Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gen Z Mulai Kembali Melirik Musik dalam Format Fisik

Kota Bandung
Gen Z Mulai Kembali Melirik Musik dalam Format Fisik
Black vinyl (unsplash.com/@adkorte)
  • Generasi Z semakin dominan membeli piringan hitam dan CD, termasuk konsumen usia sekolah, terlihat dari perubahan demografi pembeli dalam gelaran Record Store Day.
  • Rilisan fisik diminati karena memberi pengalaman memiliki karya musisi secara nyata, sekaligus menjadi benda koleksi yang berbeda dari akses musik melalui streaming.
  • Koleksi musik fisik turut digunakan anak muda untuk menunjukkan selera dan identitas; minat tetap tinggi meski harga vinyl album berkisar Rp500 ribu hingga Rp650 ribu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times – Di tengah kemudahan mengakses jutaan lagu melalui layanan streaming, generasi Z justru mulai menunjukkan ketertarikan terhadap musik dalam format fisik. Piringan hitam dan CD kembali dilirik, bukan hanya sebagai media untuk mendengarkan musik, tetapi juga sebagai benda koleksi.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pembeli muda di sejumlah toko musik. Piringan hitam menjadi salah satu rilisan fisik yang banyak diburu, bahkan ketertarikan tersebut mulai menjangkau konsumen usia sekolah.

Founder 33 RPM, Miko Andrean, mengatakan perubahan demografi pembeli paling terasa dalam gelaran Record Store Day. Generasi Z disebut semakin dominan dibandingkan generasi sebelumnya dalam berburu rilisan fisik.

“Baru tahun inilah perubahannya kayak, wah kok tiba-tiba Gen Z ya yang lebih, bahkan anak SMP udah membeli piringan hitam,” kata Miko dalam diskusi bertajuk "Musik Analog Berjaya Lagi?" di Kopikina Kemang, Jumat (7/8/2026).

  1. 1. Rilisan fisik memberi pengalaman berbeda

    Gen Z Mulai Kembali Melirik Musik dalam Format Fisik (Dok. Istimewa)
    Gen Z Mulai Kembali Melirik Musik dalam Format Fisik (Dok. Istimewa)

    Menurut Miko, ketertarikan generasi Z terhadap piringan hitam dan CD salah satunya didorong keinginan untuk memiliki karya musisi favorit dalam bentuk nyata. Berbeda dengan streaming yang memberikan akses untuk mendengarkan lagu, rilisan fisik menghadirkan sesuatu yang bisa dimiliki dan dikoleksi.

    “Kalau streaming itu tidak memiliki bentuk fisik. Jadi ketika ada format CD dan piringan hitam, mereka jadi merasa punya sesuatu, oh this is something,” ujarnya.

    Produser sekaligus pengamat musik David Tarigan menilai kebiasaan membeli rilisan fisik meski belum memiliki perangkat pemutar juga bukan fenomena baru. Ia bahkan mengaku pernah membeli piringan hitam ketika berusia 12 tahun tanpa memiliki player.

  2. 2. Koleksi musik ikut menjadi cara menunjukkan identitas

    Gen Z Mulai Kembali Melirik Musik dalam Format Fisik (Dok. Istimewa)
    Gen Z Mulai Kembali Melirik Musik dalam Format Fisik (Dok. Istimewa)

    Bagi sebagian anak muda, mengoleksi rilisan fisik tidak hanya berkaitan dengan aktivitas mendengarkan musik. Koleksi tersebut juga dapat menjadi bagian dari cara mereka menunjukkan selera dan membentuk identitas personal melalui karya musisi yang dipilih.

    “Pengoleksian ini tuh berhubungan juga dengan identitas,” kata David.

    Ketertarikan tersebut juga membuat harga menjadi bukan satu-satunya pertimbangan. Miko menyebut harga vinyl baru saat ini dapat mencapai Rp650 ribu, tetapi angka tersebut tetap tidak menyurutkan minat konsumen muda untuk membeli rilisan yang mereka inginkan.

  3. 3. Harga vinyl tetap diburu konsumen muda

    ilustrasi mendengarkan musik piringan hitam (pexels.com/Anton H)
    ilustrasi mendengarkan musik piringan hitam (pexels.com/Anton H)

    Miko mengatakan harga piringan hitam untuk satu album saat ini berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Sementara itu, vinyl baru disebut memiliki harga termurah sekitar Rp650 ribu.

    “Ketika kalian beli piringan hitam satu album tuh harga Rp500-600 ribu, bahkan vinyl baru itu sekarang paling murah tuh Rp650 ribu, tetap dibeli aja,” pungkas Miko.

    Fenomena kembalinya minat terhadap musik fisik menjadi bagian dari pembahasan dalam rangkaian perayaan satu dekade Tirto.id bertajuk “Badai Nostalgia” yang digelar Jumat (7/8/2026). Acara ini menghadirkan berbagai diskusi interaktif, mulai dari warisan kuliner, nostalgia kendaraan klasik, hingga geliat musik analog.

    Kemeriahan perayaan sepuluh tahun Tirto.id ini terselenggara berkat dukungan para sponsor PLN, Danone, PGN, Merdeka Copper Gold (MDKA) dan LPS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More