Layanan Darurat Terganggu, 200 Panggilan Iseng Masuk ke 119 Bandung

- PSC Dinas Kesehatan Bandung mencatat sekitar 200 panggilan iseng masuk ke layanan darurat 119 selama April, mengganggu proses verifikasi dan memperlambat respons petugas.
- Panggilan palsu menyita waktu operator dan berpotensi menunda penanganan pasien kritis seperti korban kecelakaan, serangan jantung, atau stroke yang membutuhkan bantuan cepat.
- Dinas Kesehatan Bandung mengimbau warga berhenti menggunakan nomor darurat untuk bercanda dan menjaga jalur komunikasi 119 serta 112 agar tetap lancar bagi situasi kegawatdaruratan.
Bandung, IDN Times - Layanan kegawatdaruratan 119 Kota Bandung masih dibayangi tingginya panggilan palsu dari masyarakat. Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat, telepon iseng masih menjadi salah satu gangguan paling serius dalam operasional layanan darurat karena berpotensi menghambat penanganan pasien yang benar-benar membutuhkan bantuan cepat.
Kepala Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kota Bandung Eka Anugrah mengatakan, panggilan palsu ke layanan 119 masih rutin masuk hampir setiap hari. Meski terlihat sepele, telepon iseng dinilai menjadi gangguan serius karena operator tetap harus memeriksa setiap panggilan yang masuk sebelum memastikan apakah laporan tersebut valid atau tidak.
“Bulan April saya mencatat ada kisaran 200 panggilan iseng,” kata Eka.
Menurut dia, bentuk panggilan palsu yang masuk cukup beragam. Mulai dari telepon tanpa suara, suara cekikikan, percakapan tidak jelas, hingga penelepon yang sengaja diam setelah sambungan diterima operator.
Kondisi itu membuat operator tetap harus melakukan verifikasi manual sebelum panggilan bisa dinyatakan palsu. Akibatnya, waktu respons dan jalur komunikasi untuk warga yang benar-benar membutuhkan bantuan bisa ikut tertahan.
1. Sehari ada 20 panggilan palsu

Eka mengatakan, panggilan iseng saat ini masih mengambil porsi 10 hingga 15 persen dari total laporan yang masuk ke layanan 119 Kota Bandung. Angka itu dinilai cukup besar mengingat jalur 119 seharusnya diprioritaskan sepenuhnya untuk kondisi darurat.
“Itu 10 sampai 15 persen lah,” ujarnya.
Dalam sehari, PSC Kota Bandung rata-rata menerima sekitar 20 panggilan kegawatdaruratan. Jika dikalkulasikan, berarti ada dua hingga tiga panggilan iseng yang tetap harus dilayani operator setiap hari.
Sekilas angka itu terlihat kecil. Namun dalam sistem layanan darurat, satu panggilan palsu tetap memakan waktu karena operator tidak bisa langsung menutup sambungan tanpa verifikasi.
Artinya, di tengah laporan kecelakaan, serangan jantung, stroke, atau pasien kritis lain, operator masih harus membuang waktu untuk menyaring panggilan yang seharusnya tidak pernah masuk.
2. Telepon iseng bisa hambat pasien yang benar-benar butuh bantuan
Menurut Eka, persoalan panggilan palsu bukan semata soal mengganggu operator. Dampak paling berbahaya justru terjadi ketika jalur komunikasi tertahan saat ada warga lain yang sedang benar-benar membutuhkan ambulans.
“Kalau layanan ini digunakan untuk iseng, kasihan nanti pada saat yang bersamaan ada kasus emergensi, justru akan tertahan,” katanya.
Ia menjelaskan, layanan 119 bukan sekadar nomor telepon biasa. Jalur itu menjadi pintu pertama untuk menghubungkan warga dengan ambulans, petugas medis, hingga keputusan penanganan cepat di lapangan.
Karena itu, ketika satu jalur sibuk dipakai telepon iseng, ada risiko laporan darurat lain terlambat masuk atau terlambat direspons.
Dalam situasi kegawatdaruratan, keterlambatan hitungan menit bisa sangat menentukan kondisi pasien. Pada kasus serangan jantung, stroke, atau kecelakaan berat, keterlambatan respons bisa memperbesar risiko kecacatan hingga kematian.
PSC menilai, telepon iseng bukan sekadar candaan, tetapi bentuk gangguan yang bisa berdampak langsung pada keselamatan orang lain.
3. Minta warga berhenti iseng dan pakai nomor darurat dengan benar

Dinas Kesehatan Kota Bandung meminta masyarakat lebih bijak menggunakan nomor darurat 119 maupun 112. Eka menegaskan, dua nomor itu disiapkan khusus untuk kondisi kegawatdaruratan, bukan untuk uji coba, bercanda, atau sekadar memastikan sambungan aktif.
“Ini layanan kegawatdaruratan, jangan dipakai untuk iseng,” ujarnya.
Menurut dia, kedisiplinan warga menjadi bagian penting dari rantai layanan darurat. Secepat apa pun ambulans bergerak, sistem tetap bisa terganggu jika jalur komunikasi di hulu sudah tersumbat oleh panggilan palsu.
Karena itu, PSC meminta masyarakat mulai memahami bahwa nomor darurat bukan sekadar layanan publik biasa, melainkan jalur prioritas penyelamatan yang harus dijaga bersama.
Bagi PSC, kesadaran warga untuk menggunakan layanan darurat secara benar sama pentingnya dengan kecepatan ambulans menuju lokasi. Sebab dalam situasi darurat, satu sambungan telepon yang dipakai untuk bercanda bisa berarti satu kesempatan hidup yang tertunda bagi orang lain.

















