Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jatuh Bangun Gudang Jam Bandung Selama 13 Tahun di Industri Arloji

Kota Bandung
3 min read
Jatuh Bangun Gudang Jam Bandung Selama 13 Tahun di Industri Arloji
Gudang Jam, Bandung. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • Gudang Jam merasakan industri arloji sangat bergantung pada daya beli karena jam tangan merupakan belanja yang dapat ditunda, meski tetap diminati sebagai produk fashion.

  • Dirintis sejak 2010 dan membuka toko pertama pada 2013, Gudang Jam melewati masa penjualan ramai 2017-2018 serta tekanan pandemi dengan pendanaan tambahan demi operasional dan gaji staf.

  • Di tengah pasar selektif, Gudang Jam membuka gerai lima lantai di Jalan Taman Pramuka, menyediakan lebih dari 50 ribu SKU, 20 merek, serta area jam dinding.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Industri jam tangan di Bandung menghadapi tantangan di tengah pola belanja masyarakat yang semakin selektif. Produk jam tangan dinilai bukan kebutuhan primer sehingga pembeliannya sangat bergantung pada kondisi daya beli.

Kondisi itu juga dirasakan Gudang Jam yang telah menjalankan bisnisnya selama 13 tahun di Kota Bandung. Pemilik Gudang Jam, Francisco, mengatakan, bisnis arloji ini sempat mengalami masa kejayaan di mana penjualan sangat ramai pada periode 2017-2018.

"Zaman dulu paling rame itu di tahun 2017-2018, rame paling ramai-ramainya," ujar Francisco saat grand opening gerai baru Gudang Jam di Jalan Taman Pramuka Nomor 165, Kota Bandung, Senin (29/9/2026).

  1. 1. Jam tangan jadi belanja yang bisa ditunda

    IMG-20260929-WA0048.jpg
    Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Francisco menyadari, posisi jam tangan dalam kebutuhan masyarakat membuat industri ini sangat terpengaruh oleh daya beli. Berbeda dengan makanan atau kebutuhan rumah tangga, jam tangan bisa dibeli setelah kebutuhan utama terpenuhi.

    "Orang sudah makan, punya rumah, makan, baju, baru kita yang paling terakhir. Kita ini opsi terakhir, discretionary spending," katanya.

    Menurut Francisco, pasar jam tangan sebenarnya tetap tersedia karena produk tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan fashion. Namun, besarnya permintaan tidak selalu stabil.

    "Kami ngeri-ngeri sedap ya, kami bertahan dulu. Yang jual makanan sama baju saja hese (susah), apalagi kita jam," ujarnya.

  2. 2. Selama 13 tahun mengalami naik-turun bisnis

    IMG-20260929-WA0043.jpg
    Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Gudang Jam mulai dirintis Francisco setelah dirinya kembali ke Indonesia pada 2010. Tiga tahun kemudian, toko pertama dibuka di Jalan Terate, Bandung.

    Menurutnya, masa awal bisnis menjadi tantangan tersendiri, dan saat itu produk yang dijual tidak termasuk kebutuhan sehari-hari sehingga membutuhkan waktu untuk membangun pasar.

    "Kalau dunia merchandise seperti ini sangat susah di awal-awal. Seperti bayi saja baru lahir, itu yang paling susah," katanya.

    Setelah bisnis berjalan sekitar enam hingga tujuh tahun, pandemik COVID-19 menjadi masa yang paling berat. Dia mengatakan, Gudang Jam harus mencari sumber pendanaan tambahan, termasuk melalui pinjaman bank, agar operasional perusahaan tetap berjalan.

    "Yang penting listrik PLN dan gaji sama staf semua tetap berjalan dan tidak ada potongan satu Rupiah pun karena itu komitmen kami," ujarnya.

  3. 3. Buka gerai baru di tengah pasar yang selektif

    IMG-20260929-WA0046.jpg
    Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Di tengah kondisi pasar tersebut, Gudang Jam justru membuka gerai baru dengan konsep lima lantai di Jalan Taman Pramuka, setelah sebelumnya membangun beroperasi di Jalan Ir H Djuanda Nomor 14, Bandung.

    Francisco mengatakan lokasi baru memberikan ruang lebih besar untuk menghadirkan berbagai pilihan produk. Gudang Jam mengklaim memiliki lebih dari 50 ribu SKU di lokasi tersebut dan lebih dari 20 merek jam tangan.

    Produk yang tersedia mulai dari kisaran Rp200 ribuan hingga jutaan Rupiah, termasuk Casio, G-Shock, Alexandre Christie, Expedition dan sejumlah merek lainnya. Namun, strategi bisnisnya tidak hanya mengandalkan jam tangan. Gudang Jam juga menyediakan satu lantai khusus jam dinding dengan berbagai ukuran dan desain.

    Bagi Francisco, keberadaan toko fisik masih penting karena konsumen dapat melihat dan mencoba langsung produk sebelum membeli.

    "Karena tidak seperti TV atau HP, kalau ini harus dicoba tebal, tipis, berat, ringan, macam-macam. Experience-nya ada," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More