Dihantam Geopolitik, Industri Tekstil RI Masih Punya Prospek Cerah

- Industri tekstil global tengah tertekan akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga bahan baku, namun prospeknya diyakini akan membaik seiring stabilnya kondisi ekonomi dunia.
- Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dengan keahlian manufaktur kuat dan pasar domestik besar, serta peluang kolaborasi teknologi bersama India untuk memperkuat daya saing industri tekstil.
- Asosiasi Pertekstilan Indonesia menekankan pentingnya transformasi teknologi demi efisiensi dan produktivitas tanpa mengorbankan sektor padat karya, guna menjaga keberlanjutan industri nasional.
Bandung, IDN Times - Di tengah tekanan konflik global yang memicu gejolak harga dan rantai pasok, industri tekstil justru dinilai masih punya peluang besar untuk tumbuh di dalam negeri. Kolaborasi internasional hingga transformasi teknologi jadi kunci agar sektor ini tetap kompetitif dan bangkit saat kondisi global membaik.
Ketua India ITME Society, Ketan Sanghvi, menilai industri tekstil global memang sedang menghadapi tekanan jangka pendek akibat situasi geopolitik. Konflik di Timur Tengah, misalnya, berdampak langsung pada logistik dan harga bahan baku.
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah turut mendorong naiknya harga benang sintetis, yang kemudian menekan industri tekstil secara keseluruhan. Kondisi ini membuat pelaku industri harus menghadapi tantangan berat, terutama dari sisi biaya produksi. Meski begitu, Ketan menegaskan situasi ini tidak akan berlangsung selamanya.
“Ketika situasi membaik, harga akan kembali stabil. Permintaan akan kembali dan industri akan kembali membaik,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, industri saat ini tengah berupaya mengurangi ketergantungan rantai pasok, meningkatkan efisiensi, serta mendorong inovasi dan keberlanjutan.
2. Punya modal kuat di sektor ini

Di tengah kondisi global tersebut, Indonesia justru dinilai memiliki posisi strategis untuk mengembangkan industri tekstil. Ketan menyebut Indonesia memiliki pengalaman dan keahlian manufaktur yang kuat, ditambah pasar domestik yang besar.
Menurutnya, peningkatan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi akan mendorong permintaan tekstil di dalam negeri. Hal ini menjadi peluang besar bagi industri untuk berkembang lebih jauh.
“Ini kombinasi kekuatan terbaik, teknologi dan mesin dari India serta keahlian manufaktur dari Indonesia. Jika digabungkan, akan menghasilkan situasi saling menguntungkan,” kata Ketan.
Ia juga menyoroti India yang saat ini unggul dalam sektor permesinan tekstil, mulai dari spinning, weaving, hingga processing, yang bisa melengkapi kekuatan industri Indonesia.
2. Kolaborasi India–Indonesia doro produktivitas dan tenaga kerja

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa menyambut positif peluang kerja sama ini. Ia menilai India memang memiliki kemajuan signifikan dalam industri mesin tekstil dan garmen yang bisa mendorong produktivitas.
“India memang saat ini cukup maju dalam industri permesinan tekstil dan garmen sehingga produktivitas India cukup tinggi. Kami menyambut baik kehadiran para pengusaha mesin tekstil India,” ujarnya.
Kolaborasi ini diwujudkan dalam Interactive Business Session yang digelar 13 April 2026 di Bandung, sebagai wadah mempertemukan pelaku industri kedua negara untuk memperluas investasi, perdagangan, dan kolaborasi teknologi.
3. Tranformasi teknologi harus disegerakan

Jemmy juga menegaskan bahwa industri tekstil nasional akan terus melakukan berbagai corporate action untuk meningkatkan efisiensi energi dan produktivitas. Namun, ia mengingatkan bahwa transformasi teknologi tidak boleh mengorbankan sektor padat karya.
“Produktivitas penting, tetapi lapangan kerja padat karya juga urgent,” katanya.
Dengan kombinasi pasar besar, dukungan pemerintah, serta peluang kolaborasi global, industri tekstil Indonesia dinilai tetap punya masa depan cerah meski sedang diterpa dinamika global.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2026, nilai ekspor produk tekstil Indonesia masih didominasi oleh sektor hilir. Di mana, ekspor pakaian jadi (konveksi) mencapai sekitar USD609,4 juta, lebih besar dari ekspor benang pintal yang tercatat sebesar USD 78,3 juta.


















