Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menengok Pesantren Lemka, Kawah Candradimuka Kaligrafer Internasional

Menengok Pesantren Lemka, Kawah Candradimuka Kaligrafer Internasional
Kegiatan ponpes kaligrafi di Sukabumi saat Ramadan (IDN Times/Siti Fatimah)
Intinya Sih
  • Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka di Sukabumi menjadi pusat pembelajaran seni kaligrafi dengan suasana religius, terutama saat Ramadan dengan tambahan kegiatan tadarus bersama.
  • Santri mempelajari tujuh jenis khat dan berbagai cabang seni kaligrafi, menghasilkan banyak alumni berprestasi di tingkat nasional hingga internasional, termasuk peserta dari luar negeri.
  • Lemka bukan hanya tempat belajar seni, tapi juga pembentuk karakter melalui kesabaran dan ketekunan; kini dikenal sebagai destinasi wisata edukasi yang menarik banyak pengunjung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kota Sukabumi, IDN Times - Suasana di Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka, Kota Sukabumi, tampak tenang dan khusyuk. Para santri duduk bersila di depan meja rendah, fokus menorehkan tinta di atas kertas.

Gores demi gores lahir dengan penuh ketelitian, menghadirkan keindahan ayat-ayat suci dalam balutan seni kaligrafi.

Pesantren yang beralamat di Jalan Bhineka Karya, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh ini memiliki ritme berbeda saat Ramadan. Meski kegiatan belajar tetap berjalan, ada penyesuaian waktu agar para santri dapat menjalani ibadah puasa secara optimal.

Muhammad Syamsuddin, salah satu pengurus pesantren, menjelaskan bahwa secara umum aktivitas tidak banyak berubah. Hanya saja, ada tambahan waktu khusus untuk tadarus bersama.

“Kalau di luar Ramadan biasanya anak-anak membaca Al-Qur’an masing-masing. Di bulan puasa ini ada waktu khusus tadarusan bersama, itu yang membedakan,” ujarnya saat ditemui di lingkungan pesantren, Rabu (4/3/2026).

1. Belajar tujuh jenis khat kaligrafi

IMG_1398.jpeg
Kegiatan ponpes kaligrafi di Sukabumi saat Ramadan (IDN Times/Siti Fatimah)

Di Lemka, para santri mempelajari tujuh jenis khat secara bertahap. Setiap tahun mereka naik tingkat, mulai dari golongan pertama hingga ketujuh.

Jenis khat yang diajarkan meliputi Naskhi, Tsuluts, Farisi, Diwani Jali, Diwani, Riq’ah, hingga Kufi. Selain materi utama, tersedia pula kelas cabang seperti mushaf, dekorasi, naskah, dan kontemporer. Kelas ini menjadi ruang eksplorasi untuk mengembangkan minat dan gaya masing-masing santri.

Masa belajar satu angkatan berlangsung selama satu tahun. Setelah lulus, para santri menempuh jalan berbeda. Ada yang kembali ke daerah asal, mengabdi di pesantren lain, melanjutkan kuliah di Sukabumi, hingga tetap berkarya dan mendampingi generasi berikutnya di Lemka.

2. Alumni berprestasi tingkat nasional hingga internasional

IMG_1403.jpeg
Kegiatan ponpes kaligrafi di Sukabumi saat Ramadan (IDN Times/Siti Fatimah)

Nama Lemka sudah lama dikenal di dunia kaligrafi. Prestasi alumninya tersebar di berbagai ajang, baik tingkat nasional maupun internasional.

Menurut Syamsuddin, hampir setiap daerah memiliki kompetisi kaligrafi dan banyak delegasi yang belajar ke Lemka untuk mempersiapkan diri. Bahkan di ajang internasional, sebagian besar peserta disebut merupakan alumni pesantren ini.

"Tak hanya santri dalam negeri, Lemka juga menerima peserta dari luar negeri. Setiap tahun biasanya ada santri asal Oman yang datang khusus untuk belajar selama satu hingga dua bulan," ucapnya.

Tahun ini jumlah santri tercatat sekitar 136 orang. Mayoritas berasal dari luar Jawa Barat, seperti Kalimantan, Jambi, Riau, hingga Aceh. Sementara dari Sukabumi sendiri jumlahnya masih relatif sedikit.

Meski begitu, minat warga lokal mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Lemka aktif menggelar lomba dan mengenalkan kaligrafi ke sekolah-sekolah sebagai upaya regenerasi.

3. Bukan hanya seni, kaligrafi jadi pembentuk karakter

IMG_1393.jpeg
Kegiatan ponpes kaligrafi di Sukabumi saat Ramadan (IDN Times/Siti Fatimah)

Kaligrafi bukan hanya tentang estetika. Sejak dahulu, Al-Qur’an ditulis tangan sebelum hadirnya mesin cetak. Proses menulis dianggap menjadi bagian dari ibadah karena menghadirkan bacaan sekaligus ketekunan.

"Belajar kaligrafi juga melatih kesabaran, konsistensi, dan ketenangan jiwa. Setiap goresan membutuhkan fokus dan kehati-hatian," kata dia.

Didirikan pada 1985 dan mulai berbentuk pesantren pada 1998, Lemka kini juga dikenal sebagai destinasi wisata edukasi di Kota Sukabumi. Pemerintah daerah memasukkannya dalam paket wisata resmi.

Pengunjung datang dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah, santri, hingga mahasiswa dari kampus seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Al-Azhar yang menjadikan Lemka sebagai lokasi studi, praktik, hingga tugas akhir.

Di bulan Ramadan, di antara lantunan tadarus dan suara gesekan pena, tradisi itu terus dijaga. Bagi para santri Lemka, setiap huruf yang ditulis bukan sekadar karya seni, melainkan bagian dari ibadah yang menghubungkan mereka dengan Al-Qur’an.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More