Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bandung Jadi Puncak Soccer for Equality, Gaungkan Kesetaraan Gender

Bandung Jadi Puncak Soccer for Equality, Gaungkan Kesetaraan Gender
Bandung Jadi Puncak Soccer for Equality, Gaungkan Kesetaraan Gender-Hak Anak. IDN Times/Debbi Sutrisno
Intinya Sih
  • Turnamen nasional Soccer for Equality 2026 digelar di lima kota dan mencapai final di Bandung, melibatkan 173 tim termasuk 32 tim putri usia 10–12 tahun untuk menggaungkan kesetaraan gender.
  • Program ini menekankan pemberdayaan anak perempuan melalui sepak bola, pelatihan kepemimpinan, serta edukasi kesehatan dan solidaritas bagi anak-anak NTT yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
  • Peserta turnamen merasakan manfaat seperti disiplin, percaya diri, dan semangat kebersamaan; ajang ini juga menjadi sarana mengajak masyarakat mendukung hak pendidikan anak perempuan lewat olahraga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Sepak bola tak lagi hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga media untuk mengampanyekan kesetaraan gender dan hak anak. Hal itu terlihat dalam turnamen nasional Soccer for Equality 2026 yang mencapai babak final di Kota Bandung.

Turnamen yang digagas Plan Indonesia bersama SalingJaga dari Kitabisa ini diikuti 173 tim dari berbagai daerah. Menariknya, sebanyak 32 tim merupakan tim sepak bola putri usia 10-12 tahun. Melalui kompetisi ini, penyelenggara ingin mematahkan anggapan bahwa sepak bola hanya untuk laki-laki sekaligus menggalang solidaritas bagi pemenuhan hak pendidikan anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Sepak bola adalah ruang yang setara. Di lapangan tidak ada batasan siapa yang boleh bermimpi atau menunjukkan kemampuan," kata Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti ditemui di Bandung, Minggu (19/7/2026).

1. Kota ini dipilih karena antusiasme sepak bolanya tinggi

IMG_20260719_143647.jpg
Bandung Jadi Puncak Soccer for Equality, Gaungkan Kesetaraan Gender-Hak Anak. IDN Times/Debbi Sutrisno

Soccer for Equality tahun ini digelar di lima kota, yakni Jabodetabek, Malang, Balikpapan, Makassar, dan ditutup dengan babak final di Bandung. Jumlah peserta juga meningkat dibanding penyelenggaraan tahun lalu yang hanya berlangsung di dua kota.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti mengatakan, pemilihan Bandung sebagai lokasi final bukan tanpa alasan. Kota ini dinilai memiliki budaya sepak bola yang kuat sehingga diharapkan mampu menarik lebih banyak partisipasi masyarakat terhadap kampanye kesetaraan melalui olahraga.

"Kalau bicara sepak bola, Bandung punya animo yang sangat besar. Kami juga memiliki beberapa kerja sama jangka panjang dengan komunitas dan pihak-pihak di dunia sepak bola, sehingga Bandung menjadi tempat yang tepat untuk menutup rangkaian turnamen ini," ujar Dini.

Menurut dia, meningkatnya jumlah peserta menjadi sinyal bahwa semakin banyak anak-anak, termasuk perempuan, yang mulai melihat sepak bola sebagai ruang untuk berkembang, bukan sekadar olahraga kompetitif.

2. Dorong stigma negatif terhadap pesepak bola putri

IMG_20260719_143723.jpg
Bandung Jadi Puncak Soccer for Equality, Gaungkan Kesetaraan Gender-Hak Anak. IDN Times/Debbi Sutrisno

Dini menegaskan, Soccer for Equality tidak hanya berfokus pada pertandingan. Di balik turnamen ini terdapat misi membangun kepemimpinan, solidaritas, hingga keberanian anak perempuan untuk menembus stigma bahwa sepak bola hanya diperuntukkan bagi laki-laki.

Program ini juga dikaitkan dengan pendampingan yang dilakukan Plan Indonesia di NTT. Di daerah tersebut, anak-anak perempuan mendapat pelatihan sepak bola yang dibarengi edukasi mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan perundungan, hingga penguatan kepemimpinan.

"Norma bahwa sepak bola hanya untuk anak laki-laki ingin kami ubah. Anak perempuan juga punya hak yang sama untuk bermain, berkembang, dan memimpin," katanya.

Selain itu, peserta turnamen juga dikenalkan dengan kondisi pendidikan anak-anak di NTT. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di provinsi tersebut pada 2024 baru mencapai sekitar 8,38 tahun, masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 9,22 tahun.

Melalui turnamen ini, para peserta diharapkan memahami bahwa masih banyak anak Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan kemudian tumbuh rasa solidaritas untuk membantu mereka.

3. Peserta mengaku belajar disiplin dan percaya diri lewat sepak bola

IMG-20260719-WA0115.jpg
Bandung Jadi Puncak Soccer for Equality, Gaungkan Kesetaraan Gender-Hak Anak. IDN Times/Debbi Sutrisno

Semangat kesetaraan juga dirasakan langsung para peserta. Salah satunya Naquita, pemain tim putri Akademi Persib yang telah bermain sepak bola sejak masih duduk di taman kanak-kanak.

Siswi kelas 5 SD Pelita Bandung itu mengaku menyukai sepak bola karena penuh tantangan. Baginya, turnamen seperti Soccer for Equality bukan hanya soal menjadi juara, tetapi juga kesempatan bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah.

"Senang banget ikut di sini karena dapat teman baru dan tim bisa berjuang sampai juara," ujar Naquita.

Menurutnya, sepak bola juga mengajarkan disiplin. Saat memasuki lapangan, seluruh pemain harus fokus dan tidak lagi bermain-main demi memberikan penampilan terbaik bagi tim.

Sementara itu, VP Crowdfunding Kitabisa sekaligus perwakilan SalingJaga/Beyond The Game, Marsudi Wijaya, mengatakan turnamen ini menjadi cara mengajak masyarakat terlibat dalam gerakan sosial melalui olahraga.

"Kami percaya perubahan besar dimulai dari aksi bersama. Lewat semangat gotong royong melalui sepak bola, kami ingin membuka kesempatan yang lebih adil bagi anak-anak perempuan di NTT untuk memperoleh hak pendidikan," kata Marsudi.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Barat

See More