Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cirebon Kejar Tanam Cepat, Hindari Ancaman Gagal Panen

Cirebon Kejar Tanam Cepat, Hindari Ancaman Gagal Panen
Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)
Intinya Sih
  • Pemerintah Kabupaten Cirebon mempercepat masa tanam dan menyiapkan varietas padi tahan kering untuk mengantisipasi kekeringan serta menjaga stabilitas produksi pangan daerah.
  • Wilayah rawan kekeringan seperti Sedong, Susukan Lebak, dan Karangwareng dipetakan sebagai prioritas intervensi distribusi air dan penempatan pompa guna menekan risiko gagal panen.
  • Keterbatasan anggaran membuat Pemkab Cirebon berharap dukungan pusat berupa bantuan benih dan perbaikan irigasi agar ketahanan pangan tetap terjaga di tengah perubahan iklim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Cirebon menyiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Fokus diarahkan pada pengamanan air irigasi, percepatan masa tanam, serta penggunaan varietas padi tahan kering guna menjaga stabilitas produksi pangan daerah.

Kepala Subsektor Produksi Tanaman Pangan, Iwan Mulyawan, menyampaikan koordinasi lintas instansi telah dimulai lebih awal. Dinas Pertanian berkolaborasi dengan PUTR, BBWS, serta PSDAP untuk memastikan distribusi air tetap terkendali di tengah ancaman penurunan debit.

“Koordinasi dilakukan sejak dini agar distribusi air tetap terjaga, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber air,” ujar Iwan, Minggu (3/5/2026).

Selain pengaturan air, pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan alat dan mesin pertanian. Pompa air menjadi salah satu instrumen utama dalam menghadapi kondisi darurat di lapangan.

“Pompa air sudah disiagakan, baik bantuan pemerintah maupun milik petani. Saat kondisi kritis, alat sudah siap digunakan,” katanya.

1. Percepatan tanam jadi strategi utama

ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

Iwan mengatakan, langkah percepatan tanam menjadi strategi kunci untuk mengurangi risiko gagal panen. Petani didorong memulai tanam lebih awal agar tanaman padi telah memasuki fase pertumbuhan kuat sebelum puncak kemarau.

“Percepatan tanam memberi peluang tanaman bertahan lebih baik saat kemarau datang,” ujar Iwan.

Di sisi lain, petani juga diarahkan menggunakan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kering. Varietas seperti padi gogo dan Inpago dinilai lebih tahan terhadap keterbatasan air dibanding varietas konvensional.

Pendekatan ini dinilai penting mengingat sebagian wilayah di Kabupaten Cirebon memiliki karakteristik lahan dengan ketergantungan tinggi pada curah hujan.

2. Wilayah rawan kekeringan dipetakan

Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)

Berdasarkan catatan lima tahun terakhir, sejumlah kecamatan masuk kategori rawan kekeringan. Wilayah selatan seperti Sedong, Susukan Lebak, dan Karangwareng memiliki keterbatasan akses air dan jaringan irigasi.

Kondisi serupa juga ditemukan di wilayah utara, termasuk Gunung Jati dan Suranenggala.

Pemetaan wilayah ini menjadi dasar penentuan prioritas intervensi, mulai dari distribusi air hingga penempatan pompa. Pemerintah daerah berupaya menekan dampak kekeringan agar tidak meluas ke sentra produksi padi.

Di tengah upaya menjaga produksi, sektor pertanian di Kabupaten Cirebon menghadapi tantangan struktural berupa penyusutan lahan sawah.

Data Dinas Pertanian mencatat luas baku sawah saat ini sekitar 49.690 hektare, lebih rendah dibandingkan data ATR/BPN tahun 2024 sebesar 50.466 hektare. Pada pendataan 2025, luas tersebut kembali turun menjadi sekitar 49.000 hektare.

Dari total itu, sekitar 44.000 hingga 45.000 hektare digunakan untuk budidaya padi, sementara sisanya dimanfaatkan untuk komoditas lain seperti palawija dan hortikultura.

Produksi beras Kabupaten Cirebon berada pada kisaran 350.000 hingga 360.000 ton per tahun. Angka ini masih menempatkan daerah dalam kondisi surplus sekitar 90.000 ton per tahun. Namun tren surplus menunjukkan penurunan dalam satu dekade terakhir.

“Dulu surplus bisa mencapai sekitar 110.000 ton. Sekarang berada di kisaran 90.000 ton,” kata Iwan.

Penurunan tersebut dipengaruhi penyusutan lahan dan peningkatan kebutuhan konsumsi seiring pertumbuhan penduduk.

3. Dukungan pusat diharapkan perkuat ketahanan

ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

Iwan mengatakan, keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan dalam memberikan bantuan langsung kepada petani terdampak kekeringan. Pemerintah Kabupaten Cirebon mengandalkan dukungan pemerintah pusat untuk menjaga produktivitas sektor pertanian.

“Kami mengusulkan bantuan benih dari cadangan nasional serta perbaikan jaringan irigasi,” ujar Iwan.

Langkah tersebut, lanjutnya, diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tekanan iklim dan perubahan struktur lahan pertanian.

"Pemerintah daerah terus memantau perkembangan musim serta kondisi lapangan guna memastikan produksi tetap terjaga sepanjang tahun," tutup Iwan.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More