Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi depot air isi ulang. (IDN Times/Istimewa).
  • Pemkot Bandung akan memeriksa berkala kualitas air di 800 depot isi ulang guna memastikan standar kesehatan dan mencegah konsumsi air tercemar E-coli.
  • Wali Kota Farhan masih mengonfirmasi temuan lembaga swadaya masyarakat soal dugaan pencemaran E-coli hingga hampir 90 persen di sejumlah sungai Bandung.
  • Pada 2025, 54,07 persen rumah tangga Jawa Barat memakai air kemasan atau isi ulang sebagai sumber minum utama, melampaui sumur bor dan leding.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemerintah Kota Bandung mau memeriksa air dari 800 tempat isi ulang galon. Pak Wali Kota Muhammad Farhan ingin air minum warga tetap bersih dan tidak ada kuman E-coli. Ada kabar banyak sungai di Bandung kotor. Air Sungai Cikapundung juga tidak boleh diminum atau dipakai anak-anak bermain. Sekarang data itu masih dicek.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Langkah Pemkot Bandung memeriksa 800 depot isi ulang secara berkala menunjukkan perhatian yang lebih terarah pada keamanan air minum warga, terutama ketika penggunaan air isi ulang semakin luas. Upaya ini juga disertai kehati-hatian untuk mengonfirmasi data pencemaran, sehingga perlindungan kesehatan masyarakat dapat didasarkan pada pemantauan dan standar yang jelas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung akan melakukan pengecekan secara berkala kualitas air yang dihasilkan depot isi ulang. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pengecekan ini untuk memastikan bahwa air yang dikonsumsi warga baik dan tidak tercemar E-coli.

"Kementerian Perdagangan meminta kamu untuk memberikan jaminan 800 usaha isi ulang air galon di Kota Bandung memenuhi standar kesehatan demi melindungi masyarakat," kata Farhan, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, pengecekana ini penting dilakukan karena penggunaan air galon untuk konsumsi sekarang semakin masif. Maka, kualitas air harus dijaga agar kesehatan masyarakat juga tidak terabaikan.

1. Air baku di Kota Bandung tercemar e-coli

Ilustrasi bisnis air isi ulang (oasish2o.ca)

Pengecekan ini juga tidak terlepas dari kualitas sumber air baku di Kota Bandung yang tercemar bakteri Escherichia coli (E-coli). Menurutnya, ada data terbaru dari sebuah lembaga yang melakukan penelitian dan menghasilkan kondisi air di sungai tercemar bakteri ini sampai 90 persen.

Farhan mengatakan, pihaknya masih melakukan konfirmasi terhadap data tersebut sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Namun, persoalan pencemaran air ini perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.

"Saat ini saya sedang melakukan konfirmasi data. Kemarin sore sebuah lembaga swadaya masyarakat menyampaikan hasil pemantauannya bahwa pencemaran bakteri E-coli di beberapa sungai di Kota Bandung mencapai hampir 90 persen. Saya akan memastikan kebenaran datanya terlebih dahulu," kata Farhan.

2. Pencemaran air dipengarungi berbagai sumber

Teras Cikapundung (wikimedia commons)

Sebelumnya, Kepala DLHK Kota Bandung, Darto, mengatakan posisi geografis Kota Bandung berada di bagian tengah aliran sungai. Kondisi tersebut membuat kualitas air yang mengalir di wilayah perkotaan turut dipengaruhi pencemaran dari berbagai sumber.

"Dari hasil penilaian tahun 2024, indeks kualitas air memang belum begitu baik. Indeks ini diukur dari hulu ke hilir. Posisi kita itu bukan di hulu dan hilir, melainkan di tengah," kata Darto.

Darto menjelaskan, pengukuran indeks kualitas air, udara, dan tanah dilakukan dua kali dalam setahun. Dari hasil pemantauan, DLHK menemukan sejumlah titik yang terindikasi mengalami pencemaran akibat kotoran hewan dan manusia.

"Ada beberapa titik yang kami identifikasi, dan saya tidak bisa sebutkan secara detail, tapi di titik-titik itu terindikasi ada pencemaran kotoran hewan dan manusia," ujarnya.

Tingginya kandungan bakteri E-coli membuat air Sungai Cikapundung tidak layak digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Bahkan, air sungai tersebut tidak direkomendasikan untuk aktivitas bermain anak karena berisiko terhadap kesehatan.

3. Jumlah pengguna air isi ulang makin tinggi

Ilustrasi galon air isi ulang. (Shutterstock/Sudiyanto Salin)

Sementara itu, Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, sebanyak 54,07 persen rumah tangga di Jawa Barat menggunakan air kemasan bermerek dan air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan minum. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan sumber air lainnya.

“Pada tahun 2025, lebih dari separuh rumah tangga di Jawa Barat menggunakan air kemasan bermerk/air isi ulang sebagai sumber air minum utama (54,07 persen),” tulis BPS dalam laporan Statistik Perumahan Provinsi Jawa Barat 2025 dikutip IDN Times, Minggu (9/8/2026).

Ketergantungan masyarakat terhadap air minum yang dibeli terlihat dari besarnya selisih dengan sumber air lainnya. Setelah air kemasan bermerek dan isi ulang, sumber air minum utama yang paling banyak digunakan masyarakat adalah sumur bor atau pompa dengan persentase 18,71 persen.

BPS mencatat penggunaan air dari jaringan perpipaan atau leding masih belum menjadi pilihan utama sebagian besar rumah tangga di Jawa Barat. Pada 2025, hanya 4,77 persen rumah tangga yang menggunakan air leding sebagai sumber air minum utama.

Padahal, penggunaan sumber air melalui perpipaan disebut sebagai salah satu upaya untuk mencegah penggunaan air yang berpotensi terkontaminasi. Namun, sistem distribusi air perpipaan juga memerlukan perhatian, mulai dari material, lokasi hingga tekanan air.

Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan air minum masyarakat Jabar tidak selalu dipenuhi langsung dari sumber air yang tersedia di rumah. Sebagian besar justru bergantung pada air kemasan atau air isi ulang yang harus dibeli.

Editorial Team

Related Article