200 Atlet Panjat Tebing Berkimpetisi di EISCC Jelang Hari Kemerdekaan

- Lebih dari 200 atlet dari berbagai daerah mengikuti EISCC ke-17 di Bandung menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia, termasuk atlet berprestasi dunia Putra Tri Ramadani alias Srondeng.
- Kompetisi menghadirkan kategori profesional dan komunitas, seperti Speed Rookie, Spray Challenge, serta Fun Boulder, yang melibatkan mahasiswa, klub, komunitas, dan sekolah panjat dari berbagai daerah.
- EISCC rutin digelar sejak 2001 sebagai bagian perkembangan panjat tebing Indonesia bersama EIGER; edisi ke-17 terbuka gratis bagi masyarakat untuk menyaksikan pertandingan dan mencoba aktivitas panjat.
Bandung, IDN Times - Bandung kembali menjadi titik temu para atlet panjat tebing nasional menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Lebih dari 200 atlet dari berbagai daerah berkumpul dalam EIGER Independence Sport Climbing Competition (EISCC) ke-17 di EIGER Adventure Flagship Store, Jalan Sumatra, Kota Bandung.
Kompetisi yang digelar mulai Jumat (14/8/2026) ini tak hanya diikuti atlet nasional. Sejumlah nama yang telah mencatatkan prestasi di level dunia ikut ambil bagian, salah satunya Putra Tri Ramadani alias Srondeng yang baru saja meraih medali emas kategori lead pada World Climbing Series di Prague, Juni 2026.
1. Juara dunia ikut merapat ke Bandung

200 Atlet Panjat Tebing Berkimpetisi di EISCC Jelang Hari Kemerdekaan. IDN Times/Debbie Sutrisno Nama Srondeng menjadi salah satu daya tarik utama EISCC tahun ini. Pada Juni 2026, atlet Indonesia tersebut mencetak prestasi penting dengan meraih medali emas kategori lead di World Climbing Series di Prague.
Dalam kompetisi tersebut, Srondeng berhasil mengungguli sejumlah atlet papan atas dunia, termasuk Alberto Gines Lopes, Neo Suzuki, dan Sorato Anraku. Nomor lead sendiri menuntut kemampuan fisik dan teknik karena atlet harus memanjat jalur yang panjang dan kompleks sekaligus menyelesaikan tantangan dengan strategi yang tepat.
Di EISCC ke-17, Srondeng akan kembali turun di kategori Lead. Ia akan bersaing dengan sejumlah atlet nasional lainnya, seperti Alma Ariella, Sukma Lintang, Raji'ah Sallsabillah, Rahmad Adi, hingga Raharjati Nursamsa.
2. Perwakilan komunitas panjat ikut bertanding

Ilustrasi panjat tebing lead Indonesia di Pelatnas Panjat Tebing (IDN Times/Margith Damanik) EISCC ke-17 tidak hanya menjadi panggung bagi atlet profesional. Panitia juga membuka sejumlah kategori yang bisa diikuti pencinta panjat tebing dari berbagai latar belakang.
Ketua Pelaksana EISCC 2026, Nara Witaraga mengatakan, kategori yang tersedia antara lain Speed Rookie untuk mahasiswa pencinta alam, Spray Challenge bagi peserta non-atlet, serta Fun Boulder yang dilengkapi beragam hadiah bagi pengunjung.
“EISCC tahun ini, para atlet non profesional pun datang dari lokasi yang jauh. Komunitas panjat, club panjat, bahkan sekolah-sekolah panjat dari banyak daerah mendaftarkan timnya sebagai kategori non atlet,” ujar Nara.
Menurutnya, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan olahraga panjat tebing semakin berkembang dan memiliki ekosistem yang luas di Indonesia. Ia berharap kompetisi yang rutin digelar setiap 17 Agustus tersebut dapat menjadi ruang positif bagi komunitas, atlet pemula, hingga atlet profesional untuk berkembang.
3. EISCC punya sejarah dengan panjat tebing Indonesia

Diskusi tentang panjat tebing di kantor EIGER Bandung. IDN Times/Istimewa EISCC tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan panjat tebing Indonesia. Mamay S. Salim, salah satu pendiri Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sekaligus EIGER Adventure Technical Advisor, menyebut perjalanan tersebut bermula dari Ekspedisi Gunung Eiger pada 1986.
Ekspedisi yang digagas Harry Suliztiarto tersebut menjadi salah satu tonggak awal perkembangan panjat tebing modern di Indonesia. Dua tahun kemudian, Federasi Panjat Tebing dan Gunung Indonesia (FPTGI) berdiri pada 21 April 1988 dan kemudian berganti nama menjadi FPTI pada 1990.
Perjalanan itu kemudian beriringan dengan perkembangan EIGER. Pada 1992, EIGER membuka toko pertamanya di Jalan Cihampelas yang dilengkapi papan panjat untuk latihan atlet. Pada 2001, EIGER membangun papan panjat modern berbahan resin dengan standar internasional yang kemudian menjadi bagian dari lahirnya EISCC.
“Sejak itu, EIGER dan panjat tebing Indonesia tumbuh bersama. Dari 2001 hingga edisi ke-17 pada 2026, EISCC rutin digelar setiap 17 Agustus,” kata Mamay.
Perkembangan panjat tebing Indonesia kemudian melahirkan sejumlah atlet yang berprestasi di level internasional, termasuk Veddriq Leonardo yang meraih medali emas Olimpiade Paris 2024. EISCC ke-17 sendiri terbuka untuk masyarakat secara gratis. Pengunjung dapat menyaksikan langsung persaingan para atlet sekaligus mengikuti sejumlah aktivitas panjat yang disediakan selama kompetisi.











.jpg)





