Teguran KDM kepada Bupati Purwakarta soal Kontroversi Lagu Ciptaannya

- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegur Bupati Purwakarta Saiful Bahri Binzein atas lagu ciptaannya yang dinilai merendahkan perempuan dan telah dihapus dari seluruh platform digital.
- Dedi menekankan pentingnya kehati-hatian pejabat publik dalam menyampaikan pengalaman pribadi karena setiap ucapan dapat berdampak sosial dan memengaruhi kepercayaan masyarakat.
- Om Zein meminta maaf kepada publik, menghapus lagu tersebut, dan berkomitmen menjalankan sanksi moral dengan merenovasi rumah janda serta membantu pendidikan anak-anak mereka.
Bandung, IDN Times - Lagu kontroversi 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' ciptaan Bupati Purwakarta, Saiful Bahri Binzein atau Om Zein berbuntut teguran oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM. Lagu tersebut pun kini sudah dihapus seluruhnya dari platform digital.
KDM juga menasihati Om Zein agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pengalaman pribadi kepada publik, karena setiap ucapan dan tindakan seorang kepala daerah tidak lagi dipandang sebagai urusan pribadi, melainkan akan dinilai dan dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat.
Didampingi sejumlah kepala OPD Pemprov Jabar, Dedi pun bertemu langsung Om Zein dan menanyakan mengenai apa maksud lagi tersebut dan mengapa menciptakan lagu yang dinilai merendahkan perempuan ini.
Om Zein mengakui lagu tersebut merupakan refleksi pengalaman pribadinya sebelum terjun ke dunia politik dan pemerintahan.
"Jadi cerita tentang diri saya, waktu mudanya nakal sebelum jadi bupati itu nakal," ujar Om Zein, Senin (6/7/2026).
1. Pejabat publik tidak bisa seenaknya menceritakan kehidupan pribadi

Menurut Om Zein, lagu tersebut dibuat untuk menceritakan fase kehidupannya di masa lalu. Ia mengaku pernah menjalani kehidupan yang jauh berbeda dibandingkan sekarang ketika mengemban amanah sebagai kepala daerah.
Mendengar pengakuan itu, KDM kemudian mengajak Om Zein melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Menurut Dedi, perilaku yang sama akan memiliki konsekuensi sosial yang berbeda apabila dialami perempuan.
Dedi menilai masyarakat sering kali memberikan penilaian yang jauh lebih berat terhadap perempuan dibandingkan laki-laki dalam kasus serupa. Karena itu, narasi yang disampaikan seorang pejabat publik harus mempertimbangkan dampak sosial yang dapat muncul di tengah masyarakat.
2. Setiap ucapan dan tindakan pejabat harus bisa dipertanggungjawabkan

KDM menegaskan bahwa tidak semua pengalaman pribadi layak disampaikan secara terbuka kepada publik, terutama oleh seorang pejabat negara.
Menurut dia, persoalan bukan terletak pada pengakuan mengenai masa lalu, melainkan pada kemungkinan masyarakat menafsirkan cerita tersebut sebagai bentuk pembenaran atau bahkan penghinaan terhadap martabat perempuan.
"Bapak hari ini adalah bupati, maka setiap ucapan dan tindakan seorang bupati akan selalu dipertanggungjawabkan kepada publik," tegas Dedi.
3. Bupati Purwakarta minta maaf dan siap menerima semua konsekuensi

Dia mengingatkan bahwa kepala daerah memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Karena itu, setiap pernyataan yang disampaikan harus mampu memberikan teladan dan tidak menimbulkan polemik yang dapat melukai kelompok tertentu.
Usai menerima masukan tersebut, Om Zein menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang ditimbulkan.
"Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas itu. Karena saat itu saya buat tidak menyadarinya. Ketika ini menjadi kontroversi, saya salah dalam pemilihan itu," katanya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Om Zein juga mengaku telah menghapus lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat dari seluruh platform media sosial.
Tak hanya itu, ia menyatakan siap menjalankan arahan Dedi Mulyadi sebagai bentuk sanksi moral. Om Zein berkomitmen merenovasi 10 rumah janda di Purwakarta menggunakan dana pribadi sekaligus membantu menjamin pendidikan anak-anak mereka.
"Saya sanggup menjalankan sanksi sosial dari gubernur," kata dia.


















