Pelatihan Kebencanaan di Jabar Dimasifkan Sebagai Bentuk Antisipasi

- Program CERP-Indonesia 2026 menggelar pelatihan tanggap darurat di Jawa Barat, termasuk Karawang, sejak 26 Juli hingga 8 Agustus, dengan lebih dari 70 persen materi berupa praktik lapangan.
- Guru dan staf SDN Kondangjaya III dilatih menggunakan APAR, melakukan RJP, memindahkan korban, serta membuat tandu sederhana; siswa turut menyaksikan pengenalan kesiapsiagaan.
- Delapan kelas di Jakarta, Karawang, dan Yogyakarta melatih sekitar 400 peserta menghadapi gempa, banjir, serta erupsi, agar mampu memberi pertolongan awal sebelum bantuan profesional datang.
Bandung, IDN Times — Kepanikan kerap menjadi persoalan pertama yang muncul ketika bencana atau kondisi darurat terjadi. Padahal, tindakan sederhana seperti memberikan pertolongan pertama, menggunakan alat pemadam api, hingga mengevakuasi korban dapat membantu mengurangi risiko sebelum bantuan profesional datang.
Hal itu menjadi fokus program Community Emergency Response Partnership (CERP)-Indonesia 2026 yang digelar di sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Karawang. Program yang dimulai sejak 26 Juli dan berakhir pada 8 Agustus 2026 ini memberikan pelatihan tanggap darurat kepada masyarakat dengan lebih dari 70 persen materi berupa praktik lapangan.
1. Guru dan staf sekolah dilatih menghadapi kondisi darurat

Pelatihan Kebencanaan di Jabar Dimasifkan Sebagai Bentuk Antisipasi. Dok Istimewa Salah satu pelatihan digelar di SDN Kondangjaya III, Karawang. Tenaga pendidik dan staf sekolah mendapatkan materi mengenai kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di lingkungan sekolah.
Peserta tidak hanya mendapatkan teori. Mereka mempraktikkan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), teknik resusitasi jantung paru (RJP), cara memindahkan korban, hingga membuat tandu sederhana menggunakan peralatan yang tersedia.
Kepala SDN Kondangjaya III Nurhasanah mengatakan, guru dan staf merupakan pihak yang paling dekat dengan siswa ketika kondisi darurat terjadi sehingga keterampilan tersebut dinilai penting.
“Kami tentunya sangat mendukung pelatihan seperti ini karena memberikan pengetahuan yang penting bagi guru dan staf karyawan kami. Apalagi, kami merupakan pihak yang berada paling dekat dengan siswa ketika terjadi situasi darurat di sekolah," ujar Nurhasanah.
Kegiatan praktik tersebut juga disaksikan para siswa. Momen itu sekaligus menjadi pengenalan mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana sejak usia dini.
2. Peserta belajar RJP hingga membuat tandu sederhana

Pelatihan Kebencanaan di Jabar Dimasifkan Sebagai Bentuk Antisipasi. Dok Istimewa Program CERP-Indonesia digelar melalui delapan kelas pelatihan di Jakarta, Karawang, dan Yogyakarta. Sekitar 400 peserta dari tingkat komunitas mengikuti rangkaian pelatihan tersebut.
Materi disesuaikan dengan karakteristik bencana dan kondisi masyarakat di setiap wilayah. Peserta mempelajari keterampilan dasar seperti RJP atau CPR, pembalutan luka, hingga simulasi menghadapi gempa bumi, banjir, dan erupsi gunung berapi.
Manager General Affairs SANY Indonesia Rony mengatakan, metode pelatihan dibuat agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu melakukan tindakan secara langsung.
“Pelatihan ini tidak terlalu fokus pada teori yang panjang, melainkan peserta belajar melalui praktik langsung dalam kelompok kecil dengan pendampingan instruktur," paparnya.
Menurut dia, peserta kemudian mempraktikkan keterampilan tersebut berulang kali. Instruktur memberikan koreksi apabila terdapat gerakan atau prosedur yang belum tepat.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat peserta lebih siap menghadapi kondisi darurat yang bisa terjadi di lingkungan sekolah, tempat kerja, maupun komunitas.
3. Masyarakat dibekali kemampuan sebelum bantuan datang

Ilustrasi Gempa (Magnific) Deputy General Manager SANY Indonesia Saanjay Shamdasani mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengambil tindakan awal ketika menghadapi keadaan darurat.
“Program ini dirancang untuk membangun kemampuan masyarakat dalam melakukan pertolongan awal secara mandiri sekaligus saling membantu ketika menghadapi situasi darurat," kata dia.
Bagi peserta, kemampuan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Mereka diharapkan dapat menerapkan keterampilan pertolongan pertama dan penanggulangan bencana di lingkungan masing-masing.
Peserta yang menyelesaikan pembelajaran teori dan lulus penilaian praktik memperoleh sertifikat, sementara peserta terbaik mendapatkan penghargaan. Program ini juga diharapkan dapat dikembangkan ke lebih banyak wilayah untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan jejaring penanggulangan bencana.








.jpg)






