Kota Bandung. Namun, pelaksanaannya membutuhkan kerja sama pembiayaan antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.
"Nanti akan diterapkan di seluruh kelurahan dan nanti saya akan ajak bicara wali kota untuk menentukan pembiayaannya karena gak mungkin ditanggung provinsi semua," kata dia.
2. Sampah dikelola menjadi briket untuk campuran baru bara industri

Sementara, pengelolan sampah di Gedung Sate sebelumnya sempat dihentikan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, karena menggunakan mesin insinerator. Saat ini sudah diubah, tidak ada lagi cerobong asap di area Gedung Sate yang sebelumnya digunakan untuk membakar sampah.
IDN Times mencoba membuktikan contoh pengelolaan sampah di Gedung Sate yang akan digunakan kelurahan di wilayah Kota Bandung. Berdasarkan pemantauan IDN Times di lokasi, pengelolaan sampah ini berbeda dari sebelumnya yang masih mengeluarkan asap residu.
Luas tempat pengelolaan sampah ini berada di ruangan dengan lusa 12x12 meter. Di dalamnya terdapat sekitar tiga hingga empat mesin yang digunakan untuk pencacah sampah, hingga mesin pemanas sampah menjadi briket.
Penelaah Teknis Kebijakan Biro Perekonomian Setda Jawa Barat, Ermawan Dalisaputra mengatakan, mesin pengolahan sampah ini tidak hanya mengolah limbah organik dan anorganik di kawasan Gedung Sate, tetapi juga dari Lapangan Gasibu dan GOR Saparua.
"Kami olah sampah organik dan anorganik dari Gedung Sate, Gasibu, dan Saparua menjadi briket. Kami salurkan briket ke off taker, sasarannya industri tekstil di Rancaekek hingga Cimahi," kata Ermawan di Gedung Sate, dikutip Sabtu (13/6/2026).
3. Sampah juga diolah menjadi pupuk kompos

Selama satu hari operasional mesin RDF, bisa mengolah sampah satu ton sampah dari kapasitas maksimum lima ton. Adapun dari satu ton volume sampah, mesin konversi sanggup memproduksi sekitar 300-400 kilogram briket siap pakai per hari.
Selain menjadi briket, petugas juga mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan pemeliharaan taman di Gedung Sate.
"Sekitar 300 sampai 400 kilogram briket dari timbulan sampah 1 ton per hari. Kami juga mengolah sampah menjadi kompos untuk kebutuhan taman," ujarnya.
4. Tidak ada asap residu hasil pembakaran

Ermawan menambahkan, industri bisa memanfaatkan briket ini melalui metode co-firing atau pencampuran bauran energi antara briket dan batu bara. Dia mengklaim metode ini bisa menekan emisi karbon, menghemat biaya operasional bahan bakar industri, serta menghasilkan sirkular ekonomi.
"Co firing di industri, jadi bauran negeri antara briket ini dengan batu bara hingga menjadi sumber daya potensial dan sirkular ekonomi," ucapnya.
Ermawan memastikan, sistem pengolahan briket ini ramah lingkungan, karena tidak menggunakan mesin insinerator. Proses kerjanya mengandalkan pemanas termal listrik di atas 500 Watt tanpa melalui mekanisme pembakaran terbuka di area hulu.
"Tidak ada pembakaran, enggak ada asap. Mesinnya terdiri dari pencacah dan pencetak dengan termal. Sudah uji laboratorium bahwa ini aman dari dioksin dan furan," tuturnya.
Pemprov Jawa Barat bersama Politeknik Manufaktur (Polman) Bandung berencana memproduksi massal mesin pencacah dan pencetak briket.


















