Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kebutuhan Hewan Kurban di Cirebon Diprediksi Capai 16.000 Ekor

Kebutuhan Hewan Kurban di Cirebon Diprediksi Capai 16.000 Ekor
Ilustrasi sapi kurban (dok.istimewa)
Intinya Sih
  • Pemerintah Kabupaten Cirebon memprediksi kebutuhan hewan kurban Iduladha 2026 mencapai sekitar 16.000 ekor, dengan pemeriksaan kesehatan sudah dimulai sejak awal Mei di berbagai lokasi penjualan.
  • Dinas Pertanian memperketat pengawasan melalui pemeriksaan antemortem dan postmortem untuk memastikan hewan bebas penyakit serta menjaga keamanan pangan bagi masyarakat.
  • Tingginya permintaan hewan kurban mendorong peningkatan aktivitas ekonomi peternakan, sementara hewan yang lolos pemeriksaan akan diberi Sertifikat Kelayakan Kesehatan Hewan Kurban sebagai jaminan kualitas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Cirebon memperkirakan kebutuhan hewan kurban pada Iduladha 2026 mencapai 16.000 ekor. Jumlah tersebut berkaca pada tingginya aktivitas pemotongan hewan kurban pada tahun sebelumnya yang melampaui target awal pemeriksaan kesehatan hewan.

Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mulai mengintensifkan pemeriksaan kesehatan hewan kurban sejak awal Mei 2026.

Hingga pekan pertama Mei, sebanyak 500 ekor sapi dan kambing telah diperiksa di sejumlah peternakan dan lokasi penjualan hewan kurban, termasuk di wilayah Kaliwadas, Kecamatan Sumber.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Denny Nugraha, mengatakan kebutuhan hewan kurban tahun ini diperkirakan tetap tinggi seiring meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Iduladha.

“Tahun ini target awal pemeriksaan sekitar 5.000 ekor. Namun kalau melihat pengalaman tahun lalu, realisasi pemeriksaan bisa mencapai 16.000 ekor hewan kurban,” kata Denny, Kamis (7/5/2026).

Menurut dia, lonjakan jumlah pemeriksaan tersebut menjadi indikator tingginya kebutuhan dan transaksi hewan kurban di Kabupaten Cirebon.

Pemerintah daerah pun memperketat pengawasan untuk memastikan hewan yang beredar dalam kondisi sehat dan aman dikonsumsi masyarakat.

1. Pemeriksaan diperketat sejak awal Mei

Kambing-kambing yang dipelihara untuk jadi hewan kurban. (freepik.com/aleksandarlittlewolf)
Kambing-kambing yang dipelihara untuk jadi hewan kurban. (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Denny menjelaskan, pemeriksaan dilakukan melalui dua tahapan, yakni antemortem dan postmortem. Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum penyembelihan untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat, tidak cacat, serta bebas dari penyakit menular.

Sementara itu, pemeriksaan postmortem dilakukan setelah penyembelihan guna memastikan kualitas daging layak konsumsi dan tidak ditemukan indikasi penyakit pada organ hewan.

“Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon sudah menyiapkan sosialisasi antemortem dan postmortem kepada petugas lapangan. Kami ingin memastikan hewan yang dipotong benar-benar sehat,” ujarnya.

Tim kesehatan hewan disebar ke berbagai titik, mulai dari peternakan, pasar hewan, hingga lapak penjualan hewan kurban musiman yang mulai bermunculan di sejumlah ruas jalan utama Kabupaten Cirebon.

Pengawasan tersebut juga dilakukan untuk mengantisipasi peredaran hewan yang terindikasi penyakit menular, termasuk penyakit mulut dan kuku (PMK) maupun penyakit kulit pada ternak.

2. Aktivitas ekonomi peternakan meningkat

Ilustrasi domba (unsplash.com/Qamma Farm)
Ilustrasi domba (unsplash.com/Qamma Farm)

Tingginya kebutuhan hewan kurban dinilai turut mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di sektor peternakan. Menjelang Iduladha, transaksi penjualan sapi dan kambing mulai meningkat dibandingkan bulan-bulan biasa.

Menurut Denny, perputaran ekonomi dari penjualan hewan kurban setiap tahun selalu mengalami kenaikan, terutama karena Kabupaten Cirebon menjadi salah satu daerah tujuan distribusi ternak dari berbagai wilayah di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Lonjakan pemeriksaan dari target 5.000 ekor menjadi realisasi sekitar 16.000 ekor tahun lalu menunjukkan aktivitas jual beli hewan kurban di Kabupaten Cirebon sangat tinggi,” katanya.

Selain pedagang lokal, penjualan hewan kurban juga melibatkan peternak dari luar daerah yang memasok sapi dan kambing ke sejumlah titik penjualan musiman.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus meningkatkan pengawasan kesehatan hewan agar distribusi ternak tetap memenuhi standar keamanan pangan.

3. Hewan sehat diberi sertifikat

Ilustrasi domba (unsplash.com/Qamma Farm)
Ilustrasi domba (unsplash.com/Qamma Farm)

Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon memastikan setiap hewan yang lolos pemeriksaan kesehatan akan diberikan Sertifikat Kelayakan Kesehatan Hewan Kurban (SKKHK).

Sertifikat itu menjadi penanda bahwa hewan telah memenuhi standar kesehatan dan aman dikonsumsi.

“Sapi-sapi yang sehat biasanya kami berikan sertifikat kelayakan atau SKKHK. Ini penting sebagai jaminan kepada masyarakat bahwa hewan yang dibeli sudah memenuhi standar kesehatan,” ujar Denny.

Selain pemeriksaan, pemerintah daerah juga memberikan edukasi kepada panitia kurban dan petugas pemotongan terkait tata cara penyembelihan hingga penanganan daging setelah pemotongan.

Dinas Pertanian memperkirakan jumlah pemeriksaan akan terus meningkat mendekati Iduladha seiring bertambahnya hewan kurban yang masuk ke Kabupaten Cirebon.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More