Soal Warga Berobat ke Luar Negeri, Menkes Budi: Kita Introspeksi

- Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta fenomena warga berobat ke Malaysia dan Singapura disikapi lewat introspeksi serta perbaikan layanan kesehatan domestik, bukan saling menyalahkan.
- Keterbatasan alat canggih di daerah dan antrean padat di Jakarta membuat pasien, terutama yang mampu, memilih layanan luar negeri untuk CT scan atau pemasangan ring jantung.
- Pemerataan peralatan medis di rumah sakit daerah disebut mulai menurunkan pasien Indonesia ke Singapura; pemerintah menargetkan layanan lokal berkualitas agar warga bisa berobat dekat keluarga.
Sukabumi, IDN Times – Fenomena masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya Malaysia dan Singapura, kerap menjadi sorotan di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta semua pihak untuk tidak saling menyalahkan, melainkan fokus melakukan introspeksi dan pembenahan fasilitas kesehatan di dalam negeri.
Hal itu disampaikan Menkes Budi saat memberikan tanggapan terkait maraknya ajakan berobat ke luar negeri di sela-sela kunjungannya.
Berikut adalah poin-poin penting tanggapan Menkes Budi Gunadi Sadikin terkait pelayanan medis nasional dan tren warga berobat ke luar negeri.
1. Menkes ajak introspeksi ketimbang energi negatif

Menkes Budi Gunadi Sadikin (IDN Times/Siti Fatimah) Menkes menegaskan bahwa fenomena tingginya minat warga berobat ke luar negeri harus disikapi secara bijak tanpa perlu emosi atau mendiskreditkan negara lain. Menurutnya, hal terpenting adalah memperbaiki kualitas layanan kesehatan dalam negeri.
"Kenapa itu bisa terjadi? Kita harus introspeksi diri. Jangan selalu apa-apa negatif, menyalahkan, itu energinya nggak bagus. Memang, ya udah, kita perbaiki layanan kita supaya orang nggak ke sana," ujar Budi di Kabupaten Sukabumi, Rabu (12/8/2026).
2. Antrean dan keterbatasan alat jadi pemicu

Ilustrasi rumah sakit. (IDN Times/Khaerul Anwar) Budi menjelaskan salah satu penyebab utama warga memilih berobat ke Malaysia atau Singapura adalah keterbatasan alat canggih di daerah. Dulu, penanganan medis berat seperti pemasangan ring jantung atau pemindaian CT Scan hanya terpusat di rumah sakit provinsi atau ibu kota.
Akibatnya, antrean di Jakarta sangat padat karena menampung pasien dari berbagai daerah. Kondisi tersebut mendorong masyarakat yang mampu secara finansial memilih opsi berobat ke luar negeri.
"Wajar aja kan orang Sukabumi yang mau mendapatkan layanan CT scan atau pasang ring harus datang ke Jakarta. Lah di Jakarta kan antrenya udah penuh sama orang Jakarta seluruh Indonesia, jadi nggak kebagian. Akibatnya yang mampu akhirnya larinya ke Malaysia dan Singapura," katanya
3. Klaim jumlah pasien Indonesia di Singapura menurun

ilustrasi rumah sakit (pexels.com/RDNE Stock project) Menkes membeberkan bahwa upaya modernisasi alat medis di berbagai rumah sakit daerah mulai menunjukkan hasil positif. Tren kunjungan pasien asal Indonesia ke luar negeri, khususnya Singapura, dilaporkan mulai mengalami penurunan.
"Di Singapura saya dengar sudah mulai menurun pasiennya. Itu kan artinya sudah berkurang orang-orang Indonesia yang ke sana ya. Di Malaysia sekarang, kemarin saya amati, memang masih ada karena lebih murah ya, tetapi yang tadinya naiknya tinggi, sekarang sudah melandai," kata Menkes.
4. Upaya peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit di daerah

ilustrasi rumah sakit (pexels.com/Pixabay) Dengan adanya pemerataan peralatan canggih hingga tingkat kabupaten/kota, Menkes optimistis masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh berobat ke luar daerah apalagi luar negeri. Selain menghemat biaya, pasien juga bisa didampingi oleh keluarga secara terdekat.
"Siapa yang senang kalau mau operasi jantung ke Malaysia? Orang Indonesia kan kalau ada yang sakit, keluarganya mau temenin. Kalau ada layanan yang sama bagusnya, pasti dilakukan di sini. Kita pastikan kita perbaiki layanan RSUD Sukabumi supaya jadi bagus. Semua orang Sukabumi operasi di sini," katanya.
Menkes Budi memberikan tolok ukur sederhana untuk menilai apakah kualitas fasilitas kesehatan di daerah sudah benar-benar mumpuni dan dipercaya oleh pejabat lokalnya sendiri.
"Ujiannya gampang satu, kalau Pak Bupati sakit, apa pun dia, keluarganya tidak dibawa ke Jakarta dan Hasan Sadikin Bandung, bawa ke sini (RSUD lokal). Nah, itu artinya Direkturnya luar biasa," kat Menkes Budi.



















