Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ketika Begal Menjadi Wajah Lain Kota Bandung, Rasa Aman Warga Hilang

Ketika Begal Menjadi Wajah Lain Kota Bandung, Rasa Aman Warga Hilang
( Ilustrasi senjata tajam) IDN Times/Istimewa
Intinya Sih
  • Maraknya aksi begal di Bandung membuat warga resah dan mengubah kebiasaan, terutama pekerja malam yang kini lebih waspada serta membatasi aktivitas di luar rumah.
  • Video kasus begal yang viral di media sosial memperkuat persepsi publik bahwa ancaman kriminalitas meningkat, meski data resmi belum tentu menunjukkan lonjakan signifikan.
  • Wali Kota Bandung menegaskan fokus utama pemerintah adalah memulihkan rasa aman warga melalui peningkatan patroli, perbaikan penerangan jalan, dan penguatan solidaritas Warga Jaga Warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times – Kota Bandung selama ini dikenal sebagai kota wisata, kuliner, dan ruang kreatif. Namun dalam beberapa pekan terakhir, wajah yang lebih sering muncul di linimasa media sosial justru berbeda. Bukan soal destinasi baru atau agenda budaya, melainkan rentetan aksi begal yang membuat warga semakin waswas beraktivitas di jalan.

Hampir setiap hari, publik disuguhi informasi tentang perampasan sepeda motor yang dilakukan pelaku secara individu maupun berkelompok. Situasi ini membuat sebagian warga kembali mengaitkan Bandung dengan julukan lama yang sempat viral beberapa tahun lalu: Gotham City.

Julukan satir tersebut merujuk pada kota fiksi dalam film fiksi "Batman" yang identik dengan tingginya angka kriminalitas. Kini, ketika kasus begal kembali mencuat, julukan itu kembali beredar di ruang publik.

Dari informasi terbaru saja di media sosial, terdapat seorang diduga pengendara ojek online (ojol) yang motornya dirampas ketika berada di salah satu gang di Kota Bandung. Tak hanya itu, ada juga begal di kawasan Gedebage yang melancarkan aksinya berhasil diringkus oleh warga.

1. Ketakutan mulai mengubah kebiasaan warga

WhatsApp Image 2026-07-14 at 12.39.17 PM.jpeg
Polisi Kejar Begal Samurai yang Rampas Motor di Flyover Kopo. IDN Times/Istimewa

Rasa aman menjadi sesuatu yang semakin mahal bagi sebagian warga Bandung. Bukan hanya mereka yang beraktivitas hingga larut malam, tetapi juga pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup di jalanan.

Salah satunya Afip, pengemudi ojek online yang kini mengaku lebih waspada saat menerima pesanan malam hari. Baginya, ancaman menjadi korban begal bukan lagi sekadar cerita yang dilihat di media sosial.

"Ada takutnya juga sekarang makin banyak kejadian begal. Ya Alhamdulillah sampai sekarang saya masih aman, cuman takut aja kena kan ga ada yang tahu ke depannya," kata Afip, Senin (20/7/2026).

Kekhawatiran serupa dirasakan Reza, pekerja swasta yang rutin pulang malam dari tempat kerjanya. Jika dulu masih menyempatkan berkumpul bersama teman setelah bekerja, kini ia memilih langsung pulang untuk mengurangi risiko.

"Kalau sekarang mah nongkrong bentar langsung pulang. Pokoknya jangan kemaleman lah pulangnya," ujar dia.

Perubahan kebiasaan ini menunjukkan satu hal penting: dampak kriminalitas tidak hanya diukur dari jumlah kasus, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat karena rasa takut.

2. Kasus begal terus muncul dan viral di media sosial

IMG_20260612_111027.jpg
Viral Geng Motor Bawa Sajam di Pasupati, Polisi Amankan Empat Terduga. IDN Times/Istimewa

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kasus begal menjadi perbincangan publik setelah videonya beredar luas di media sosial.

Salah satunya dugaan aksi perampasan motor terhadap seorang pengemudi ojek online di sebuah gang di Kota Bandung. Kasus lain terjadi di kawasan Gedebage, di mana pelaku begal berhasil ditangkap warga setelah menjalankan aksinya.

Deretan kasus tersebut menambah daftar panjang laporan kriminalitas jalanan yang belakangan ramai dibahas masyarakat.

Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial kini menjadi ruang pelaporan informal warga. Setiap kejadian cepat menyebar, membentuk persepsi bahwa ancaman begal ada di berbagai sudut kota.

Terlepas dari data resmi yang menunjukkan tren kriminalitas, banyak warga menilai yang mereka lihat setiap hari di ponsel menjadi realitas yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

3. Pemkot mengakui masalah utama bukan statistik, tetapi rasa aman

IMG-20250909-WA0005.jpg
Kegiatan siskamling di Kota Badung. Dok/Diskominfo

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku akan segera menggelar rapat khusus bersama Kapolrestabes Bandung menyusul maraknya aksi begal yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Farhan, berdasarkan paparan kepolisian, angka kriminalitas di Kota Bandung sebenarnya mengalami penurunan. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan yang harus segera dijawab pemerintah bukan sekadar statistik.

"Secara statistik, sebetulnya kalau dari paparan Pak Kapolres, tingkat kriminalitas di Kota Bandung sudah jauh menurun. Cuma sekarang masalahnya bukan masalah angka statistik, tapi masalah rasa aman. Masyarakat merasa aman atau tidak," kata Farhan.

Ia menyebut kepolisian telah bekerja keras melakukan patroli, tetapi masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana. Karena itu, Pemkot Bandung akan membahas dukungan operasional yang dapat diberikan kepada aparat keamanan.

Selain itu, Farhan juga menyoroti minimnya penerangan jalan yang selama ini menjadi salah satu keluhan warga. Menurutnya, perbaikan dan pemasangan penerangan jalan umum (PJU) akan dipercepat melalui penyesuaian anggaran.

"Kalau gelap, saya akui kita memang sedang mengolah anggaran sedemikian rupa agar bisa segera terang benderang kembali. Memang agak lambat, mohon maaf," ujarnya.

Farhan juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali semangat program Warga Jaga Warga sebagai bentuk solidaritas sosial untuk menjaga lingkungan.

Namun, bagi banyak warga, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar memperbaiki lampu jalan atau menambah patroli. Yang dipertaruhkan adalah bagaimana Bandung bisa kembali dikenal karena prestasi, kreativitas, dan pariwisatanya, bukan karena video-video begal yang terus memenuhi linimasa.

Sebab ketika warga mulai membatasi aktivitas malam, memilih buru-buru pulang, dan merasa tidak aman di kotanya sendiri, maka yang sedang dipertanyakan bukan hanya keamanan jalanan, melainkan identitas Kota Bandung itu sendiri.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Barat

See More