Kota Sukabumi Waspada Krisis Air-Karhutla, 3 Wilayah Masuk Zona Rawan

- BPBD Kota Sukabumi memetakan tiga kecamatan rawan kekeringan dan karhutla selama musim kemarau, yaitu Cibeureum, Lembursitu, dan Baros berdasarkan catatan bencana tahun-tahun sebelumnya.
- Kelurahan Cikundul di Kecamatan Lembursitu tercatat paling parah terdampak krisis air bersih akibat penyusutan debit sumur, sehingga warga sering membutuhkan pasokan air tambahan dari BPBD.
- Status Siaga Bencana Kekeringan berlaku 1 Juli–30 September 2026 dengan antisipasi karhutla di area semak belukar; BPBD menyiapkan dropping air serta imbauan hemat air dan cegah kebakaran.
Sukabumi, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi mulai memetakan wilayah yang masuk zona rawan bencana selama musim kemarau. Sedikitnya, ada tiga kecamatan di Kota Sukabumi yang kini masuk radar pengawasan ketat akibat potensi krisis air bersih dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Langkah antisipasi ini diambil berdasarkan rekam jejak atau historis bencana kekeringan yang melanda Kota Sukabumi pada tahun-tahun sebelumnya.
1. Tiga kecamatan di Sukabumi masuk radar rawan kekeringan

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Sukabumi, Suhendar, mengungkapkan ada tiga wilayah yang menjadi fokus perhatian utama jajarannya pada musim kemarau tahun ini.
"Untuk tahun-tahun yang lalu, dampak yang signifikan terjadi kekeringan itu berada di Kecamatan Cibeureum, Kecamatan Lembursitu, dan Kecamatan Baros," ujar Suhendar di kantornya, Rabu (8/7/2026).
2. Kelurahan Cikundul jadi wilayah terdampak paling parah

Dari tiga kecamatan rawan tersebut, BPBD mencatat ada satu kelurahan yang memiliki catatan dampak paling parah dari tahun ke tahun. Wilayah tersebut kerap membutuhkan pasokan air bersih dalam jumlah besar.
"Yang paling besar itu ada di Kelurahan Cikundul (Kecamatan Lembursitu). Sampai kami banyak mendistribusikan air ke daerah Cikundul tersebut," tutur Suhendar.
Penyusutan debit air sumur menjadi biang kerok utama warga di wilayah-wilayah tersebut kelimpungan saat kemarau melanda. Sumur yang menjadi sumber utama air bersih mengering hingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan domestik.
"Masyarakat itu kekurangan air bersih. Yang mana sumur-sumur yang ada di masyarakat debit airnya berkurang sehingga mereka kekurangan untuk istilahnya masak, minum, seperti itu," jelasnya.
3. Waspada kebakaran semak belukar selama musim kering

Bukan cuma soal krisis air, status Siaga Bencana Kekeringan yang ditetapkan sejak 1 Juli hingga 30 September 2026 ini juga mencakup kewaspadaan karhutla. Walau minim kawasan hutan lebat, semak belukar yang mengering di Sukabumi dinilai sangat rawan memicu kobaran api akibat kelalaian manusia.
"Dampak kekeringan juga tidak hanya krisis air, tetapi juga di sini ada karhutla. Kalau di kita tidak ada hutan ya, tetapi kalau semak belukar ada. Kejadian-kejadian tahun yang lalu juga kami pernah mengalami seperti itu," kata Suhendar.
Sebagai langkah penanganan, BPBD Kota Sukabumi telah menyiapkan skema dropping air bersih dengan menggandeng PDAM, PMI, hingga relawan kebencanaan. Warga yang terdampak diimbau segera melapor secara berjenjang melalui pihak kelurahan.
Selain itu, masyarakat juga diminta bijak menggunakan air dan tidak memicu kebakaran. "Masyarakat diimbau agar pada waktu musim kering itu, misalkan tidak membuang puntung (rokok) sembarangan ke semak belukar," pungkasnya.


















