Kabupaten Bandung Masih Dikepung Banjir, Puluhan Ribu Warga Terdampak

- Hujan deras dan luapan Sungai Citarum menyebabkan banjir di Kabupaten Bandung, merendam ribuan rumah di sembilan kecamatan serta disertai angin kencang yang merusak sejumlah bangunan.
- Kecamatan Dayeuhkolot menjadi wilayah paling parah terdampak dengan lebih dari seribu rumah terendam dan akses jalan utama terganggu akibat ketinggian air mencapai 140 sentimeter.
- Ratusan warga mengungsi ke tempat aman, sementara BPBD dan tim gabungan terus menyalurkan bantuan logistik serta melakukan pencarian korban tenggelam di kawasan Baleendah.
Bandung, IDN Times - Hujan deras yang terjadi di kawasan Bandung Raya dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir di sejumlah daerah khususnya Kabupaten Bandung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mencatat cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir berdampak pada sedikitnya sembilan kecamatan di wilayah tersebut.
BPBD juga mencatatan, selain banjir, angin kencang juga menyebabkan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah meliputi Dayeuhkolot, Bojongsoang, Baleendah, serta kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung. Salah satu penyebab banjir adalah luapan Sungai Citarum yang masih merendam ribuan rumah warga di tiga desa dan satu kelurahan yang ada di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung hingga Selasa (14/4/2026).
Kepungan banjir yang berasal dari Sungai Citarum yang meluap ini sudah terjadi sejak Jumat (10/4/2026) kemarin itu di antaranya menerjang permukiman warga di Desa Dayeuhkolot, Citereup, Cangkuang Wetan dan Kelurahan Pasawahan. Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot misalnya, menjadi wilayah terparah terdampak banjir dengan ketinggian air mulai dari 20 hingga terdama 150 centimeter.
1. Pemkab pastikan bantuan terus dikirim

Bupati Dadang menjelaskan ada 13 kecamatan di Kabupaten Bandung yang terdampak banjir dan angin puting beliung. Kecamatan yang terdampak banjir, yakni Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek, Katapang, dan termasuk Margahayu.
"Kemudian kecamatan yang terkena angin puting beliung, yakni Rancaekek, Arjasari, dan juga Katapang, Dayeuhkolot, Baleendah, dan termasuk di Kertasari dan Pacet," tuturnya saat meninjau lokasi banjir di Kampung Sapan Desa Bojongemas Kecamatan Solokanjeruk.
Selain daerah longsor, katanya, di Kecamatan Pacet dan Kertasari yang sebelumnya di kawasan itu ada banjir bandang setelah turun hujan deras. Saat ini Pemkab telah melakukan asesmen berapa jumlah rumah yang terdampak angin puting beliung, termasuk rumah yang mengalami kerusakan akibat tanggul aliran sungai yang jebol di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Margahayu, Rancaekek dan Solokanjeruk.
"Pemkab Bandung tidak tinggal diam dalam penanganan rumah yang terdampak angin puting beliung," kata dia melalui siaran pers.
Pemkab Bandung berusaha untuk mengoptimalkan pemahaman bencana banjir di Kabupaten Bandung, di antaranya melakukan pelaporan ke Balai Besar Wilayah Sungai Citarum atau BBWSC. Terkait tanggul sungai yang jebol kemudian berdampak ke permukiman warga yang memungkinkan segera diperbaiki dengan anggaran daerah bisa langsung dikerjakan.
"Termasuk melakukan pelaporan ke Kementerian Pekerjaan Umum RI (PURI) dan Gubernur Jawa Barat," katanya.
2. Dayeuhkolot paling terdampak parah

Wilayah terdampak paling luas berada di Kecamatan Dayeuhkolot. Di Desa Citeureup saja, banjir merendam 1.069 rumah dengan 2.419 kepala keluarga. Ketinggian air di sejumlah RW bahkan mencapai 110 cm.
Sementara di Desa Dayeuhkolot, air juga merendam permukiman warga dengan ketinggian hingga 140 cm di beberapa titik. Akses jalan utama pun terganggu, bahkan beberapa ruas tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Selain itu, banjir juga meluas ke Desa Cangkuang Wetan dan Kelurahan Pasawahan dengan ketinggian air mencapai 100 cm di sejumlah titik.
3. Banyak kebutuhan warga mendesak meningkat

Akibat banjir, ratusan warga terpaksa mengungsi. Di Desa Citeureup tercatat 104 kepala keluarga atau 327 jiwa mengungsi ke sejumlah titik seperti masjid dan rumah warga. Sementara di Desa Dayeuhkolot, sebanyak 35 kepala keluarga (85 jiwa) juga harus meninggalkan rumah mereka dan tinggal di shelter darurat.
BPBD menyebutkan, kebutuhan mendesak bagi warga terdampak saat ini meliputi makanan siap saji, air minum, selimut, sembako, hingga alat kebersihan dan pompa penyedot air. Di tengah bencana banjir, satu insiden orang tenggelam terjadi di Jembatan Cikarees, Kecamatan Baleendah. Korban bernama Enda Hermawan (27) dilaporkan hanyut setelah terjatuh ke sungai.
Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, kepolisian, hingga relawan telah dikerahkan untuk melakukan pencarian. Sebanyak 96 personel terlibat dalam operasi SAR dengan berbagai peralatan, termasuk perahu karet dan drone. Namun, hingga Selasa pagi, korban masih belum ditemukan dan pencarian terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca.

















