Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Melukis Tanpa Batas, Cara Pelajar Difabel Bandung Bercerita Lewat Warna

Melukis Tanpa Batas, Cara Pelajar Difabel Bandung Bercerita Lewat Warna
Siswa Difabel lomba melukis di Polrestabes Bandung. IDN Times/Istimewa
Intinya Sih
  • Lomba melukis difabel di Polrestabes Bandung menghadirkan ruang ekspresi bagi pelajar SLB untuk menunjukkan bakat tanpa batas fisik maupun sensorik.
  • Dari 35 SLB, hanya 10 peserta hadir dengan persiapan matang hingga dua hari sebelumnya demi menampilkan karya terbaik mereka.
  • Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian Polri dalam menjunjung kesetaraan dan membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal keterbatasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Deretan kanvas putih berjajar di salah satu ruangan Polrestabes Bandung, Jumat (17/7/2026). Di hadapan kanvas itu, para pelajar dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bandung tampak serius memainkan kuas dan mencampurkan warna. Nyaris tak terdengar percakapan, yang ada hanya sapuan cat yang perlahan membentuk cerita di setiap lukisan.

Bagi mereka, lomba melukis bukan sekadar adu kemampuan. Setiap goresan menjadi cara untuk mengekspresikan diri, menunjukkan bahwa keterbatasan fisik maupun sensorik tidak pernah membatasi kreativitas. Kesempatan itulah yang coba dihadirkan Polrestabes Bandung melalui Lomba Melukis Difabel.

"Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Polri dalam menjunjung kesetaraan serta menjalankan amanat undang-undang agar kita bersama-sama menjaga kebersamaan tanpa memandang kondisi fisik," ujar Wakapolrestabes Bandung AKBP Dedi Wahyudi.

1. Memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya

IMG-20260717-WA0019.jpg
Siswa Difabel lomba melukis di Polrestabes Bandung. IDN Times/Istimewa

Menurut Dedi, lomba tersebut merupakan bagian dari upaya Polri untuk menghadirkan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas. Semua orang, katanya, memiliki hak yang sama untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya.

Ia menyebut kegiatan ini juga menjadi ikhtiar Kapolri agar masyarakat difabel memiliki lebih banyak kesempatan untuk berprestasi. "Oleh karena itu, lomba ini menjadi salah satu ikhtiar Bapak Kapolri agar masyarakat difabel juga memiliki kesempatan untuk berkarya dan berprestasi dengan baik," katanya.

2. Peserta menyiapkan lukisan hingga dua hari sebelumnya

IMG-20260717-WA0023.jpg
Siswa Difabel lomba melukis di Polrestabes Bandung. IDN Times/Istimewa

Antusiasme peserta terlihat dari persiapan yang mereka lakukan. Dari 35 SLB di Kota Bandung, terdapat 15 peserta yang sempat mendaftar mengikuti lomba. Namun, lima di antaranya berhalangan hadir sehingga kompetisi diikuti oleh 10 peserta.

Meski jumlah peserta berkurang, kualitas karya yang ditampilkan tetap memikat. Dedi mengatakan sebagian peserta bahkan telah menyiapkan konsep lukisan mereka sejak satu hingga dua hari sebelum perlombaan agar dapat menghasilkan karya terbaik saat dinilai.

3. Membuktikan kreativitas tidak mengenal batas fisik

Dok. Mainology
Seorang anak tampak antusias mengikuti aktivitas melukis tatakan gelas (painting coaster) dalam rangkaian acara Mainology di Mall Pesona Square, Depok.

Para peserta yang mengikuti lomba berasal dari penyandang disabilitas sensorik maupun disabilitas fisik. Perbedaan kondisi tidak menjadi penghalang untuk menuangkan ide ke atas kanvas dengan cara masing-masing.

Bagi Dedi, karya-karya yang dihasilkan menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak mengenal batas. Kesempatan yang sama untuk berkarya dan berprestasi perlu terus dibuka, sehingga penyandang disabilitas dapat menunjukkan potensi yang mereka miliki di tengah masyarakat.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Barat

See More