Rotan dan Furnitur Jadi Penopang Ekspor Cirebon

- Ekspor Kabupaten Cirebon tetap stabil dengan rotan dan furnitur sebagai penopang utama, mencatat nilai ekspor rotan mencapai US$156,97 juta pada 2024 dan US$126,84 juta pada 2025.
- Industri rotan masih bergantung pada bahan baku impor untuk proses finishing, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi meski belum berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor.
- Pemerintah daerah menggelar pelatihan bagi pelaku IKM guna memperkuat desain, inovasi, dan diversifikasi produk agar daya saing serta kapasitas ekspor sektor rotan terus meningkat.
Cirebon, IDN Times - Kinerja ekspor Kabupaten Cirebon masih bertumpu pada produk berbahan rotan dan furnitur. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) setempat menilai sektor ini tetap menjadi andalan meski menghadapi tekanan biaya produksi akibat ketergantungan bahan impor.
Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon, Suhartono, menyampaikan nilai ekspor rotan menunjukkan tren yang relatif terjaga dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, ekspor sektor ini tercatat sebesar US$102,79 juta, lalu melonjak menjadi US$156,97 juta pada 2024. Sementara pada 2025, nilainya berada di US$126,84 juta.
“Secara umum masih stabil dan tetap memberikan kontribusi penting terhadap ekspor daerah,” kata Suhartono, Senin (4/5/2026).
1. Tren ekspor masih bertahan

Data Disperdagin menunjukkan fluktuasi nilai ekspor rotan tidak mengarah pada penurunan tajam. Setelah peningkatan signifikan pada 2024, penyesuaian pada 2025 masih berada dalam kisaran yang dianggap aman.
Kondisi ini memperlihatkan kalau permintaan terhadap produk rotan dari Cirebon belum mengalami kontraksi serius. Namun, ketergantungan terhadap satu sektor juga memperlihatkan struktur ekspor yang belum terdiversifikasi secara optimal.
Di sisi lain, total nilai ekspor Kabupaten Cirebon secara keseluruhan terus meningkat. Pada 2023, ekspor tercatat US$354,59 juta, naik menjadi US$423,89 juta pada 2024, dan kembali meningkat menjadi US$432,05 pada 2025.
Suhartono mengatakan, angka tersebut mengindikasikan adanya pertumbuhan, tetapi tidak secara otomatis mencerminkan pemerataan kontribusi antar sektor.
2. Ketergantungan impor jadi catatan

Di balik stabilnya kinerja ekspor rotan, kata Suhartono, terdapat persoalan struktural yang belum terselesaikan. Industri rotan di Cirebon masih bergantung pada bahan baku impor, terutama untuk proses finishing seperti pernis berbasis minyak bumi.
Ketergantungan ini berdampak pada biaya produksi yang berpotensi meningkat seiring perubahan harga global. Meski demikian, Disperdagin menilai pengaruhnya belum signifikan terhadap nilai ekspor.
“Memang ada dampak, tetapi sejauh ini tidak terlalu memengaruhi kinerja ekspor secara keseluruhan,” ujar Suhartono.
Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena berpotensi menggerus daya saing jika tidak diantisipasi dalam jangka panjang.
3. Upaya dorong daya saing industri

Suhartono mengatakan, pemerintah daerah berupaya menjaga keberlanjutan sektor rotan melalui berbagai program pendampingan. Pada April 2026, Disperdagin menggelar pelatihan teknis bagi 30 pelaku industri kecil dan menengah (IKM).
Program tersebut difokuskan pada pengembangan desain, inovasi produk, peningkatan kualitas, serta diversifikasi. Langkah ini ditujukan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.
Selain itu, peningkatan kapasitas produksi juga didorong agar pelaku industri mampu memenuhi permintaan ekspor yang terus berkembang.
Suhartono menyebut, baik IKM maupun industri besar memiliki peran dalam menjaga stabilitas ekspor daerah. “Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi menjadi kunci agar ekspor tetap tumbuh,” katanya.

















