Potret Pedaltrax, Kendaraan Hybrid untuk Mobilitas di Kampus ITB

- ITB mengembangkan Pedaltrax, kendaraan hybrid hasil kolaborasi FSRD dan FTMD, untuk menjawab kebutuhan mobilitas mahasiswa di Kampus Jatinangor yang berbukit.
- Pedaltrax memadukan kayuhan dan motor listrik 3.000 watt, dengan baterai 72V 45Ah serta panel surya 120 Wp; estimasi jaraknya 60–80 kilometer per pengisian.
- Kendaraan ini memiliki bagasi dan akses kursi roda, melibatkan mahasiswa dalam pengujian, serta purwarupanya masih terbuka untuk penyempurnaan dan pengembangan lanjutan.
Bandung, IDN Times - Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan kendaraan hybrid bernama Pedaltrax yang menggabungkan tenaga kayuhan manusia dengan motor listrik. Kendaraan ini dirancang sebagai alternatif transportasi ramah lingkungan untuk mendukung mobilitas di lingkungan kampus.
Pedaltrax dikembangkan melalui kolaborasi bidang Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Salah satu fokus pengembangannya ialah menjawab kebutuhan mobilitas di Kampus ITB Jatinangor yang memiliki kontur berbukit dan banyak tanjakan.
Tak hanya mengandalkan teknologi hybrid, kendaraan ini juga dirancang dengan konsep inklusif. Pedaltrax dilengkapi bagasi untuk membawa barang serta akses bagi pengguna kursi roda.
1. Berawal dari persoalan mobilitas mahasiswa

Potret Pedaltrax, Kendaraan Hybrid ITB untuk Mobilitas Kampus yang Inklusif. Dok ITB Dosen Kelompok Keahlian Manusia dan Desain Produk Industri ITB, Dr. Bismo Jelantik Joyodiharjo, S.Sn., M.Ds., mengatakan pengembangan Pedaltrax berawal dari kebutuhan menghadirkan sarana transportasi berkelanjutan bagi mahasiswa di Kampus ITB Jatinangor.
Kebutuhan tersebut salah satunya dipetakan melalui mata kuliah Pengenalan Rekayasa dan Desain (PRD). Mahasiswa mengidentifikasi sejumlah persoalan mobilitas, mulai dari kesulitan membawa barang hingga tantangan melintasi jalan menanjak.
Masukan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi spesifikasi kendaraan, termasuk aspek ergonomi, efisiensi material dan struktur, hingga pengalaman pengguna.
"Bagaimana dia bisa tetap mengayuh, tetapi posisinya ergonomis dan sudut pandangnya ke depan juga tidak terganggu. Kemudian tentu ada hukum-hukum fisika, salah satunya distribusi beban itu harus merata," kata Bismo.
Menariknya, desain Pedaltrax tidak dibuat dengan mengadaptasi bentuk kendaraan tertentu seperti becak. Tim pengembang memulai rancangan dari "kanvas kosong" dengan mempertimbangkan kebutuhan mengayuh, posisi pengendara, visibilitas, serta distribusi beban.
2. Punya sistem hybrid untuk melibas tanjakan

Potret Pedaltrax, Kendaraan Hybrid ITB untuk Mobilitas Kampus yang Inklusif. Dok ITB Pedaltrax menggunakan sistem penggerak hybrid yang mengombinasikan tenaga manusia dan motor listrik. Pada medan datar, kendaraan dapat digerakkan dengan kayuhan, sedangkan motor listrik memberikan bantuan ketika kendaraan melewati tanjakan.
Kendaraan tersebut menggunakan baterai 72 volt 45 Ah dan motor BLDC berdaya 3.000 watt. Sistem penggeraknya dilengkapi reduksi 2:1 untuk membantu menghasilkan tenaga ketika melintasi medan menanjak.
Berdasarkan perkiraan awal tim pengembang, Pedaltrax dapat menempuh jarak sekitar 60-80 kilometer dalam satu kali pengisian daya. Namun, jarak tempuh aktual masih bergantung pada kondisi medan dan pola penggunaan kendaraan.
Pedaltrax juga dilengkapi panel surya berkapasitas 120 Wp. Panel tersebut dapat membantu pengisian baterai melalui kontroler dengan sistem Maximum Power Point Tracking (MPPT).
Ketika tenaga kayuhan dan motor listrik digunakan secara bersamaan, konsumsi energi dari baterai dapat ditekan sehingga berpotensi memperpanjang jarak tempuh sesuai kondisi perjalanan.
3. Bukan cuma ramah lingkungan, tapi juga inklusif

Potret Pedaltrax, Kendaraan Hybrid ITB untuk Mobilitas Kampus yang Inklusif. Dok ITB Pedaltrax tidak hanya dikembangkan dengan mempertimbangkan efisiensi energi. Tim ITB juga memasukkan kebutuhan pengguna yang beragam dalam proses perancangannya.
Kendaraan ini dilengkapi bagasi untuk membantu mahasiswa membawa barang selama berada di kawasan kampus. Selain itu, tersedia akses bagi pengguna kursi roda sebagai bagian dari penerapan prinsip desain inklusif.
Dalam pemilihan komponennya, tim juga berupaya memprioritaskan produk buatan Indonesia selama tersedia dan sesuai dengan kebutuhan kendaraan.
Sistem Pedaltrax dirancang agar komponen-komponennya dapat diganti dan dikembangkan lebih lanjut. Dengan begitu, kendaraan ini masih terbuka untuk penelitian dan penyempurnaan oleh peneliti maupun mahasiswa ITB.
4. Mahasiswa ikut menguji dan mengembangkan

Potret Pedaltrax, Kendaraan Hybrid ITB untuk Mobilitas Kampus yang Inklusif. Dok ITB Pengembangan Pedaltrax tidak hanya melibatkan dosen dan peneliti. Mahasiswa juga dilibatkan dalam proses pengujian dan evaluasi kendaraan melalui kegiatan akademik di Desain Produk.
Mahasiswa dari mata kuliah Desain Mobilitas serta Laboratorium DEMAND (Teknologi dan Manufaktur berbasis Desain) FSRD ITB turut menguji purwarupa tersebut. Mereka mengevaluasi kelebihan dan kekurangan kendaraan berdasarkan pendekatan akademis.
"Jadi produk ini untuk mahasiswa, dan oleh mahasiswa," ujar Bismo.
Pedaltrax mulai didesain pada Mei 2026, dilanjutkan dengan pengembangan pada Juni dan memasuki tahap fabrikasi pada Juli 2026. Purwarupa yang ada saat ini masih menjadi versi awal sehingga terbuka untuk berbagai penyempurnaan.
Ke depan, ITB juga membuka peluang menghubungkan pengembangan Pedaltrax dengan riset elektrifikasi berbasis pengolahan sampah yang tengah dilakukan peneliti kampus.
Pengembangan kendaraan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai purwarupa, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem mobilitas kampus yang lebih efisien dalam penggunaan energi, ramah lingkungan, dan inklusif bagi berbagai pengguna.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















