Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sehat Tak Hanya Soal Obat, Ini Tantangan Dunia Kesehatan ke Depan

Kota Bandung
4 min read
Sehat Tak Hanya Soal Obat, Ini Tantangan Dunia Kesehatan ke Depan
International Conference on Medical and Health Sciences (BICMHS) 2026 yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) di Oakwood Hotel Merdeka Bandung, Sabtu (3/10/2026). Dok Istimewa
  • BICMHS 2026 di Bandung menyoroti bahwa tantangan kesehatan masa depan berkaitan dengan lingkungan, persoalan sosial, teknologi, dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar pengobatan penyakit.
  • Konferensi FK Unisba mempresentasikan riset lintas bidang dan mendorong hasil penelitian memberi dampak nyata bagi masyarakat, dengan sekitar 140 peserta termasuk 50 presenter internasional.
  • Kolaborasi akademisi, tenaga kesehatan, masyarakat, dan mitra lintas negara dinilai penting untuk mengubah gagasan ilmiah menjadi riset, inovasi, serta program kesehatan berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Bicara soal kesehatan tak lagi cukup hanya tentang bagaimana penyakit diobati. Perubahan lingkungan, persoalan sosial, perkembangan teknologi hingga kebutuhan masyarakat membuat dunia kesehatan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.

Karena itu, kemajuan ilmu kedokteran dituntut berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Bandung International Conference on Medical and Health Sciences (BICMHS) 2026 yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) di Oakwood Hotel Merdeka Bandung, Sabtu (3/10/2026).

Konferensi yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-22 FK Unisba ini mengangkat tema Academic Synergy for Sustainable Health: Bridging Social Impact, Environmental Awareness, and Scientific Progress. Dekan FK Unisba, Dr. Santun Bhekti Rahumah, dr., M.Kes., M.M., mengatakan persoalan kesehatan di masa depan tidak bisa hanya dijawab melalui kemajuan klinis.

“Keberlanjutan kesehatan hanya dapat dicapai ketika akademisi, sistem pelayanan kesehatan, dan masyarakat bersinergi untuk membangun masa depan yang lebih sehat dan tangguh,” ujar Santun melalui siaran pers diterima IDN Times, Minggu (4/10/2026).

  1. 1. Tantangan kesehatan semakin bersinggungan dengan lingkungan dan kehidupan sosial

    ilustrasi kesehatan
    ilustrasi kesehatan (unsplash.com/Mufid Majnun)

    Perubahan cara pandang terhadap kesehatan menjadi penting karena persoalan yang dihadapi masyarakat semakin beragam. Penyakit dan layanan kesehatan tidak berdiri sendiri, tetapi dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan, pola hidup, hingga persoalan sosial.

    Karena itu, BICMHS 2026 tidak hanya membahas penelitian klinis. Berbagai penelitian yang dipresentasikan mencakup kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran dasar, penyakit, teknologi medis hingga isu kesehatan yang berkembang di masyarakat.

    Sejumlah bidang lain juga dibahas, seperti kesehatan industri dan masyarakat, sistem kesehatan, bioetika dan humaniora, ilmu biomedis, pengobatan herbal, penyakit infeksi, pendidikan kedokteran, kesehatan spiritual dan Islam, kesehatan kerja, farmakologi dan farmasi, kedokteran olahraga, toksikologi hingga teratogenisitas.

    Menurut Ketua Pelaksana BICMHS 2026, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., perkembangan penelitian yang dipresentasikan menunjukkan kecenderungan menarik. Peneliti mulai memikirkan bagaimana hasil riset mereka dapat memberikan dampak di luar ruang akademik.

    “Kalau saya lihat, para presenter sekarang sudah lebih berpikir terhadap dampak. Terutama dari internal Fakultas Kedokteran, mereka sudah berupaya agar penelitian maupun pengabdian yang dilakukan dan dilaporkan di sini merupakan sesuatu yang berdampak,” katanya.

  2. 2. Riset kesehatan dituntut tidak berhenti di ruang akademik

    pengecekan kesehatan tulang
    ilustrasi kesehatan tulang (unplash. com/muhammad noor ridho)

    Bagi dunia akademik, penelitian memang menjadi salah satu fondasi pengembangan ilmu. Namun, hasil penelitian akan memiliki arti lebih besar ketika pengetahuan tersebut dapat menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

    Semangat itu terlihat dari BICMHS 2026 yang mempertemukan peneliti dari berbagai bidang kesehatan sekaligus membuka ruang untuk bertukar temuan dan perspektif. Tahun ini, sekitar 140 peserta mengikuti konferensi tersebut. Sebanyak 120 peserta di antaranya merupakan presenter, sementara sekitar 50 presenter berasal dari luar Indonesia. Peserta internasional datang dari sejumlah negara, antara lain Filipina, China, Thailand, dan Malaysia.

    Titik mengatakan meningkatnya partisipasi internasional menunjukkan semakin luasnya jejaring yang dibangun melalui BICMHS. Pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada presentasi penelitian, tetapi berkembang menjadi kerja sama akademik.

    “Alhamdulillah, dari tahun ke tahun partisipasinya semakin meningkat. Kegiatan tahunan ini juga semakin mendapat perhatian dan dukungan, baik dari pimpinan maupun Unisba yang terus mendorong kolaborasi,” ungkapnya.

  3. 3. Kolaborasi menjadi kunci menghadapi persoalan kesehatan masa depan

    IMG_0054.JPG.jpeg
    International Conference on Medical and Health Sciences (BICMHS) 2026 yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) di Oakwood Hotel Merdeka Bandung, Sabtu (3/10/2026). Dok Istimewa

    Kompleksitas persoalan kesehatan membuat satu bidang keilmuan saja sulit untuk menjawab seluruh tantangan. Kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya menjadi semakin penting.

    Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sumber Daya Umum dan Keuangan (PSDUK) Unisba, Dr. Helmi Aziz, S.Pd.I., M.Pd.I., yang mewakili Rektor Unisba, mengatakan forum akademik seperti BICMHS dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif tersebut.

    “Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian dan berbagi temuan ilmiah, tetapi juga untuk bertukar perspektif, mengeksplorasi gagasan baru, memperkuat jejaring akademik, serta membangun kolaborasi dalam menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks,” ujarnya.

    Santun juga mendorong para peneliti dan peserta memanfaatkan konferensi tersebut untuk membangun jejaring serta membuka peluang kerja sama lintas negara. Harapannya, gagasan yang muncul dalam forum akademik tidak berhenti menjadi bahan diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi penelitian, inovasi, maupun program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

    BICMHS 2026 sendiri menghadirkan pembicara dari Indonesia dan sejumlah negara. Konferensi tersebut juga memperoleh akreditasi 2 Satuan Kredit Profesi (SKP) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

    Pada akhirnya, tantangan kesehatan ke depan bukan hanya bagaimana manusia bisa mengobati penyakit lebih cepat. Tantangannya adalah bagaimana ilmu pengetahuan, layanan kesehatan, lingkungan, dan masyarakat dapat bergerak bersama menciptakan kehidupan yang benar-benar lebih sehat dan berkelanjutan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More