Dari Usaha Gitar, Rini Menata Kembali Masa Depan Keluarga

- Rini Sudarwanti bangkit dari usaha makanan sepi dan utang rentenir dengan memanfaatkan pembiayaan PNM Mekaar untuk mengembangkan kerajinan gitar handmade serta menjadi Agen BRILink Mekaar.
- Selain modal, Rini mengikuti pelatihan usaha, pameran UMKM, dan program pemberdayaan yang meningkatkan kepercayaan dirinya; plafon pembiayaannya naik dari Rp2 juta menjadi Rp8 juta.
- Perkembangan usaha membuka peluang keluarga: anak Rini menerima Beasiswa Pendidikan PNM pada 2026, sementara Rini masuk 50 besar inkubasi bisnis Mekaarpreneur 2026.
Bandung, IDN Times – Perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Bagi Rini Sudarwanti, perjuangan tersebut pernah membawanya pada masa sulit ketika usaha makanan matang yang dijalankan sepi pembeli hingga ia terjerat utang kepada rentenir.
Tahun 2021 menjadi salah satu titik terberat dalam perjalanan Rini. Tagihan yang datang setiap hari membuatnya hidup dalam tekanan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi. Kondisi itu membuatnya mencari jalan untuk kembali membangun usaha dan keluar dari persoalan utang.
“Saat itu saya benar-benar merasa berat. Usaha sedang sepi, sementara tagihan terus datang. Saya hanya berpikir bagaimana caranya keluar dari masalah dan bisa kembali menjalankan usaha,” kata Ibu Rini, dalam cerita yang diterima IDN Times, Kamis (13/8/2026).
Di tengah kondisi tersebut, Rini bergabung dengan PNM Mekaar. Pembiayaan yang diperolehnya digunakan sebagai modal untuk kembali menjalankan usaha. Perlahan, ia kemudian mengembangkan kerajinan gitar handmade hingga memperluas aktivitas usahanya sebagai Agen BRILink Mekaar.
1. Pembiayaan menjadi langkah awal untuk bangkit

ilustrasi pembiayaan (pexels.com/@pixabay) Perjalanan Rini bersama PNM tidak berhenti pada akses pembiayaan. Ia mengikuti berbagai kegiatan pemberdayaan, mulai dari pelatihan usaha hingga pameran UMKM.
Pengalaman tersebut turut membangun kepercayaan dirinya dalam mengembangkan usaha gitar yang dibuat menggunakan bahan kayu pilihan dan memiliki karakter khas.
“Buat saya, PNM bukan hanya memberikan modal. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan usaha. Saya jadi lebih berani mencoba, lebih percaya diri, dan punya semangat untuk terus maju,” kata Rini.
2. Usaha berkembang, kesempatan keluarga ikut terbuka

Dari Usaha Gitar, Rini Menata Kembali Masa Depan Keluarga (Dok. PNM) Dampak perkembangan usaha mulai dirasakan Rini dalam kehidupan keluarganya. Pada 2026, anaknya yang masih duduk di bangku SMA mendapatkan Beasiswa Pendidikan PNM. Kesempatan tersebut menjadi kebahagiaan sekaligus pengingat bahwa usaha yang ia bangun turut membuka jalan bagi masa depan anak.
“Sekarang saya tidak hanya berpikir bagaimana usaha saya bisa jalan. Saya juga ingin anak saya bisa sekolah dengan baik dan punya masa depan yang lebih baik. Itu yang membuat saya terus semangat,” kata Ibu Rini.
Sejak menjadi nasabah PNM Mekaar pada 2019, pembiayaan Rini berkembang dari plafon awal Rp2 juta menjadi Rp8 juta. Ia juga berhasil masuk 50 besar program inkubasi bisnis Mekaarpreneur 2026, setelah mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan pemberdayaan.
3. Pemberdayaan dinilai lebih dari sekadar modal

ilustrasi rincian pembiayaan (unsplash.com/Amina Atar) Kisah Rini menunjukkan bahwa pengusaha ultra mikro membutuhkan lebih dari sekadar akses pembiayaan. Pendampingan, pengetahuan, akses pasar, serta kesempatan mengembangkan kemampuan menjadi bagian penting agar usaha dapat tumbuh dan memberikan dampak lebih luas bagi keluarga.
“PNM tidak hanya fokus memberikan pembiayaan, tetapi juga mendampingi mereka agar usahanya tumbuh, keluarganya semakin kuat, dan anak-anaknya memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Direktur Utama PNM, Kindaris, dalam siaran pers yang sama.
Menurut Kindaris, ukuran keberhasilan pemberdayaan tidak semata dilihat dari besarnya pembiayaan yang disalurkan, tetapi dari perubahan yang terjadi dalam kehidupan nasabah. “Perubahan itu hadir dalam bentuk yang sederhana namun nyata, usaha yang tumbuh, pendapatan keluarga yang menguat, lapangan kerja yang terbuka, dan anak-anak yang mendapatkan kesempatan belajar lebih baik,” ujar Kindaris.
Bagi Rini, setiap gitar yang dibuat kini memiliki makna lebih dari sekadar produk bernilai ekonomi. Di baliknya terdapat cerita tentang keberanian memulai kembali, upaya memperkuat keluarga, serta harapan agar anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.






.jpg)











