Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

TPST Gedebage Kebanjiran Sampah Organik, Gaslah Ngebut Olah 35 Ton Sehari

TPST Gedebage Kebanjiran Sampah Organik, Gaslah Ngebut Olah 35 Ton Sehari
IDN Times/Humas Bandung
Intinya Sih
  • Volume sampah organik di TPST Gedebage naik dari 20–25 ton menjadi 30–35 ton per hari berkat program Gaslah yang mendorong pemilahan dan pengiriman dari berbagai kelurahan di Bandung.
  • Fokus utama TPST Gedebage adalah mengolah sampah dapur seperti sisa sayur dan buah menjadi kompos, dengan sistem siklus tertutup di mana hasil kompos dikembalikan ke wilayah pengirim.
  • Tantangan terbesar masih pada distribusi dari wilayah jauh, namun fasilitas Gedebage masih mampu menampung tambahan hingga 20 ton per hari jika partisipasi seluruh kelurahan makin merata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Pengolahan sampah organik di Kota Bandung mulai menunjukkan progres yang makin terasa. Salah satu titik paling terlihat ada di kawasan Pasar Induk Gedebage, tempat volume sampah organik yang masuk terus naik dalam beberapa waktu terakhir.

Lewat program Gaslah atau Gerakan Sadar Olah Sampah, pasokan sampah organik ke fasilitas pengolahan di Gedebage kini meningkat signifikan. Jika sebelumnya hanya berkisar 20 hingga 25 ton per hari, kini jumlahnya sudah naik ke angka 30 sampai 35 ton per hari.

Lonjakan ini jadi sinyal bahwa pengolahan sampah berbasis sumber mulai bergerak lebih serius di Bandung. Sampah dapur seperti sisa sayur dan buah kini tak lagi langsung berakhir di tempat pembuangan, tetapi mulai masuk ke rantai pengolahan yang lebih terarah.

1. Sampah organik Bandung naik signifikan

IMG-20260429-WA0019.jpg
Direktur Utama PT Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah. (IDN Times/Yogi Pasha)

Direktur Utama PT Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, mengatakan tren peningkatan sampah organik yang masuk ke Gedebage terus terlihat dalam sebulan terakhir. Menurutnya, lonjakan ini salah satunya didorong oleh makin banyak wilayah yang mulai aktif mengirimkan sampah organik hasil pemilahan dari sumber.

“Grafik tonase Gaslah di seluruh Kota Bandung saat ini sudah mencapai 92 ton. Dalam sebulan terakhir ada peningkatan cukup signifikan. Dulu hanya berkisar 20–25 ton per hari, sekarang sudah mencapai 30–35 ton per hari,” ujar Aldi saat ditemui di Balai Kota Bandung, Rabu (29/4/2026).

Aldi menjelaskan, dalam kondisi optimal setiap kelurahan rata-rata bisa mengirim sekitar 500 kilogram atau setengah ton sampah organik per hari. Sampah itu umumnya masuk ke fasilitas pengolahan mulai pukul 07.30 hingga 12.00 WIB.

Saat ini, sedikitnya enam kecamatan sudah rutin berkontribusi mengirimkan sampah organik setiap hari. Dari jumlah itu, Kecamatan Kiaracondong disebut menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk pasokan harian ke Gedebage.

Kenaikan tonase ini menunjukkan bahwa pola pengelolaan sampah dari tingkat kelurahan mulai berjalan lebih konsisten. Semakin banyak wilayah yang aktif memilah dan mengirim, semakin besar pula volume sampah organik yang bisa diolah sebelum berakhir menjadi residu kota.

2. Gedebage fokus olah sampah dapur jadi kompos

WhatsApp Image 2026-04-28 at 13.24.46.jpeg
Dok.Humas Bandung

Di Gedebage, fokus utama pengolahan diarahkan pada sampah organik, terutama sampah olah dapur (SOD) seperti sisa sayur, buah, dan limbah dapur rumah tangga. Jenis sampah ini dinilai paling ideal untuk diolah karena prosesnya cepat dan lebih mudah dikonversi menjadi bahan baku kompos.

Menurut Aldi, sampah dapur bahkan bisa diproses hanya dalam waktu satu hari untuk masuk ke tahap awal pengomposan. Hal ini membuat pengolahan organik dinilai jauh lebih efisien dibanding sampah campuran atau residu domestik.

“TPST Gedebage memang didesain khusus untuk pengolahan sampah organik, bukan residu. Dengan adanya lonjakan Gaslah, apalagi setelah Lebaran, kami bahkan sempat menghentikan sementara pengolahan residu domestik agar fokus ke organik,” katanya.

Selain sisa dapur, beberapa kelurahan juga turut mengirim bahan pendukung seperti ranting dan daun kering. Material ini berfungsi sebagai starter kompos sekaligus penyeimbang karbon dalam proses pengomposan agar hasil akhir lebih optimal.

Menariknya, sistem ini tak berhenti di proses pengolahan saja. Setelah sampah diolah, kompos hasil produksi juga didistribusikan kembali kepada para pengirim. Dalam satu kali pengiriman, petugas Gaslah biasanya membawa sekitar 500 kilogram sampah organik, lalu pulang dengan membawa kompos antara 300 sampai 600 kilogram, tergantung kapasitas.

Skema ini membuat siklus pengolahan berjalan lebih utuh: sampah dikirim, diolah, lalu kembali ke wilayah sebagai kompos yang bisa dimanfaatkan lagi.

3. Distribusi jadi tantangan, potensi masih besar

WhatsApp Image 2026-02-06 at 11.27.41.jpeg
Dok IDN Times

Meski tren pengolahan terus naik, Aldi menilai belum semua wilayah di Bandung bergerak optimal. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal pemilahan, melainkan distribusi dari wilayah ke fasilitas pengolahan di Gedebage.

Menurutnya, kawasan yang berada di sekitar Gedebage relatif sudah lebih stabil dalam mengirim sampah organik. Namun untuk wilayah yang lebih jauh, pengiriman masih terkendala jarak, distribusi, dan kemungkinan pengolahan mandiri di wilayah masing-masing.

“Untuk wilayah sekitar Gedebage relatif sudah optimal. Tapi untuk wilayah yang lebih jauh, kemungkinan masih terkendala distribusi atau pengolahan di wilayah masing-masing,” jelasnya.

Saat ini sudah ada sekitar 15 kelurahan yang rutin terlibat dalam program Gaslah. Beberapa di antaranya berasal dari Kecamatan Kiaracondong, Mekar Mulya, Panyileukan, Gedebage, Cicendo, hingga Sukajadi.

Aldi menyebut, jika seluruh wilayah di Kota Bandung bisa mengoptimalkan pola yang sama, maka volume pengolahan sampah organik masih sangat mungkin meningkat. Bahkan, fasilitas di Gedebage disebut masih sanggup menampung tambahan hingga 20 ton per hari dari potensi lonjakan yang ada.

Artinya, jika distribusi makin rapi dan partisipasi wilayah makin merata, Bandung masih punya peluang besar menambah kapasitas pengolahan hingga 40 ton sampah organik per hari.

“Kalau semua wilayah sudah optimal, potensi peningkatan sangat besar. Ini bisa jadi solusi nyata mengurangi beban sampah kota,” tandas Aldi.

Di tengah persoalan sampah yang masih jadi pekerjaan rumah besar Kota Bandung, tren naiknya pengolahan organik di Gedebage memberi sinyal positif. Saat sampah mulai dipilah dari rumah dan diolah lebih dekat ke sumber, beban kota pelan-pelan bisa dikurangi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More