Peluncuran Buku Prabowonomics di ITB Diwarnai Protes Mahasiswa

- Peluncuran buku “Prabowonomics, Demokrasi, dan Tantangan ke Depan” di Aula Barat ITB berubah tegang setelah puluhan mahasiswa melakukan aksi protes terhadap acara yang dianggap berbau politisasi kampus.
- Mahasiswa menyampaikan kekecewaan karena merasa identitas dicatut dan forum bersifat tertutup, menegaskan penolakan terhadap segala bentuk politisasi ruang akademik di lingkungan kampus.
- Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional termasuk Sufmi Dasco Ahmad sebagai keynote speaker, sementara penulis Syahganda Nainggolan menegaskan buku ini lahir dari keyakinannya pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Bandung, IDN Times - Peluncuran buku Prabowonomics, Demokrasi, dan Tantangan ke Depan" yang ditulis oleh Syahganda Nainggolan mendapat protes dari mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Para mahasiswa dari berbagai jurusan itu turut menyampaikan kritik langsung terhadap pemerintah.
Peluncuran buku yang digelar di Aula Barat Kampus ITB Bandung ini berubah seketika saat puluhan mahasiswa dengan memakai korsa jurusan masuk dan turut menyampaikan aksi protes terhadap acara tersebut.
Pihak keamanan ITB pun tidak mampu membendung massa. Moderator acara ini berkali-kali mencoba menenangkan, namun massa terus meneriakkan protes.
1. Mahasiswa minta ITB harus bersih dari politik

Singkat cerita, akhirnya salah satu dari mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya di depan para tamu undangan dan juga pemateri acara tersebut. Mereka merasa kecewa terhadap kegiatan tersebut karena merasa dipolitisasi.
"Kami mengutarakan kekecewaan. Pada forum ini diundang tertutup, identitas dicatut, dan KM ITB, gagasan intelektual kami," ujar salah seorang massa.
Para mahasiswa tersebut merasa ITB saat ini sudah banyak dijadikan tempat politik yang seharusnya menjaga nilai-nilai akademik tanpa adanya campur tangan atau berkaitan kegiatan politik.
"Kami dari KM ITB dan mahasiswa ITB menyatakan kami menolak seluruh politisasi kampus kampus di Indonesia oleh pemerintah. Kami menuntut hak untuk menjaga ruang intelektual kampus," kata perwakilan mahasiswa tersebut.
2. Minta jangan libatkan ITB dalam hal politik

IDN Times mencoba mengonfirmasi langsung setelah aksi ini kepada perwakilan mahasiswa yang mengatasnamakan KM ITB tersebut. Namun, mereka enggan memberikan komentar lebih jelas termasuk tuntutan yang disampaikan kepada para tamu undangan dan juga narasumber dalam kegiatan ini.
"Kami bergerak secara kolektif," kata perwakilan mahasiswa itu.
Diketahui, dalam peluncuran buku ini Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad ditunjuk sebagai keynote speaker. Turut hadir sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.
Kemudian, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun, serta Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat.
3. Buku Prabowonomics diterbitkan oleh aktivis dan juga politisi

Buku tersebut ditulis oleh Syahganda Nainggolan yang merupakan aktivis dan juga politisi. Dia menegaskan buku tersebut lahir dari keyakinannya terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi situasi krisis.
Buku ini juga turut memotret tantangan Indonesia ke depan, mulai dari dinamika demokrasi, kondisi ekonomi, hingga konteks geopolitik global.
Ia menyebut sekitar 30 persen isi buku membahas konsep “Prabowonomics”, termasuk pandangannya mengenai kepemimpinan Prabowo dalam menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik.
"Buku ini saya tulis karena saya yakin Pak Presiden Prabowo adalah orang yang tepat memimpin republik di saat krisis seperti sekarang," kata Syahganda.
Sementara itu, Dasco mengatakan buku tersebut tidak hanya membahas soal ekonomi, tetapi juga memberikan refleksi mengenai demokrasi, kritik yang konstruktif, dan pentingnya menjaga persatuan nasional.
"Saya sudah membaca buku ini. Judulnya memang fantastis, tapi isinya berisi berbagai pandangan tentang demokrasi, koreksi yang membangun, dan persatuan nasional," kata Dasco.

















