Kisah Disabilitas di Majalengka: Ditolak SMA, Raih Medali Peparda

Majalengka, IDN Times- Lahir dengan kondisi disabilitas fisik, tidak lantas membuat Mumu Muhari berkecil hati. Bahkan, dengan keterbatasan yang dimilikinya, warga Desa Enggalwangi, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka itu sukses meraih prestasi gemilang.
Sebagai penyandang tunadaksa, Mumu berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu atlet paralimpik yang sukses meraih medali pada Pekan Paralimpyc Daerah (Peparda) 2022 lalu.
"Alhamdulillah, dapat perunggu pada Peparda 2022 kemarin, atas nama Majalengka," kata Mumu, usai mengikuti workshop jurnalistik di Sanggar Debu Jalanan, di Desa Anggarwati, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Minggu (6/9/2024)
1. Sekolah sampai MTs, sempat ditolak saat masuk SMA

Rasa percaya diri (pede) Mumu di tengah kondisi keterbatasan fisik yang dialaminya, dibuktikan dengan pendidikan yang ditempuhnya. Dalam hal pendidikan, Mumu sempat belajar di sekolah formal, hingga jenjang MTs (Madrasah Tsanawiyah/ setingkat SLTP).
"Sampai MTs, di MTsN Karangasem (Kecamatan) Leuwimunding," jelas dia.
Semangat Mumu dalam belajar sejatinya masih besar. Setelah lulus dari MTs, dia sudah berniat melanjutkan sekolah ke tingkat SLTA. Namun, ada penolakan yang dialami Mumu.
"Mau lanjut, ditolak. Disuruh masuk SLB, karena kondisi saya begini. Ya udah, saya gak mau lanjut sekolah. Otak saya kan normal," papar dia, dengan nada menyesal atas penolakan yang pernah dialaminya.
2. Debut Peparda, langsung raih medali perunggu

Sempat tersinggung dengan penolakan salah satu SMA yang ada, menjadi salah satu motivasi Mumu untuk membuktikan bahwa dia pun bisa melakukan sesuatu yang berharga. 2022 lalu, Mumuh bergabung dalam kontingen Majalengka pada Peparda Jawa Barat.
"Baru pertama tahun 2022 di Bekasi, Peparda, dapat medali perunggu. Itu pertama kali, alhamdulillah. Mungkin Peparda nanti, ikut lagi. Pepardanya kan 2026 ya," kata pria berusia 26 tahun itu.
Mumu mengaku, renang sejatinya bukan olahraga kesukaannya. Alhasil, saat memulai latihan, Mumu mengaku mengalami kesulitan.
"Awalnya mah sulit, tapi lama-kelamaan enak lah. Ada beberapa gaya juga, seperti kupu, bebas. Kalau saya mah gaya bebas. Saya awalnya mah, senengnya badminton, sepakbola," jelas dia.
3. Tidak pernah merasa minder, tetap optimistis

Perasaan minder dengan kondisi yang dialaminya, seakan-akan tidak ada dalam rumus Mumu. Dia mengaku selama ini merasa biasa saat beraktivitas.
"Gak (minder). Jadi anggapnya saya itu normal aja. Mau jalan sama siapapun, ua saya mah normal gitu. Gak ada kata minder atau malu," ungkap dia.
"Tetap semangat. Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah," lanjut dia.
Aktivitas sehari-hari Mumu sendiri saat ini, lebih banyak di rumah, membantu orang tua. "Bantu-bantu ibu. Kan ibu dagang di rumah. Jadi ya bantu-bantu," jelas dia.
Di luar itu, Mumu juga punya perhatian kepada dunia media sosial (medsos). Alhasil, dia mulai mencoba sedikit-sedikit belajar video dan fotografi.
"Tertarik sih. Makanya, sekarang ikutan workshop jurnalistik. Pengin bisa bikin video atau foto," jelas dia penuh semangat.
Sementara itu, pada Minggu (6/9/2024), Sanggar Debu Jalanan menggelar seminar untuk literasi dini dan workshop jurnalistik. Dalam kegiatan itu, diberikan juga beasiswa kepada sejumlah peserta, termasuk Mumu.


















