TPA Sarimukti Sudah Terisi 80 Persen, Bandung Raya Darurat Sampah?

Zona 5 TPA Sarimukti telah terisi 560 ribu ton atau 80 persen dari kapasitas 700 ribu ton, menyisakan sekitar 20 persen ruang penampungan.
Kapasitas Zona 5 diperkirakan penuh pada akhir 2026, lebih cepat dari proyeksi Agustus 2027, akibat kiriman sampah melebihi kuota dan keterbatasan alat berat.
Pemprov Jabar menyiapkan pemadatan aman dengan analisis ahli karena risiko gas metana, serta mengkaji pirolisis untuk mengolah 1.000 ton sampah per hari menjadi solar.
Take a Deeper Reads

Bandung, IDN Times - Gunungan sampah di TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, seolah tak pernah berhenti bertambah. Setiap harinya, sampah dari wilayah Bandung Raya terus berdatangan dengan menggunakan truk-truk pengangkut membawa sisa aktivitas jutaan warga hingga membuat kapasitas semakin mengecil.
Zona 5 TPA Sarimukti yang menjadi salah satu tumpuan penampungan sampah tersebut kini telah terisi sekitar 80 persen. Dari kapasitas sekitar 700 ribu ton, sebanyak 560 ribu ton sampah sudah berada di dalamnya. Artinya, hanya sekitar 20 persen ruang yang tersisa.
Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA/TPST Regional DLH Jabar, Arief Perdana, mengatakan kondisi tersebut membuat umur Zona 5 jauh lebih pendek dari proyeksi awal. Zona yang semula diperkirakan mampu digunakan hingga Agustus 2027, kini diprediksi penuh pada November 2026.
"Jadi kita perkirakan jumlah sampah masuk dengan sisa kapasitas hanya bisa sampai November 2026 yang seharusnya Agustus 2027," kata Arief, Rabu (7/10/2026).
1. Pemadatan mengalami kendala alat berat

TPS di Kota Bandung mulai dipenuhi sampah yang tidak bisa terangkut ke TPA Sarimukti. IDN Times/Debbie Sutrisno Persoalan TPA Sarimukti bukan sekadar jumlah sampah yang terus bertambah, Arief mengatakan, proses pemadatan sampah di Zona 5 tidak berjalan maksimal. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan alat berat yang digunakan untuk memadatkan timbunan.
Di saat yang sama, sampah yang masuk dari kabupaten dan kota di Bandung Raya juga masih lebih banyak dibandingkan kuota yang ditetapkan.
"Pemadatan berkurang karena kurang alat berat, lalu sampah dari kota-kota walaupun dibatasi tetap saja ngirimnya lebih," katanya.
Selain itu, beban Zona Lima juga bisa bertambah ketika pemerintah melakukan penanganan sampah dari lokasi tertentu, seperti pasar, lalu sampah tersebut dibawa ke Sarimukti.
"Belum lagi ada opsi dari pimpinan, misalnya saat Pak Gubernur menyelesaikan sampah di pasar terus kita terima, jadi berpengaruh pada kapasitas landfill di Zona Lima," tutur Arief.
2. Pemprov Jabar sudah mengingatkan soal usia TPA Sarimukti akan habis

TPA Sarimukti yang Masih Belum Dibuka Akibat Kebakaran. (Bangkit Rizki/IDN Times) Gayung bersambut, Sekda Jabar Herman Suryatman mengatakan pemerintah sengaja membuka Zona Lima sebagai upaya memperpanjang usia TPA tersebut. Namun, ruang yang tersedia kembali menipis.
"Jadi, kami sudah mengingatkan jauh hari sebelumnya, bahwa Sarimukti kan terbatas, dan provinsi sudah berikhtiar semaksimal mungkin bagaimana Sarimukti bisa diperpanjang usianya, makanya kita buka Zona Lima," kata Herman.
Herman menyebut Zona Lima bisa penuh pada Oktober atau paling lambat akhir 2026. Sehingga, upaya memperpanjang usia TPA Sarimukti saat ini tengah terus dilakukan.
"Posisi terakhir sudah kami perkirakan bulan Oktober ini penuh atau akhir tahun ini lah, akhir tahun ini Sarimukti itu penuh, kami sudah cek lapangan," katanya.
3. Pemprov Jabar berupa memperpanjang usia TPA Sarimukti

TPK Sarimukti (Humas/Pemprov Jabar) Salah satu cara yang tengah disiapkan adalah memadatkan kembali timbunan sampah untuk mendapatkan ruang tambahan. Namun, pengerjaan tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebab, gunungan sampah terdapat gas metana yang mudah terbakar. Karena itu, proses pemadatan membutuhkan perhitungan dan teknologi yang aman.
"Bahkan teman-teman ahli dari ITB juga turun untuk membantu melakukan analisis cepat, tiga bulan ini akan di-treatment, salah satunya di-compacting (pemadatan), tentu dengan teknologi yang akuntabel karena ada gas metana," ujar Herman.
Di sisi lain, pemerintah Provinsi Jabar tengah mengkaji teknologi pirolisis untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar. Pemerintah menargetkan teknologi tersebut mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari menjadi solar.
"Dengan Pak Kasat sepakat, akhir tahun ini akan dipasang penanganan sampah dengan teknologi pirolisis, bagaimana sampah-sampah lama itu diolah, per harinya 1.000 ton menjadi solar," kata Herman.























