Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kemarau, Petani Majalengka Target Tanam di 12.500 Hektare Sawah

Kemarau, Petani Majalengka Target Tanam di 12.500 Hektare Sawah
ilustrasi petani tanam padi (pexels.com/Long Bà Mùi)
Intinya Sih
  • Majalengka menargetkan masa tanam kedua seluas 12.500 hektare pada musim kemarau, dengan realisasi sementara mencapai 11 ribu hektare di wilayah utara kabupaten.
  • Pemerintah daerah menerima bantuan 79 ton benih padi untuk mendukung petani, dengan rata-rata hasil panen MT II sekitar 5–6 ton per hektare, lebih rendah dari MT I.
  • BMKG memprediksi penguatan El Nino pada Juni–November 2026 yang berpotensi memperpanjang kekeringan, sehingga petani disarankan menabung air dan memilih varietas padi hemat air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Majalengka, IDN Times- Memasuki musim kemarau, belasan ribu hektare lahan sawah di Kabupaten Majalengka ditargetkan mulai masuk masa tanam (MT). Sebagian besar lahan yang akan MT II pada musim kemarau ini tersebar di Majalengka bagian utara.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka Gatot Sulaeman mengatakan, pada musim kemarau, Majalengka ditargetkan bisa MT II dengan luasan 12.500 hektare.

"Target dari provinsi itu di angka 12.500 hektare. Nah realisasinya, sampai dengan kemarin, sudah tercatat di angka 11 ribu hektar. Insya Allah tercapai," kata Gatot

1. Majalengka terima bantuan 78 ton benih

ILustrasi Benih padi (Dok: Pemprov Sumsel)
ILustrasi Benih padi (Dok: Pemprov Sumsel)

Selain di Majalengka bagian utara, beberapa daerah di Majalengka Selatan yang merupakan dataran tinggi juga kembali akan melaksanakan MT. Kendati demikian, jumlah luasan lahan yang akan MT II di Majalengka bagian selatan hanya sebagian kecil saja.

"Ada beberapa di daerah atas (Majalengka Selatan), tapi hanya beberapa saja. Karena daerah sana kan cenderung sayuran. Nah yang banyak mah Majalengka utara (dataran rendah).

Dia menjelaskan, untuk kebutuhan MT II, Majalengka mendapatkan bantuan benih sebanyak 79 ton untuk para petani yang dibagikan lewat Poktan dan Gapoktan. Benih sebanyak itu, didistribusikan 25 kg per hektare.

"Ini benihnya disesuaikan dengan musim kemarau," ungkap Gatot.

2. Rata-rata panen 5-6 ton per hektare

IMG-20260427-WA0074.jpg
Petani sedang panen padi di wilayah Lombok Tengah. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Terkait kebutuhan air, para petani biasanya memanfaatkan sumur pantek. Adapun untuk lahan sawah yang dekat irigasi, mereka biasa memanfaatkan air dari saluran tersebut.

Di sisi lain, produksi padi pada MT II di kisaran 5-6 ton per hektar. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan MT I, ketika persediaan air cukup melimpah.

"MT I di kisaran tujuh sampai sembilan ton per hektar. Mudah-mudahan, musim MT sekarang ini, hasilnya bagus," ungkap dia.

"Nah, untuk MT sendiri, rata-rata hanya dua kali. Tapi ada juga yang sampai tiga kali, tapi hanya sebagian kecil saja," lanjut dia.

3. El Nino menguat pada semester 2, Petani bisa nabung air

Embung Airi 25 Ha Sawah Petani di Blora. (Dok. Kementan)
Embung Airi 25 Ha Sawah Petani di Blora. (Dok. Kementan)

Sementara itu, BMKG memprediksi fenomena El Nino akan berdampak cukup signifikan terhadap cuaca pada semester II 2026. Fenomena El Nino juga menjadi faktor pemicu utama terjadinya lonjakan suhu panas.

Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Siswanto mengatakan, peluang terjadinya penguatan dampak El Nino diprediksi terjadi pada periode Juni hingga November 2026.

‎“Berdasarkan rilis data, terdapat peluang bahwa potensi terjadinya El Nino kuat itu sampai 51 persen terjadi mulai Juni hingga November. Kemungkinan setelah November nanti El Nino akan mengalami peluruhan. Jadi tidak nyeberang tahun sebagaimana tahun 2015 atau 1997,” kata Siswanto.

Fenomena El Nino yang terjadi tahun ini memang diprediksi tidak setinggi pada 1997 atau 2015. Kendati demikian, masyarakat tetap harus waspada, mengingat musim kemarau tahun ini diprediksi lebih lama dari sebelumnya.

‎“Analisis BMKG terbaru, tahun ini kemungkinannya ketika El Nino menguat di semester kedua, itu akan lebih kering daripada tahun 2023" kata dia

Kondisi tersebut, jelas dia, dikhawatirkan akan berdampak terhadap sektor pertanian, lantaran persediaan air juga akan menipis.

"Yang dikhawatirkan adalah ketika musim kemarau yang kering itu nanti men-generate keringnya waduk-waduk juga, yang itu menjadi sistem penopang utama dari irigasi,” tutur Siswanto.

‎“Tentu ini akan memiliki potensi terjadi gagal panen ataupun juga puso, artinya mati sebelum tumbuh dan panen," lanjut dia.

Terkait prediksi itu, Siswanto menyebut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Memanen hujan, jelas dia, salah satu yang bisa dilakukan masyarakat, khususnya kalangan petani.

“Rekomendasi kami di masa-masa sekarang, mumpung masih ada hujan, itu adalah gerakan memanen air hujan. Dulu di sawah itu selalu ada kolam air yang namanya blumbang atau embung. Itu sebenarnya efektif sehingga sawah ada bagian untuk menyimpan air,” kata dia.

Di luar itu, Siswanto juga merekomendasikan agar petani memilih jenis tanaman. Dengan demikian, dampak El Nino tidak akan terlalu besar saat masa panen nanti.

“Para petani bisa memilih varietas atau jenis benih yang genjah, yang durasi panennya itu pendek dan lebih irit air," papar Siswanto.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More