Ilustrasi galon air isi ulang. (Shutterstock/Sudiyanto Salin)
Sementara itu, Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, sebanyak 54,07 persen rumah tangga di Jawa Barat menggunakan air kemasan bermerek dan air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan minum. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan sumber air lainnya.
“Pada tahun 2025, lebih dari separuh rumah tangga di Jawa Barat menggunakan air kemasan bermerk/air isi ulang sebagai sumber air minum utama (54,07 persen),” tulis BPS dalam laporan Statistik Perumahan Provinsi Jawa Barat 2025 dikutip IDN Times, Minggu (9/8/2026).
Ketergantungan masyarakat terhadap air minum yang dibeli terlihat dari besarnya selisih dengan sumber air lainnya. Setelah air kemasan bermerek dan isi ulang, sumber air minum utama yang paling banyak digunakan masyarakat adalah sumur bor atau pompa dengan persentase 18,71 persen.
BPS mencatat penggunaan air dari jaringan perpipaan atau leding masih belum menjadi pilihan utama sebagian besar rumah tangga di Jawa Barat. Pada 2025, hanya 4,77 persen rumah tangga yang menggunakan air leding sebagai sumber air minum utama.
Padahal, penggunaan sumber air melalui perpipaan disebut sebagai salah satu upaya untuk mencegah penggunaan air yang berpotensi terkontaminasi. Namun, sistem distribusi air perpipaan juga memerlukan perhatian, mulai dari material, lokasi hingga tekanan air.
Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan air minum masyarakat Jabar tidak selalu dipenuhi langsung dari sumber air yang tersedia di rumah. Sebagian besar justru bergantung pada air kemasan atau air isi ulang yang harus dibeli.