Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gangguan Listrik dan Suplai Air Jadi Beban Baru Industri di Jabar
Pemadaman listrik atau pemadaman darurat menghidupkan atau mematikan pemutus sirkuit pada papan sekering listrik (istockphoto.com)
  • Industri di Jawa Barat menghadapi tekanan berat akibat pemadaman listrik dan keterbatasan air yang menghambat produksi serta meningkatkan biaya operasional perusahaan.
  • Kebijakan pembatasan penggunaan air tanah membuat banyak perusahaan harus membeli air dari luar, sementara kepastian regulasi investasi masih menjadi kendala utama dunia usaha.
  • Apindo Jawa Barat menegaskan komitmen menjaga iklim investasi dan lapangan kerja melalui kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja agar industri tetap bertahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Dunia industri di Jawa Barat tengah menghadapi tekanan yang datang dari berbagai arah. Di tengah penurunan pesanan yang dialami sejumlah sektor padat karya, perusahaan kini juga harus menghadapi persoalan operasional seperti pemadaman listrik hingga keterbatasan pasokan air. Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu produksi dan berpotensi memperburuk situasi ketenagakerjaan jika tidak segera diatasi.

Ketua Apindo Jawa Barat, Ning Wahyu Astutik, mengatakan gangguan pasokan listrik menjadi persoalan serius bagi industri manufaktur karena dapat menghentikan proses produksi dan meningkatkan biaya operasional perusahaan.

"Kalau sehari mati listrik sampai lima jam saat proses produksi berjalan, barang yang sedang dalam proses itu banyak yang tidak bisa dipakai. Akhirnya perusahaan harus lembur untuk mengejar target produksi sehingga biayanya menjadi dua kali lipat," kata Ning, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, dampak yang lebih besar adalah terganggunya jadwal ekspor. Keterlambatan pengiriman dapat berujung pada pengurangan pesanan bahkan perpindahan order ke negara lain.

"Kalau order dipindahkan ke negara lain ini sangat berbahaya. Karena itu pemadaman listrik tidak bisa dianggap remeh. Banyak perusahaan besar sangat bergantung pada pasokan listrik," ujarnya.

1. Industri padat karya kini fokus bertahan agar tak terjadi PHK

Ketua Apindo Jabar Ning Wahyu Astutik, dok. istimewa

Ning mengatakan tantangan yang dihadapi industri saat ini bukan lagi sekadar mengejar keuntungan. Banyak perusahaan, khususnya sektor padat karya, kini berupaya mempertahankan operasional agar tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurut dia, penurunan pesanan membuat banyak perusahaan harus melakukan berbagai langkah efisiensi. Bahkan, sebagian perusahaan sudah mulai merumahkan pekerja, ada yang berencana melakukan hal serupa, hingga menghentikan operasional usahanya.

"Sekarang ini bukan lagi bagaimana mendapatkan untung, tetapi bagaimana bertahan di tengah kesulitan supaya karyawan tidak terkena PHK," katanya.

Ia menilai menjaga iklim usaha tidak hanya menjadi tanggung jawab pengusaha atau pemerintah daerah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari para pekerja agar hubungan industrial tetap kondusif.

2. Regulasi baru sulitkan industri dapat air tanah

ilustrasi industri petrokimia (pixabay.com/marcinjozwiak)

Selain persoalan listrik, dunia usaha juga dihadapkan pada kebijakan pembatasan penggunaan air tanah yang berdampak pada kegiatan produksi.

Ning mengatakan banyak perusahaan kini harus membeli air menggunakan truk tangki karena kuota penggunaan air tanah dibatasi. Di sisi lain, izin pembangunan sumur baru juga tidak lagi diberikan.

Menurutnya, pelaku usaha memahami pentingnya menjaga lingkungan. Namun, pemerintah juga diharapkan menyiapkan solusi agar kebutuhan air industri tetap terpenuhi, misalnya melalui penyediaan pasokan dari PDAM.

Ia juga menyoroti perlunya kepastian regulasi bagi dunia usaha. Sejumlah pengusaha, kata dia, masih menunggu kejelasan terkait status lahan yang telah dibebaskan untuk investasi namun mengalami perubahan kebijakan.

"Yang dibutuhkan pengusaha adalah kepastian. Kalau tidak ada kepastian, perencanaan investasi menjadi terhenti," ujarnya.

3. Tetap berkomitmen jaga investasi dan lapangan kerja

ilustrasi lapangan kerja (unsplash.com/Arno Senoner)

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Apindo Jawa Barat menyatakan tetap berkomitmen mendukung iklim investasi agar aktivitas industri tetap berjalan dan mampu menyerap tenaga kerja.

Ning berharap investasi di Jawa Barat terus tumbuh sehingga kesempatan kerja bagi masyarakat tetap terbuka. Ia juga menyinggung besarnya kontribusi perusahaan yang beroperasi di Jawa Barat, meski sebagian besar pajak perusahaan masih dibayarkan melalui kantor pusat di Jakarta.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan serikat pekerja menjadi kunci agar industri tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.

"Kami akan semampu mungkin menjaga tenaga kerja dan mempertahankan lapangan kerja. Kalau industrinya kuat, dampaknya akan langsung terasa terhadap penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat," kata Ning.

Editorial Team

Related Article