Jembatan Bambu Hanyut Diterjang Banjir, Akses Warga Nyalindung Terputus

- Jembatan bambu penghubung dua kampung di Desa Bojongsari, Sukabumi, hanyut diterjang banjir setelah hujan deras menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga.
- Jembatan darurat yang baru tiga bulan dibangun secara swadaya bersama PMI dan Yayasan Sehati Bergerak Bersama kini putus total, membuat aktivitas ekonomi, sosial, dan pendidikan warga terhambat.
- Andri Kurniawan menilai cuaca ekstrem jadi penyebab utama kerusakan jembatan serta berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar akses antar kampung kembali normal.
Sukabumi, IDN Times - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Sukabumi dalam beberapa hari terakhir kembali memicu bencana. Kali ini, jembatan darurat yang menghubungkan dua kampung di Desa Bojongsari, Kecamatan Nyalindung, hanyut terbawa arus banjir pada Selasa (14/4/2026).
Jembatan berbahan bambu tersebut dilaporkan putus total setelah debit air sungai meningkat drastis dan meluap ke permukiman warga.
1. Baru tiga bulan dibangun, itu pun swadaya

Peristiwa ini menjadi pukulan bagi warga setempat. Pasalnya, jembatan darurat itu baru diresmikan pada 5 Januari lalu atau sekitar tiga bulan sebelum kejadian.
Jembatan tersebut dibangun melalui kolaborasi kemanusiaan antara Yayasan Sehati Bergerak Bersama, Palang Merah Indonesia (PMI), dan swadaya masyarakat.
Jembatan ini menjadi jalur utama penghubung Kampung Tanggeng dan Kampung Cipiit. Tanpa akses tersebut, aktivitas warga—mulai dari ekonomi, sosial, hingga pendidikan—ikut terdampak.
Warga kini kesulitan beraktivitas karena harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh atau menunggu air surut untuk bisa menyeberang.
2. Cuaca ekstrem jadi pemicu

Founder Yayasan Sehati Bergerak Bersama, Andri Kurniawan, mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menyebut hujan deras yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor utama rusaknya jembatan darurat.
“Mungkin karena hujan sangat deras pada hari ini dan beberapa hari yang lalu, dampaknya jembatan darurat yang kita bangun tiga bulan yang lalu hari ini terbawa lagi oleh banjir,” kata Andri.
3. Perlu solusi permanen

Ketahanan jembatan yang hanya bertahan dalam waktu singkat dinilai menunjukkan bahwa pembangunan darurat bukan solusi jangka panjang. Andri berharap pemerintah daerah segera turun tangan membangun jembatan permanen agar akses warga kembali normal.
“Harapan saya, mudah-mudahan pemerintah segera memberikan penanganan yang begitu cepat. Supaya akses warga ke dua kampung ini bisa kembali berjalan normal,” tegasnya.
Hingga kini, kondisi di lokasi masih memprihatinkan. Sisa material bambu terlihat hanyut, sebagian tersangkut di tepi sungai. Warga pun terpaksa beradaptasi dengan kondisi darurat sambil menunggu penanganan lebih lanjut dari pihak terkait.

















