Nuansa Klasik Jalan Braga (https://www.jabarprov.go.id/berita/nuansa-klasik-jalan-braga-pengalaman-tak-terlupakan-di-kota-bandung-13772)
Mengenai okupansi, Iendra mengakui memang ada penurunan jika dibandingkan pada 2024 yang mana di tahun tersebut hingga 2025 penurunan sampai 2,5 persen. Sementara pada tahun ini penurunan terjadi hingga 1,4 persen.
Selama libur lebaran, Iendra mengatakan, para wisatawan banyak datang ke wilayah Bandung, Bogor serta Kabupaten Pangandaran yang mana banyak objek wisata pantai di daerah tersebut.
"Lebaran masih pertama adalah Metro Bandung sudah pasti, yang kedua adalah Bogor yang ketiga bukan kawasan tetapi titik satu kabupaten itu Pangandaran," kata dia.
Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat sebelumnya turut mengeluhkan kondisi okupansi hotel selama libur Lebaran 2026, karena tingkat penghunian kamar hotel dari 17-25 Maret 2025 mayoritas masih di bawah 50 persen.
Seperti di Kota Bandung, dari 19 persen di awal meningkat hingga 52 persen saja. Cirebon dari 25 persen menjadi 70 persen, Bogor yang awalnya 18 persen menjadi 48 persen.
Di wilayah Sukabumi pada 17 Maret 2026 ada 22 persen keterisian kamar hotel, di akhir masa libur lebaran 25 Maret 2026 menjadi 39 persen. Kabupaten Pangandaran dari 10 persen menjadi 62 persen, dan Karawang 68 persen naik 73 persen, wilayah Garut dari 33 persen naik 65 persen.
Ketua BPD PHRI Jabar, Dodi Ahmad Sofiandi mengatakan, peningkatan okupansi memang terjadi namun tidak signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini terjadi di beberapa daerah di Jawa Barat.
"Cirebon, Bogor, Bandung, Sukabumi. Nah, itu perwakilan-perwakilan di wilayah itu, (peningkatan) tidak jauh berbeda (dengan sebelumnya) yang di daerah lain lebih sepi dari itu," ujar Dodi saat dikonfirmasi, Sabtu (28/3/2026).
Berdasarkan data yang didapatkan PHRI Jabar, mayoritas hotel wilayah Jawa Barat memang belum mencatat adanya peningkatan keterisian kamar selama 17-25 Maret 2026. Termasuk Bandung yang digadang-gadang akan mendapatkan banyak wisatawan ternyata tidak berdampak signifikan ke sektor perhotelan.
"Semuanya hampir sama; tidak berbeda jauh. Bandung saja yang dianggap wilayah ramainya, kami lihat di tanggal 24, 25, 27, itu ini kesannya turun lagi," katanya.
Disinggung mengenai faktor yang membuat wisatawan datang namun tidak menginap, menurut Dodi dilandasi oleh bermacam penyebab salah satunya kondisi ekonomi pemerintah saat ini.
"Saya tidak bisa ngomong kan dari dulu akibat daripada efisiensi pemerintah. Kan semua sekarang daerah dipotong, efisiensi 40 persen. Kemudian semua kementerian dipotong. Nah, akibat dipotong itu ya akhirnya sekarang terjadi penurunan," kata dia.