Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Buruh Sukabumi Was-was PHK Massal Akibat Kebijakan Tarif Trump
Pinterest

Kabupaten Sukabumi, IDN Times - Kebijakan tarif impor sebesar 32 persen yang diterapkan Presiden AS Donald Trump terhadap produk garmen, alas kaki, dan tekstil lainnya dinilai menjadi ancaman serius bagi industri padat karya di Indonesia. Diketahui, beberapa pabrik garmen dan alas kaki asal Kabupaten Sukabumi turut menjadi eksportir ke Amerika Serikat.

Serikat Pekerja TSK SPSI Kabupaten Sukabumi menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi turunnya ekspor yang bisa memicu gelombang PHK massal.

"Kami melihat bahwa kebijakan ini sangat berpotensi mengurangi volume ekspor Indonesia, khususnya dari sektor garmen dan alas kaki. Jika dibiarkan, ini bisa berujung pada PHK besar-besaran," kata Mochamad Popon selaku Ketua SP TSK SPSI Kabupaten Sukabumi.

1. Ekspor garmen dan alas kaki terancam, PHK jadi bayangan nyata

ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Industri padat karya seperti garmen dan alas kaki memiliki kontribusi besar terhadap ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Menurut SP TSK, nilai perdagangan dari dua sektor tersebut dalam beberapa bulan terakhir mencapai sekitar USD9 miliar.

"Penurunan ekspor berarti penurunan produksi. Dan itu pasti berdampak langsung ke buruh. Kami sangat khawatir jika tidak ada langkah cepat dari pemerintah, maka sektor ini akan kolaps," kata Popon.

2. Buruh minta pemerintah negosiasi dan diversifikasi ekspor

ilustrasi ekspor (pexels.com/Kai Pilger)

SP TSK SPSI Sukabumi mendesak pemerintah untuk segera bergerak cepat melalui diplomasi perdagangan dan perluasan pasar ekspor ke negara lain. Menurut mereka, perjanjian CEPA harus segera dituntaskan agar ekspor Indonesia tak hanya bergantung pada pasar Amerika dan Eropa.

"Kami minta pemerintah segera melakukan negosiasi ulang dengan Amerika Serikat. Dan juga menyelesaikan CEPA agar ekspor kita tidak hanya bertumpu pada pasar tradisional," ujar Popon.

3. Lindungi buruh dan jaga iklim investasi

ilustrasi menaruh seluruh dana investasi di satu instrumen (pexels/tima mirosnichenko)

Selain soal ekspor, serikat buruh juga menyoroti pentingnya perlindungan sosial untuk buruh padat karya serta penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif.

"Kami minta hambatan-hambatan investasi segera dihapuskan. Karena kalau ekonomi biaya tinggi terus berlangsung, daya saing kita makin lemah," tuturnya.

Tak hanya itu, ia juga menegaskan pentingnya perlindungan sosial di tengah nilai tukar rupiah yang terus melemah.

"Rupiah sudah menembus Rp17 ribu per Dolar AS, harga-harga kebutuhan pasti naik, daya beli buruh makin turun. Pemerintah harus siapkan skema perlindungan sosial sekarang juga," katanya.

4. Serikat minta pengusaha hindari PHK, prioritaskan dialog

Ilustrasi PHK. (dok. IDN Times)

Menutup pernyataannya, Mochamad Popon juga mengajak para pengusaha di Kabupaten Sukabumi untuk tetap membuka ruang dialog dan menghindari tindakan PHK massal.

"Kami minta para pengusaha berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan PHK. Dan kami siap duduk bersama, membangun dialog sosial yang efektif demi mencari solusi terbaik," tuturnya.

Editorial Team

Related Article