Industri di Jabar Serap 1,14 Juta Pekerja, Masih Ada 800 Ribu Lowongan
.jpg)
- Industri pengolahan Jawa Barat menyerap 1.145.179 pekerja pada Triwulan II 2026, dengan penyerapan terbesar berasal dari industri pakaian jadi, alas kaki, tekstil, dan kendaraan bermotor.
- Sebanyak 3.711 proyek industri pada 2025 hingga Semester I 2026 diproyeksikan menciptakan 799.999 kebutuhan tenaga kerja, terutama di sektor alas kaki, tekstil, logam-elektronika, transportasi, dan makanan.
- Pemprov Jabar menyiapkan pelatihan vokasi, upskilling, kemitraan SMK-industri, serta platform Nyari Gawe, sambil memperkuat rantai pasok lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Bandung, IDN Times - Sektor industri pengolahan Jawa Barat tercatat sudah menyerap 1.145.179 tenaga kerja pada Triwulan II 2026. Angka tersebut diketahui berdasarkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Kondisi tersebut juga diperkirakan akan terus bertumbuh dalam beberapa periode ke depan.
Berrasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), terdapat 3.711 perusahaan industri yang berada dalam tahap konstruksi maupun realisasi investasi pada periode 2025 hingga Semester I 2026. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan membutuhkan atau membuat 799.999 tenaga kerja.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Nining Yuliastiani mengatakan, pertumbuhan ini juga harus dibangun dengan perubahan teknologi, dan membuat kompetensi tenaga kerja di mana hal itu menjadi salah satu tantangan utama yang harus segera dijawab pemerintah.
"Namun, untuk memberikan presisi dan kualitas produk yang lebih baik, mesin-mesin semi otomatis didatangkan," ujarnya, Kamis (13/8/2026).
1. Teknologi dan SDM tetap beriringan

Pelabuhan Patimban. (dok. Kemenhub) Menurutnya, penggunaan mesin semi otomatis membuat kebutuhan industri terhadap pekerja dengan keterampilan teknis semakin tinggi. Sehingga, hal tersebut tetap harus diseimbangkan degan kemampuan dari SDM itu sendiri.
"Di sisi lain, industri membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi karena keterampilan dasar saja tidak lagi cukup. Sebagai contoh, meskipun posisinya sebagai operator jahit, pekerja tersebut tetap dituntut untuk menguasai teknologi mesin yang akan dioperasikan," tuturnya.
Pemprov Jabar mendorong penyiapan sumber daya manusia dilakukan sejak investasi mulai masuk. Kebutuhan tenaga kerja industri dipetakan dan diperbarui secara berkala untuk kemudian dicocokkan dengan program pelatihan vokasi yang tersedia.
Kesenjangan kompetensi tenaga kerja kemudian dijawab melalui program upskilling dan reskilling. Program tersebut tidak hanya menyasar calon pekerja, tetapi juga pekerja yang sudah berada di industri agar dapat meningkatkan keterampilan dan jenjangnya menjadi operator maupun supervisor.
2. Banyak upaya yang sedang dilakukan Pemprov Jabar untuk mendukung industri

Pekerja melakukan bongkar muat di KM Logistik Nusantara 4 dari Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, Rabu (14/9/2022). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc Pemprov Jabar juga berkolaborasi dengan Balai Diklat Industri, BPSDMI Kementerian Perindustrian dan Kementerian Ketenagakerjaan untuk menyesuaikan program pelatihan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan seperti Pelatihan Supervisor Sewing, Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja Industri dan Sertifikasi Operator di Kab. Majalengka, serta Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja di Kab. Ciamis.
Sebagai langkah konkret, pemerintah daerah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya adalah Organisasi Sosial Nirlaba Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Kolaborasi ini telah memfasilitasi program peningkatan keterampilan (upskilling) bagi tenaga kerja yang kemudian diserap oleh industri produk tekstil di Kabupaten Ciamis. Saat ini, penjajakan kerja sama serupa juga tengah dilakukan dengan sejumlah perusahaan ritel di Jawa Barat.
Di sektor pendidikan, Pemprov Jabar memperkuat link and match antara SMK dan dunia industri melalui penyelarasan kurikulum, pemetaan kebutuhan kompetensi, program Industri Mengajar, magang guru di perusahaan hingga peningkatan kualitas praktik kerja lapangan.Hingga 2026, tercatat 740 kemitraan antara SMK dan dunia usaha serta dunia industri telah terjalin di Jawa Barat.
3. Pemprov Jabar sedang membuat sistem rantai pasok yang berkelanjutan

Pelabuhan Patimban. (Abdul Halim/IDN Times) Pemerintah juga mengembangkan platform Nyari Gawe untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan sekaligus membangun talent pool. Platform tersebut diharapkan dapat membantu mencocokkan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri.
Namun, penguatan industri Jawa Barat tidak hanya menyangkut kesiapan tenaga kerja. Pemerintah juga mendorong agar investasi yang masuk memberikan efek berganda bagi pelaku usaha lokal melalui penguatan rantai pasok dalam negeri.
Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah ketergantungan industri terhadap bahan baku dan komponen impor. Kondisi tersebut membuat industri rentan terhadap perubahan nilai tukar, gangguan logistik internasional hingga dinamika geopolitik.
Karena itu, penguatan rantai pasok diarahkan melalui peningkatan penggunaan bahan baku lokal, hilirisasi, kemitraan antara industri besar dengan industri kecil dan menengah (IKM), serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Nining mengatakan penguatan rantai pasok menjadi pekerjaan penting agar pertumbuhan industri di Jawa Barat tidak berhenti pada kegiatan perakitan, sementara komponen dan bahan bakunya masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
"Rantai pasok untuk kebutuhan suku cadang dan perakitan kendaraan saat ini lebih banyak mengandalkan impor. Kondisi ini menunjukkan rantai pasok di tingkat lokal belum terbentuk secara optimal. Pemprov Jabar sedang mengembangkan sistem yang terjaga keberlanjutannya," ujar Nining.
Pemerintah mendorong industri besar membuka kebutuhan komponen dan kebutuhan produksi lainnya yang dapat dipenuhi oleh industri lokal. Penguatan rantai pasok tersebut sekaligus membuka peluang bagi IKM untuk masuk ke dalam ekosistem manufaktur. Jawa Barat saat ini memiliki 13.796 IKM yang berpotensi menjadi pemasok komponen, bahan baku maupun jasa penunjang bagi industri besar.
Pemerintah mendorong IKM meningkatkan kualitas produk, standardisasi, sertifikasi dan kapasitas produksi, sekaligus memperkuat digitalisasi serta fasilitasi kemitraan dan business matching dengan industri besar.
Untuk diketahui, selain industri padat karya seperti tekstil, pakaian jadi dan alas kaki, Jabar kini mulai banyak dilirik investor salah satunya, investasi yang mulai masuk yaitu kendaraan listrik, baterai, semikonduktor, elektronika, industri berbasis digital hingga industri hijau.
Penyerapan tenaga kerja terbesar saat ini berasal dari industri pakaian jadi sebanyak 217.837 orang, industri kulit dan alas kaki 195.000 orang, industri tekstil 160.984 orang, industri kendaraan bermotor, trailer dan semi-trailer 132.446 orang.
Sementara industri makanan 112.460 orang, dan sisa dari total 1.145.179 tenaga kerja tersebut tersebar di berbagai sektor industri lainnya.
Potensi penyerapan tenaga kerja berikutnya juga masih besar. Dari 3.711 proyek industri yang berada dalam tahap konstruksi maupun realisasi investasi, kebutuhan tenaga kerja diproyeksikan mencapai 799.999 orang.
Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari industri barang dari kulit dan alas kaki sebanyak 202.906 tenaga kerja, tekstil 157.301 tenaga kerja, logam, mesin dan elektronika 94.188 tenaga kerja, kendaraan bermotor dan alat transportasi lainnya 89.005 tenaga kerja, serta industri makanan 66.021 tenaga kerja.
Melengkapi proyeksi makro tersebut, hasil pendataan oleh Provinsi Jawa Barat juga mencatat adanya industri yang diproyeksikan mulai beroperasi pada 2026 membutuhkan sedikitnya 5.616 tenaga kerja.
Kebutuhan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bogor, Bandung, Subang, Indramayu, Sukabumi, Cianjur, Cirebon, Kota Bekasi, Kota Bandung, dan Depok.
















