Dinkes Bandung Temukan 24 Laporan Kasus Higiene Restoran Korea

- Dinkes Kota Bandung menerima 24 laporan warga bergejala setelah makan di restoran Jalan Pasirkaliki dan masih menelusuri kasus karena jumlahnya berpotensi bertambah.
- Inspeksi menemukan aspek higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki, termasuk pemisahan bahan makanan dari bahan kimia, penerapan FIFO-FEFO, serta penggunaan masker dan hair net.
- Gejala dilaporkan muncul 2–12 jam setelah makan, meliputi sakit perut, mual, muntah, dan diare; investigasi terkendala karena restoran tidak menyimpan sampel makanan.
Take a Deeper Reads

Bandung, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menemukan sejumlah persoalan terkait higiene dan sanitasi di sebuah restoran di Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung. Restoran tersebut tengah diperiksa setelah muncul laporan warga yang mengalami gejala dugaan keracunan makanan usai mengonsumsi makanan dari lokasi tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari mengatakan, hingga Selasa (6/10/2026) sore, pihaknya telah menerima laporan sebanyak 24 kasus. Dinkes masih melakukan penelusuran karena jumlah tersebut berpotensi bertambah.
“Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” ujar Dewi melalui siaran pers dikutip, Rabu (7/10/2026).
1. Soroti penataan bahan makanan hingga penggunaan hair net

Ratusan Warga Diduga Keracunan Usai Makan di Restoran 88 Seoul Kawasan 23 Paskal, Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno Tim Kesehatan Lingkungan bersama Tim Reaksi Cepat Dinkes Kota Bandung telah melakukan inspeksi kesehatan lingkungan di restoran tersebut. Pemeriksaan meliputi sejumlah aspek, mulai dari penataan lokasi, peralatan, bahan makanan, hingga penerapan prosedur operasional standar (SOP).
Dewi mengatakan, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penataan bahan makanan segar dan bahan makanan kering. Bahan makanan juga perlu dipisahkan dari bahan kimia, seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring.
“Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” katanya.
Dinkes juga menyoroti penerapan sistem first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) dalam penyimpanan serta penggunaan bahan makanan. Menurut Dewi, penerapan kedua sistem tersebut belum terlihat secara jelas di lokasi.
Selain sarana dan penataan bahan makanan, perilaku pekerja yang menangani makanan juga menjadi perhatian. Dinkes meminta para penjamah makanan menggunakan alat pelindung diri, seperti masker dan penutup rambut atau hair net.
“Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” tuturnya.
2. Korban alami mual, muntah, hingga diare

ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita) Dewi mengatakan, hingga Selasa sore terdapat 24 kasus yang telah dilaporkan kepada Dinkes Kota Bandung melalui berbagai jalur. Laporan tersebut berasal dari puskesmas hingga masyarakat yang menyampaikan informasi melalui kanal media sosial Dinkes Kota Bandung.
Jumlah tersebut masih dapat berubah karena Dinkes masih membuka jalur pelaporan dan melakukan penelusuran terhadap laporan yang masuk. “Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus,” ujarnya.
Dari laporan yang diterima, waktu munculnya gejala pada warga bervariasi. Gejala paling cepat dilaporkan muncul sekitar dua jam setelah mengonsumsi makanan, sedangkan yang paling lambat sekitar 12 jam kemudian.
Sejumlah gejala yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah, hingga buang air besar cair atau diare. Dinkes masih melakukan investigasi dengan mengonfirmasi laporan, menelusuri kasus, serta memeriksa kondisi kesehatan warga yang mengalami gejala. Tim juga telah mendatangi pengelola restoran dan konsumen yang melaporkan gangguan kesehatan.
“Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat,” jelas Dewi.
3. Sampel makanan tidak tersedia untuk diperiksa

ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita) Proses investigasi dugaan keracunan makanan tersebut menghadapi kendala. Restoran yang diperiksa ternyata tidak menyimpan sampel makanan. Padahal, sampel makanan dapat membantu proses pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami konsumen.
“Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel, tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi,” kata Dewi.
Dinkes Kota Bandung telah memberikan rekomendasi perbaikan kepada pengelola restoran. Pemantauan selanjutnya akan dilakukan bersama puskesmas untuk memastikan rekomendasi tersebut ditindaklanjuti.
Pengawasan juga akan dilakukan secara lebih intensif mengingat adanya laporan dugaan kasus keracunan makanan. “Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya,” ujarnya.
Dewi mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut agar segera melapor kepada puskesmas terdekat atau melalui kanal resmi Dinkes Kota Bandung. Dinkes masih membuka pelaporan dari masyarakat sembari melakukan penelusuran terhadap kasus yang telah dilaporkan.



















