Ada Kenaikan Jumlah Kasus, Dua Warga Majalengka Meninggal karena DBD

Majalengka, IDN Times - Ratusan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) ditemukan di Kabupaten Majalengka sejak Januari lalu. Selama lima bulan itu, ada perbedaan tren kasus yang terjadi di daerah ini.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Majalengka Agus Susanto mengatakan, sejak Januari 2024, kasus DBD tertinggi terjadi pada April. Secara keseluruhan, tercatat ada dua orang meninggal dalam kasus penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti itu.
Pada Januari, Dinkes mencatat sebanyak 57 kasus DBD. Jumlah kasus mengalami kenaikan pada Februari yakni menjadi 67 kasus. Bulan Maret, kasus DBD di Majalengka kembali mengalami penurunan.
"Dan April kemarin mencapai 82 kasus. Sampai Mei kasus kematian sebanyak dua kasus. Memang ada kenaikan tapi tidak signifikan," kata dia
1. Majalengka Utara tercatat sebagai endemik DBD

Agus menjelaskan selama ini daerah Majalengka Utara dikenal sebagai endemik kasus DBD. Beberapa daerah utara yang masuk sebagai endemik di antaranya Kecamatan Sumberjaya, Leuwimunding, dan Kecamatan Jatiwangi.
Kendati demikian, dari catatan Dinkes ada penurunan jumlah kasus di daerah-daerah yang selama ini dianggap endemik itu.
"Banyak kasus itu di Sumberjaya, Leuwimunding, tapi alhamdulilah di Sumberjaya (tahun ini) bisa ditekan. Peran masyarakat di Sumberjaya untuk menekan DBD luar biasa," ujar dia.
2. Temuan baru, Majalengka Selatan banyak ditemukan kasus DBD

Saat kasus DBD di Majalengka Utara mengalami penurunan, khususnya Sumberjaya, daerah selatan justru mengalami peningkatan kasus. Agus menjelaskan, selama ini kasus DBD kerap ditemukan di daerah dataran rendah, yakni Majalengka Utara.
"Distribusi kasusnya ini yang menarik. Di Majalengka ini, yang masuk daerah endemis itu wilayah utara Majalengka, Jatiwangi ke sana. Dan justru sebaran kasusnya malah banyak ke daerah (Majalengka) Selatan," tuturnya.
Kecamatan Lemahsugih adalah salah satu daerah Majalengka Selatan, yang pada tahun ini dinilai banyak ditemukan kasus DBD.
"Kok kasusnya banyak di wilayah selatan, berbanding dengan kasus di wilayah endemis. Apakah ada mutasi nyamuk dari dataran rendah ke dataran tinggi? Itu sedang kami analisa. Lemahsugih itu kan masuk dataran tinggi," ungkap dia.
3. Kampanye 3M masih relevan untuk menangkal penyebaran DBD
Agus menilai, menurunnya kasus DBD di daerah endemik terjadi seiring dengan peran serta masyarakat di daerah tersebut. Ia menjelaskan gerakan 3M (menguras, mengubur, dan menutup) masih sangat relevan dalam meminimalisir penyebaran nyamuk.
"Kasus di daerah endemik bisa turun itu ya karena peran serta masyarakat dalam 3M. Kampanye itu sangat relevan," ujarnya.
Mengingat gerakan 3M plus dinilai masih cukup relevan menangani kasus DBD, Agus berharap, masyarakat bisa lebih mengintensifkan lagi gerakan itu.


















