Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sisa Olahan Ikan Bandeng Disulap Jadi Suplemen Penanganan Stunting

Sisa Olahan Ikan Bandeng Disulap Jadi Suplemen Penanganan Stunting
Mahasiswa Unpad buat kapsul penanganan stunting. Dok Humas Unpad
Share Article

Bandung, IDN Times - Sisa olahan ikan bandeng (Chanos chanos) biasanya dibuang ke lingkungan atau diolah kembali dan dijadikan pakan ternak. Padahal, tingginya kandungan kalsium dan protein membuat tulang ikan bandeng berpotensi sebagai suplemen penanganan stunting.

Didasarkan pertimbangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) dari Fakultas Farmasi melakukan riset untuk merancang formulasi kapsul suplemen kalsium-protein untuk balita menggunakan sisa produksi tulang ikan bandeng. Kapsul suplemen kalsium-protein ini diberi nama Grow Kiddy.

Salah satu tim riset, Sarah Rasiya mengatakan, sisa produksi tulang ikan bandeng dalam penelitian ini didapatkan dari pemasok tulang ikan bandeng di daerah Ujung Berung, Kota Bandung. Dari sisi bentuk sediaan suplemen, kapsul merupakan salah satu sediaan yang praktis dikarenakan lebih mudah ditelan.

"Apabila terdapat balita yang kesulitan dalam menelan kapsul, serbuk dalam kapsul pun dapat dilarutkan," kata dia di laman Unpad.ac.id, dikutip Senin (22/7/2024).

1. Kapsul ini mudah dibuat dan dikonsumsi

Ilustrasi balita (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Ilustrasi balita (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Menurutnya, kapsul juga tidak berasa, mudah diberikan, serta mudah diisi, baik secara langsung maupun dalam jumlah besar secara komersial. Rangkaian proses riset dimulai dengan persiapan bahan tulang ikan bandeng dengan mencuci dan merebus. Lalu, dilakukan presto pada sampel segar. Kemudian, dilakukan pengeringan, dihaluskan, dan diayak.

Setelah itu, dicampurkan bahan-bahan yang terdapat dalam formulasi ke dalam tepung tulang ikan bandeng lalu digerus. Serbuk tulang ikan bandeng yang telah didapatkan selanjutnya diuji kandungan kalsium dan protein. Hasil pengujian juga akan ditinjau untuk dasar pertimbangan penetapan dosis yang tepat bagi pengguna suplemen.

2. Kapsul berisi kalsium dan protein

ilustrasi makanan berprotein tinggi (family.abbott)
ilustrasi makanan berprotein tinggi (family.abbott)

Adapun pengujian lainnya berupa pengujian waktu hancur, sifat alir, dan keseragaman bobot kapsul. Seluruh pengujian ditujukan agar formulasi yang dirancang telah memenuhi syarat keberterimaan sesuai pedoman yang ada. Penelitian ini diharapkan dapat menghadirkan suplemen yang dapat menurunkan angka prevalensi stunting. Suplemen hasil riset ini juga dapat membantu peningkatan kesehatan balita.

“Kapsul suplemen kalsium-protein ini diharapkan dapat memiliki efektivitas yang baik dari sisi zat penyusunnya, sehingga ke depannya angka prevalensi stunting di Indonesia menurun hingga mencapai batas standar prevalensi yang ditetapkan oleh WHO, yaitu tidak melebihi 20%” ujar Sarah.

3. Kemenkes ingin penurunan angka stunting dipercepat

Ilustrasi balita (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Ilustrasi balita (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti lambatnya penurunan angka stunting di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka stunting di Indonesia pada tahun 2023 tercatat sebesar 21,5 persen, hanya turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 21,6 persen.

Menkes Budi mengungkapkan bahwa salah satu penyebab rendahnya penurunan stunting adalah belum ditemukannya model implementasi yang efektif untuk program yang telah ditetapkan. Ia menilai ada masalah dalam eksekusi di lapangan sehingga program pencegahan stunting tidak berjalan dengan optimal.

“Masalah eksekusi di lapangannya, implementasi di lapangannya, itu belum ketemu model implementasi di lapangan yang pas. Nah, itu yang sekarang sedang kita cari model pas-nya,” ucap Menkes Budi, dikutip dari Antara.

Menurut Menkes Budi, permasalahan ini hampir terjadi di semua wilayah Indonesia. Ia menekankan bahwa tidak ada satu daerah pun yang secara konsisten berhasil menekan prevalensi stunting.

“Nggak ada satu daerah yang konsisten di satu provinsi, bahkan di satu kabupaten atau kota sedikit sekali yang bisa (konsisten),” lanjutnya.

Saat ini, Kementerian Kesehatan tengah melakukan evaluasi terkait permasalahan ini, dengan memberikan perhatian khusus pada anak-anak yang masuk dalam kategori wasting dan berisiko tinggi mengidap stunting. Implementasi protokol pencegahan stunting yang ideal diharapkan dapat diterapkan dengan baik.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
Debbie Sutrisno
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More

Persib Tersandung Sanksi FIFA Jelang Bursa Transfer, Ini Penjelasannya

30 Mei 2026, 15:48 WIBNews