Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

NasDem Karawang Buktikan Kader Tak Cuma Dibutuhkan Saat Pemilu

NasDem Karawang Buktikan Kader Tak Cuma Dibutuhkan Saat Pemilu
Ketua DPD NasDem Karawang, Dian Fahrud Jaman menyerahkan santunan kepada istri almarhum, Hj. Odah. (Dok.Istimewa)
Intinya Sih
  • DPD NasDem Karawang menyerahkan santunan Rp42 juta kepada keluarga almarhum H. Oha sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi kader yang aktif sebelum dan sesudah masa pemilu.
  • Langkah pemberian santunan ini menegaskan bahwa loyalitas kader perlu dibalas dengan kepedulian, bukan hanya saat mereka masih aktif berjuang di lapangan politik.
  • NasDem Karawang ingin menunjukkan bahwa politik tak sekadar soal perolehan suara, tapi juga tentang sikap menghargai dan melindungi orang-orang yang telah membesarkan partai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Karawang, IDN Times - Di banyak partai, kader biasanya paling sibuk saat musim pemilu. Mereka turun ke lapangan, pasang badan, jaga suara, hingga jadi wajah partai di tengah masyarakat. Tapi setelah pesta demokrasi selesai, tak sedikit yang perannya ikut meredup.

Situasi semacam itu yang coba dipatahkan DPD Partai NasDem Karawang. Lewat penyerahan santunan jaminan kematian kepada keluarga almarhum H. Oha, NasDem Karawang ingin menunjukkan bahwa kader bukan orang yang hanya dicari saat partai butuh suara.

Santunan sebesar Rp42 juta itu diserahkan langsung Ketua DPD NasDem Karawang, Dian Fahrud Jaman, kepada istri almarhum, Hj. Odah. Nilainya mungkin terukur, tapi pesan di baliknya jauh lebih besar: kerja kader tak berhenti dihitung saat pemilu usai.

1. Kader bekerja jauh sebelum hari pencoblosan

Capres RI nomor urut 1, Anies Baswedan, menyapa para pendukungnya di Nasdem Tower, Manado, Sulawesi Utara, Senin (5/2/2024). IDNTimes/Savi
Capres RI nomor urut 1, Anies Baswedan, menyapa para pendukungnya di Nasdem Tower, Manado, Sulawesi Utara, Senin (5/2/2024). IDNTimes/Savi

Kerja kader politik sebenarnya tak dimulai saat masa kampanye. Jauh sebelum baliho dipasang dan suara dihitung, kader adalah orang-orang yang lebih dulu bergerak di akar rumput. Mereka yang menjaga komunikasi dengan warga, merawat simpul dukungan, sampai menyerap persoalan di lapangan.

Peran itu yang dijalani almarhum H. Oha selama aktif di Partai NasDem Karawang. Di internal partai, ia dikenal sebagai kader yang loyal, aktif, dan tak banyak bicara, tapi konsisten bekerja.

Karena itu, bagi NasDem Karawang, santunan ini bukan sekadar bantuan duka. Ada bentuk penghormatan yang ingin ditunjukkan kepada kader yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan.

“Almarhum H. Oha adalah sosok kader yang memiliki dedikasi luar biasa. Santunan sebesar Rp42 juta ini bukan hanya bentuk bantuan, tetapi juga penghargaan atas perjuangan beliau selama ini bersama Partai NasDem. Kami juga menegaskan, Partai NasDem tidak akan pernah melupakan jasa-jasa almarhum,” kata Dian.

2. Loyalitas kader perlu dibalas dengan kepedulian

Kampanye Nasional Partai NasDem di Lampung, Senin (29/1/2024). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
Kampanye Nasional Partai NasDem di Lampung, Senin (29/1/2024). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Dalam politik, loyalitas sering diminta, tapi tak selalu dibalas setimpal. Kader dituntut hadir, bergerak, dan solid. Namun ketika mereka tak lagi bisa berdiri di barisan, tak semua partai benar-benar hadir.

Di titik itu, langkah NasDem Karawang terasa penting. Santunan jaminan kematian dari BPJS Ketenagakerjaan yang diserahkan kepada keluarga almarhum menjadi penanda bahwa kerja politik juga harus punya sisi perlindungan.

Pesannya sederhana: kader bukan alat elektoral yang selesai dipakai setelah pemilu. Mereka adalah bagian dari rumah politik yang seharusnya tetap dijaga, bahkan ketika sudah tak lagi berada di garis depan.

Bagi NasDem Karawang, perhatian kepada kader bukan soal momentum, melainkan soal tanggung jawab.

3. Politik tak cukup soal suara, tapi juga soal sikap

Partai NasDem (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
Partai NasDem (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Di tengah politik yang sering sibuk menghitung elektabilitas, langkah seperti ini terasa kecil tapi penting. Sebab pada akhirnya, partai tak hanya dinilai dari seberapa besar suara yang diraih, tapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang membesarkannya.

Bagi keluarga almarhum, santunan ini bukan semata bantuan finansial. Ada rasa dihargai yang ikut datang bersama perhatian itu.

Hj. Odah mengaku bersyukur atas kepedulian yang diberikan DPD NasDem Karawang dan BPJS Ketenagakerjaan kepada keluarganya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Partai NasDem Karawang dan BPJS Ketenagakerjaan. Perjuangan suami saya terhadap partai memang sangat luar biasa. Kami merasa diperhatikan dan sangat terbantu,” ujarnya.

Almarhum H. Oha meninggal dunia pada 6 April 2026. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga dan rekan seperjuangan. Tapi lewat santunan itu, NasDem Karawang sedang menunjukkan satu hal yang jarang ditunjukkan partai: kader tak cuma penting saat pemilu, tapi juga tetap berarti setelahnya.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More