Bergerilya Memperluas Investor Reksa Dana di Kalangan Mahasiswa

- APRDI dan OJK gencar mengedukasi mahasiswa Bandung tentang reksa dana sebagai instrumen investasi mudah, aman, dan terjangkau untuk generasi muda melalui seminar di berbagai kampus.
- Jumlah investor pasar modal Indonesia melonjak hingga 26 juta pada April 2026, didominasi usia di bawah 30 tahun meski nilai aset terbesar masih dikuasai kelompok usia lebih tua.
- OJK menilai peningkatan literasi keuangan dan akses digital mendorong minat investasi anak muda, sementara reksa dana dipilih karena fleksibel, diawasi ketat, serta cocok bagi pemula dengan modal kecil.
Bandung, IDN Times - Perhatian puluhan pasang mata mahasiswa Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), Bandung, tertuju pada tingkah jenaka Mauldy Rauf Makmur, Direktur Eksekutif Dewan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI). Dengan gaya santai Mauldy menjelaskan mengenai apa itu reksa dana dan kenapa berinvestasi pada instrumen ini sangat cocok untuk anak muda khususnya mahasiswa.
"Beli reksa dana itu ibarat kita beli lotek atau gado-gado. Semuanya itu sudah ada dipersiapkan kita tinggal makan saja. Bisa sih beli sendiri sayurnya, tapi kan tidak bisa sedikit-sedikit untuk jadi sepiring lotek," ungkap Mauldy mengilustrasikan apa itu reksa dana, Selasa (21/4/2026).
Di hadapan 70 mahasiswa Unibi, dia kemudian menjabarkan bahwa racikan aset dari reksana sangat aman karena dilakukan oleh manajer investasi yang menjadi koki dengan keahilannya. Alhasil investor hanya perlu menikmati racikan tersebut.
"Seperti kita kalau menikmati Omakase (konsep bersantap khas Jepang) lah," lanjut Mauldy.
Perumpamaan itu kemudian membuat seisi ruangan di lantai dua kantor BEI Jawa Barat terkesima, salah satunya adalah Siti Octaviana Nurhaliza. Mendapat penjabaran tersebut, mahasiswi semester enam ini semakin yakin untuk meningkatkan investasi khususnya pada instrumen reksa dana.
Kuliah di jurusan ekonomi, Octa, panggilannya memang sudah terbiasa mendenger istilah investasi dari semester satu. Hal ini kemudian dia coba dengan berinvestasi melalui apliaksi digital dan memasukkan sejumlah uang yang selama ini dimiliki setiap bulannya.
Selama tiga tahun berinvestasi, dia lebih banyak menyimpan uangnya dengan membeli saham sejumlah perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Hanya sedikit saja dari tabungan yang disimpan di reksa dana.
"Di reksa dana memang belum banyak sih. Tapi enaknya reksa dana itu kan bisa nabung mulai dari berapapun. Jadi Rp10.000 ribu juga bisa dimasukkan kalau di reksa dana. Saya juga suka nabung sistemnya gitu," ungkap Octa saat berbincang dengan IDN Times.
Menurutnya, menabung dengan berinvestasi di berbagai instrumen lebih menguntungkan karena imbal hasil yang lebih besar dibandingkan hanya disimpan di perbankan. Uang hasil investasi ini pun nantinya akan dipakai Octa untuk membuka usaha setelah lulus dari kampus.
"Dari seminar ini saya makin yakin buat tambah terus inevstasi di reksa dana sih," ungkap Octa.
Anak muda makin banyak berinvestasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap bahwa jumlah investor pasar modal Indonesia terus meningkat dan melampaui 26 juta investor hingga 24 April 2026. Jumlah investor naik dari 3.880.753 pada 2020 menjadi 7.489.337 pada 2021. Angka tersebut terus naik hingga 24 April 2026, tercatat jumlah investor mencapai 26.120.594. Dari sisi komposisi usia, investor didominasi kelompok usia di bawah 30 tahun.
Walaupun jumlah investor muda mendominasi, nilai aset terbesar justru berasal dari kelompok usia lebih tua. Investor berusia di atas 60 tahun mencatat nilai aset sekitar Rp828,92 triliun, disusul usia 51-60 tahun sebesar Rp302,03 triliun.
Sementara usia 31-40 tahun memiliki nilai aset Rp213,85 triliun dan usia 41-50 tahun sebesar Rp196,78 triliun. Adapun kelompok usia di bawah 30 tahun mencatat nilai aset Rp49,07 triliun.
Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi 2 dan Pasar Modal Regional OJK, Evie Sulistyani menilai bahwa generasi muda kini semakin sadar pentingnya investasi sejak dini, terutama melalui instrumen yang relatif mudah diakses seperti reksa dana. Akses teknologi digital, kemudahan membuka rekening investasi, hingga maraknya edukasi keuangan di media sosial menjadi pendorong utama yang membuat mereka lebih mudah mencari informasi untuk mulai menjadi seorang investor.
Menurut Evie, anak muda kini tidak lagi hanya fokus pada konsumsi, tetapi mulai memikirkan perencanaan keuangan jangka panjang. Maka, angka jumlah investor muda yang dimiliki OJK sekarang justru masih kecil jika dibandingkan dengan total populasi usia produktif di Indonesia. Artinya, peluang pertumbuhan masih sangat luas.
“Ini menjadi tantangan kita untuk terus menumbuhkan literasi dan kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem investasi,” kata dia ditemui di kantor OJK Jawa Barat.
Bagi anak muda, lanjutnya, reksa dana menjadi salah satu pilihan karena modal awal yang relatif terjangkau dan pengelolaan oleh manajer investasi profesional. Dengan berinvestasi sejak dini memungkinkan generasi muda memiliki ketahanan finansial di masa depan. Walaupun di balik peningkatan jumlah investor tersebut, pemahaman mendalam masih perlu terus didorong agar mereka tidak terjerumus pada instrumen investasi tertentu.
Pemberian pemahaman ini yang coba dilakukan OJK, APRDI, dan sejumlah lembaga lainnya melalui PINTAR atau Program Investasi Terencana dan Berkala) Reksa Dana. "Melalui pendekatan investasi yang terencana dan berkala ini, diharapkan dapat memperluas akses investasi bagi masyarakat serta menumbuhkan budaya investasi yang disiplin dan tentunya berorientasi jangka panjang," ungkap Evie.
Makin paham manfaat berinvestasi reksa dana

Di Kota Bandung, langkah untuk memberi edukasi kepada anak muda khususnya mahasiswa dilakukan di sejumlah kampus di antaranya Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Universitas Islam Negeri Bandung (UIN), Universitas Sangga Buana YPKP, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), serta Unibi. Puluhan mahasiswa dari setiap kampus ikut serta dalam kelas peningkatan literasi dan inklusi keuangan tersebut.
Manfaat edukasi ini pun dirasakan oleh Gilang, salah satu mahasiswa Universitas Sangga Buana YPKP. Mahasiswa semester tujuh ini tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi di kampusnya. Dia selama ini berkuliah di jurusan ilmu komunikasi.
Namun, informasi mengenai manfaat berinvestasi di media sosial membuat dia kerap mengintip unggahan pemengaruh yang menjelaskan mengenai manfaat dari berinvestasi. Hal ini pula yang membuatnya tertarik ikut serta dalam sosialisasi dan edukasi reksa dana di kampus.
"Lumayan ada sedikit pemahaman, tidak kosong banget tentang reksa dana. Mungkin nanti saya mau coba mulai nabung di reksa dana kan sekarang banyak bisa pakai aplikasi," papar Gilang.
Diskusi mengenai instrumen investasi reksa dana pun diikuti oleh Adebayu. Dia mendapatkan pemahaman mengenai manfaat reksa dana ketika ada kegiatan edukasi di Kantor OJK Jawa Barat. Selama ini Ade lebih banyak menyimpan uangnya dalam bentuk emas atau tabungan di bank.
Dengan ilmu baru yang didapatnya, Ade pun berkeinginan untuk memulai berinvestasi di reksa dana. "Nanti saya harus lihat-lihat dulu agen penjual reksa dana, kan harus cari yang terpercaya," ungkap Ade.
Dihubungi terpisah, Kepala Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat Achmad Dirgantara menuturkan bahwa reksa dana bisa menjadi pintu masuk paling mudah bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk memulai investasi jangka panjang di pasar modal. Instrumen ini tidak hanya terjangkau, tetapi juga menawarkan kemudahan bagi investor pemula karena dikelola oleh manajer investasi profesional.
Instrumen ini memiliki variasi risiko yang dapat disesuaikan dengan profil investor. Mulai dari reksa dana pasar uang yang relatif rendah risiko, hingga reksa dana saham dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Dengan nominal investasi yang relatif kecil, bahkan mulai dari Rp10.000, mahasiswa dan generasi muda memiliki peluang besar untuk mulai berinvestasi sejak dini. Kebiasaan ini penting untuk membentuk perencanaan keuangan jangka panjang.
“Yang penting itu disiplin menyisihkan, bukan menunggu sisa uang. Kalau menunggu sisa, biasanya tidak ada karena habis untuk konsumsi,” katanya
Dominasi investor muda dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang berinvestasi, dana yang beredar di pasar modal dapat mendorong pembiayaan berbagai sektor usaha.
Selain itu, kebiasaan berinvestasi sejak dini juga berpotensi meningkatkan ketahanan finansial masyarakat di masa depan. Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga berperan sebagai pemilik aset.
“Di negara maju, orang tidak hanya bekerja, tapi asetnya juga bekerja. Ini yang perlu kita dorong di Indonesia,” kata Ahmad.
Tetap pahami risiko saat berinvestasi
Reksa dana memang menawarkan kemudahan dan kenyamanan dalam berinvestasi berkat hadirnya peran manajer investasi. Manajer investasi membantu investor dalam mengelola aset investasi reksa dana dalam memenuhi kebutuhan dan tujuan penyimpanan uang. Sebagai investor, secara umum mereka hanya perlu memilih jenis reksa dana apa yang kamu inginkan dan mengarahkan pembelian tersebut kepada manajer investasi.
Salah satu investasi yang menguntungkan ini juga memiliki beberapa jenis dan profil risiko yang beragam, di antaranya adalah reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, dan reksa dana campuran. Setiap jenis reksa dana yang tersedia saat ini juga memiliki beberapa macam profil risiko sesuai dengan kebutuhan para investor, seperti defensive, conservative, serta balanced.
Mauldy menjelaskan, reksa dana adalah salah satu pilihan investasi yang tepat karena memberi rasa aman dan tenang, terutama bagi pemula atau mereka yang ingin melindungi dana dari fluktuasi pasar. Melalui instrumen ini setiap investor bisa menyesuaikan profil risiko dan yang terpenting, dapat menarik dana kapan saja bila diperlukan.
Ia menambahkan, dana yang diinvestasikan juga disimpan oleh bank kustodian, yakni lembaga perbankan yang memiliki izin untuk menyimpan serta mengadministrasikan aset reksa dana. Sistem ini memastikan keamanan dana investor tetap terjaga, karena dana tersebut bukan merupakan aset milik manajer investasi maupun bank kustodian.
Selain itu, seluruh aktivitas reksa dana berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengawasan ini dilakukan untuk melindungi kepentingan investor sekaligus memastikan transparansi dalam pengelolaan dana.
"Instrumen ini ramah bagi investor karena dapat diakses dengan modal relatif terjangkau. Instrumen ini juga menawarkan likuiditas tinggi, sehingga dana dapat dicairkan kapan saja sesuai kebutuhan," kata dia
Tak hanya itu, reksa dana memberikan keuntungan dari sisi diversifikasi, di mana investor bisa menempatkan dana ke berbagai instrumen dalam satu produk, sehingga membantu menekan risiko investasi. Keunggulan lainnya adalah bebas pajak serta kemudahan akses pembelian melalui berbagai kanal, termasuk platform digital.
Dengan berbagai karakteristik dan keunggulan tersebut, reksa dana menjadi salah satu alternatif investasi yang semakin relevan di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk mengelola keuangan secara lebih bijak.
Meski demikian, seperti halnya instrumen investasi yang lain, instrumen ini tetap memiliki risiko karena pergerakan harga pasar yang fluktuatif, bergantung pada kondisi ekonomi dan politik, masalah likuiditas dan risiko wanprestasi, serta kerugian nilai investasi yang mungkin terjadi. Meski begitu, risiko tersebut dapat diminimalisir dengan mempelajari terlebih dahulu produk yang akan dibeli.
"Risiko investasi tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tapi dapat dipahami dan dimitigasi dengan pengetahuan yang tepat," pungkasnya.

















