Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kecelakaan Jadi Panggilan Terbanyak 119 Bandung, Jalanan Kian Rawan

Kecelakaan Jadi Panggilan Terbanyak 119 Bandung, Jalanan Kian Rawan
Tim PSC Kota Bandung mengevakuasi pasien. (Dok.Dinkes Kota Bandung)
Intinya Sih
  • Kecelakaan lalu lintas mendominasi panggilan darurat 119 di Bandung, dengan rata-rata tiga hingga lima laporan setiap hari dan ratusan korban tercatat sepanjang 2025.
  • PSC Kota Bandung menerima hampir 600 panggilan darurat per bulan, mayoritas terkait kecelakaan, sementara armada terbatas harus menjaga respons cepat di tengah tingginya beban kerja.
  • Jalan sempit, kemacetan, dan jarak markas PSC menjadi tantangan utama penanganan insiden, mendorong rencana penambahan markas baru untuk mempercepat layanan ke wilayah selatan Bandung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Kecelakaan lalu lintas masih menjadi penyumbang panggilan darurat terbanyak ke layanan 119 Kota Bandung sepanjang Januari hingga Mei 2026. Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat, hampir tidak ada hari tanpa laporan kecelakaan di jalan, menjadikan insiden lalu lintas sebagai kasus paling dominan yang ditangani tim ambulans kota.

Kepala Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kota Bandung, Eka Anugrah, mengatakan kecelakaan lalu lintas masih menjadi alarm harian di Kota Bandung. Dalam sehari, petugas PSC nyaris selalu menerima laporan insiden di jalan, mulai dari tabrakan ringan hingga kecelakaan berat yang membutuhkan evakuasi cepat.

“Setiap hari di Kota Bandung itu nyaris tidak ada hari tanpa kecelakaan lalu lintas,” kata Eka.

Menurut dia, dari seluruh panggilan emergensi yang masuk ke PSC, kecelakaan lalu lintas konsisten menjadi laporan terbanyak, melampaui kasus serangan jantung maupun stroke. Dalam sehari, PSC sedikitnya menerima tiga hingga lima panggilan kecelakaan dari berbagai titik di Kota Bandung.

“Minimal tiga sampai lima panggilan per hari,” ujarnya.

1. Kecelakaan masih jadi kasus darurat nomor satu di Bandung

WhatsApp Image 2026-05-06 at 14.52.01.jpeg
Eka Anugrah,S.Kep.,M.Tr.A.P Kepala Public Safety Center Dinkes Kota Bandung. (IDN Times/Yogi Pasha)

Eka mengatakan, kecelakaan lalu lintas masih menjadi kasus yang paling sering memicu respons darurat PSC. Dominasi kasus ini membuat ambulans Kota Bandung lebih sering bergerak untuk penanganan korban kecelakaan dibandingkan kasus medis lain.

Menurut dia, tingginya angka kecelakaan menunjukkan jalanan Kota Bandung belum cukup aman, baik dari sisi perilaku berkendara, kepadatan lalu lintas, maupun disiplin pengguna jalan.

Data Satlantas Polrestabes Bandung menunjukkan, sepanjang 1 Januari hingga 14 Juli 2025 terjadi 309 kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung. Dari jumlah itu, 56 orang meninggal dunia, 59 orang mengalami luka berat, dan 375 lainnya luka ringan. Kerugian material akibat ratusan kecelakaan itu mencapai Rp697,5 juta.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa kecelakaan di Kota Bandung bukan sekadar insiden harian, tetapi sudah menjadi tekanan serius bagi sistem kegawatdaruratan kota.

2. Laporan darurat hampir tembus 600 panggilan per bulan

Proses evakuasi korban oleh petugas kedaruratan. Dok. CC 112 Surabaya.
Proses evakuasi korban oleh petugas kedaruratan. Dok. CC 112 Surabaya.

PSC Kota Bandung mencatat, rata-rata ada sekitar 20 panggilan darurat yang masuk setiap hari melalui jalur 119, WhatsApp PSC, maupun nomor darurat 112. Jika diakumulasi, jumlahnya nyaris menyentuh 600 panggilan setiap bulan.

“Dalam satu bulan itu hampir tembus 600 panggilan,” kata Eka.

Dari total tersebut, kecelakaan lalu lintas menjadi laporan paling dominan. Setelah itu, kasus terbanyak berikutnya adalah serangan jantung dan stroke.

Beban ini membuat PSC harus menjaga respons cepat di tengah keterbatasan armada. Saat ini PSC Kota Bandung mengoperasikan 15 unit ambulans mobil, 6 ambulans motor, dan didukung 53 personel yang siaga 24 jam.

Dengan kapasitas itu, PSC rata-rata masih mampu menangani empat panggilan sekaligus dalam waktu bersamaan. Namun jika panggilan masuk melebihi kapasitas, tim harus berkolaborasi dengan rumah sakit, puskesmas, hingga relawan ambulans.

3. Jalan sempit dan macet masih jadi tantangan utama

ilustrasi mobil ambulans (unsplash.com/Mehan Taukder)
ilustrasi mobil ambulans (unsplash.com/Mehan Taukder)

Meski jumlah laporan tinggi, tantangan terbesar PSC bukan hanya volume panggilan, tetapi akses menuju lokasi kejadian. Eka mengatakan, kemacetan dan jalan sempit masih menjadi hambatan utama yang kerap memperlambat respons petugas.

“Kadang gang itu tidak ada di GPS,” ujarnya.

Kondisi itu paling sering terjadi di kawasan padat penduduk dengan akses jalan sempit, terutama di permukiman yang tidak bisa dijangkau ambulans mobil. Dalam situasi seperti ini, PSC kerap mengandalkan ambulans motor agar petugas bisa lebih cepat menembus titik kejadian.

Selain itu, tantangan juga datang dari wilayah selatan Bandung seperti Kopo dan Leuwipanjang yang dinilai masih terlalu jauh dari jangkauan markas utama PSC. Saat ini PSC baru memiliki tiga titik markas, yakni di Jalan Bapak Husen (pusat), Kawaluyaan, dan Summarecon.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Bandung kini tengah menyiapkan tambahan satu markas baru untuk mempercepat jangkauan layanan ke wilayah selatan yang selama ini kerap terkendala waktu tempuh.

4. Pelanggaran masih tinggi, kecelakaan terus berulang

ilustrasi kondisi lalu lintas tidak teratur akibat pengemudi menerobos lampu merah (pexels.com/Pew Nguyen)
ilustrasi kondisi lalu lintas tidak teratur akibat pengemudi menerobos lampu merah (pexels.com/Pew Nguyen)

Tingginya angka kecelakaan di Bandung juga berjalan seiring dengan masih tingginya pelanggaran lalu lintas. Sepanjang Operasi Zebra Lodaya 2025, Polrestabes Bandung mencatat 1.041 pelanggaran lalu lintas dalam 14 hari operasi. Mayoritas pelanggaran dilakukan pengendara roda dua, terutama karena melawan arus dan tidak menggunakan helm.

Pelanggaran semacam ini dinilai menjadi salah satu penyumbang tingginya angka kecelakaan harian di Kota Bandung, terutama pada pengendara motor yang masih mendominasi korban di lapangan.

Kondisi lalu lintas Kota Bandung yang makin padat juga memperbesar risiko kecelakaan. Saat libur panjang Imlek 2026 misalnya, lebih dari 1,5 juta kendaraan tercatat masuk ke Kota Bandung hanya dalam tiga hari. Lonjakan volume kendaraan itu membuat tingkat kepadatan dan risiko insiden ikut meningkat.

Dengan kombinasi tingginya pelanggaran, kepadatan jalan, dan akses perkotaan yang kompleks, kecelakaan lalu lintas diperkirakan masih akan menjadi beban utama layanan darurat Kota Bandung sepanjang 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More