Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tragis! Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri

Tragis! Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri
Jenazah bocah usai diautopsi di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)
Intinya Sih
  • Seorang bocah 12 tahun di Sukabumi meninggal dunia dengan luka bakar dan lebam, diduga akibat penganiayaan oleh ibu tirinya saat sang ayah bekerja di luar kota.
  • Sebelumnya, korban pernah mengalami kekerasan pada tahun 2025 yang sempat dilaporkan ke polisi namun berakhir damai setelah mediasi antara keluarga.
  • Kasus kematian ini kini diselidiki kepolisian dengan metode investigasi ilmiah untuk memastikan penyebab pasti dan menegakkan keadilan berdasarkan fakta medis serta hukum.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kabupaten Sukabumi, IDN Times – Duka menyelimuti keluarga NS (12 tahun), bocah asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, yang meninggal dunia usai menjalani perawatan di RSUD Jampangkulon. Kepergiannya menyisakan tanda tanya, setelah pada tubuh santri kelas 1 SMP tersebut ditemukan luka bakar dan lebam di sejumlah bagian.

Ayah korban, Anwar Satibi (38), mengaku tak menyangka kondisi anaknya berubah drastis hanya dalam waktu dua hari. Ia menyebut sebelum berangkat kerja ke Kota Sukabumi, putranya dalam keadaan sehat.

“Faktanya sebelum saya berangkat, anak saya sehat-sehat saja. Tapi pulang sudah sakit,” ujar Anwar, Sabtu (21/2/2026).

NS diketahui tinggal di rumah bersama ibu tirinya, sementara sang ayah kerap bekerja di luar kota sebagai penyedia jasa panggilan. Pada malam pertama Ramadan, Anwar mendapat telepon dari istrinya yang menyebut anak mereka mengigau dan demam tinggi.

“Istri saya telepon, katanya si Raja (panggilan anaknya) sudah ngelantur dan panas. Saya langsung pulang,” tuturnya.

1. Diduga dianiaya ibu tiri

IMG_1311.jpeg
Ayah korban histeris (IDN Times/Siti Fatimah)

Sesampainya di rumah, Anwar terkejut melihat kondisi kulit anaknya yang melepuh di sejumlah bagian tubuh. Ia sempat mempertanyakan kondisi tersebut kepada istrinya dan mendapat jawaban bahwa luka itu akibat panas tinggi.

Namun, kecurigaan muncul saat di rumah sakit, anaknya mengaku sempat dipaksa minum air panas oleh ibu tirinya. Pengakuan itu disampaikan saat berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Dia menjawab itu di rumah sakit, posisinya sudah seperti itu. Dari IGD beberapa jam, lalu dipindah ke ICU. Tidak lama kemudian meninggal,” kata Anwar.

Merasa ada kejanggalan, Anwar pun mendorong dilakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian putranya. Ia mengaku sempat bimbang karena tak tega tubuh anaknya dibedah, namun akhirnya tetap mengizinkan demi mendapatkan kepastian.

“Saya tidak bisa menuduh sembarangan. Saya hanya ingin memastikan, daripada penasarannya panjang, lebih baik diautopsi,” ujarnya.

2. Sempat terjadi penganiayaan pada tahun 2025

IMG_1316.jpeg
Ayah histeris kehilangan anaknya (IDN Times/Siti Fatimah)

Anwar juga mengungkapkan bahwa setahun lalu ia pernah melaporkan dugaan penganiayaan terhadap anaknya ke polisi. Peristiwa itu dipicu pertengkaran antara korban dan anak angkat istrinya.

“Waktu itu anak saya dipukuli pakai benda. Sudah pernah saya laporkan, tapi dimediasi dan sempat damai,” katanya.

NS sendiri telah mondok di pesantren selama sekitar satu tahun sejak masuk SMP. Anwar menyebut anak sulung dari tiga bersaudara itu bercita-cita menjadi kiai.

“Itu yang bikin saya sakit. Cita-citanya ingin jadi kiai,” ucapnya, lirih.

3. Kasus dilaporkan ke polisi

IMG_1307.jpeg
Jenazah bocah usai diautopsi di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Terkait kasus ini, Anwar mengaku sudah melapor ke Polsek setempat untuk sementara waktu, sembari menunggu proses lebih lanjut di tingkat Polres. Ia berharap kasus yang menimpa putranya bisa diusut tuntas apabila terbukti ada tindak pidana.

Sementara itu, Kapolres Sukabumi AKBP Samian meminta masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan yang diambil penyidik didasarkan pada fakta medis dan hukum yang akurat.

"Kami memahami keprihatinan masyarakat, namun kami meminta agar semua pihak bersabar. Jangan terpancing oleh narasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Berikan kesempatan bagi tim forensik dan penyidik untuk bekerja secara profesional guna memastikan keadilan bagi almarhum," ujar Samian.

Aparat menerapkan langkah scientific crime investigation untuk meneliti secara objektif kaitan antara temuan fisik luar berupa luka bakar api derajat 2A serta luka tumpul pada bibir, dengan temuan medis internal adanya penyakit kronis pada paru-paru korban.

"Investigasi ilmiah ini menjadi dasar utama kami untuk mengungkap fakta yang sebenarnya secara akurat dan transparan, tanpa terpengaruh isu yang berkembang di tengah publik," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More