Ilustrasi jenazah. (IDN Times/Sukma Shakti)
Dengan begitu, Zaipul mengklaim informasi mengenai mortir meledak di area Pusdikif keliru. Dia memastikan, mortir ini meledak di pemukiman warga yang menemukan, kemudian dilakukan upaya pembongkaran hingga meledak.
"Sudah, sudah ada tim saya ke Polres. Kami meluruskan berita yang tidak benar itu. Masyarakat kan biasa di situ cari-cari sambil menggali-gali kan banyak munisi-munisi sisa zaman dulu gitu loh. Terus diketok-ketok sendiri di rumahnya, meledak gitu loh," tuturnya.
Selama proses latihan yang dilakukan Pusdikif di area Cipatat tersebut, Zaipul mengatakan, imbauan agar warga tidak memasuki area latihan sudah terus diingatkan. Bahkan, rambu-rambu pun sudah dipasang.
"Sudah di perbatasan latihan antara kampung itu sudah kami berikan tulisan dilarang masuk daerah latihan, dilarang keras. Kami kasih plang semua itu, plang-plang pengamanan. Kemudian sebelum latihan penembakan, kami kasih sirene selama lima kali. Sudah kami laksanakan itu SOP-nya," katanya.
Sementara, berdasarkan data yang diterima IDN Times, peristiwa ledakan mortir 81 Komando ini bermula pada hari Rabu tanggal 08 Juli 2026, pukul 10.30 WIB di samping rumah korban Ade, Kampung Ciparang Rt. 004 Rw.007 Desa Cipatat Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
Ledakan ini membuat Ade dan Suhri meninggal di tempat. Sementara, Rodiana meninggal di RS Dustira pada 17.25 WIB. Ledakan tersebut terdengar oleh saksi Dadang Suhendar saat berada di rumahnya. Kemudian dia beserta warga lainnya mengecek ke lokasi dan ditemukan kondisi korban tidak berdaya.