Lebaran Kelar, Harga Pangan di Cirebon Bikin Warga Berdebar

- Harga beras, daging ayam, gula, dan minyak goreng di Pasar Sumber Cirebon naik pascalebaran akibat tingginya permintaan dan distribusi yang belum sepenuhnya normal.
- Komoditas cabai mengalami penurunan tajam hingga lebih dari 20% karena pasokan melimpah dari daerah produksi setelah panen raya dan menurunnya konsumsi masyarakat.
- Kenaikan harga bahan pokok membuat daya beli masyarakat tertekan, meski turunnya harga cabai belum cukup menyeimbangkan pengeluaran rumah tangga.
Cirebon, IDN Times - Mayoritas harga bahan pangan di Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengalami kenaikan pada Kamis (26/3/2026) atau pascalibur Lebaran 2026.
Kenaikan terjadi pada komoditas utama seperti beras, daging ayam, gula, hingga minyak goreng, sementara sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai justru mengalami penurunan cukup tajam.
Berdasarkan pantauan data harga rata-rata harian, beras di Kabupaten Cirebon tingkatan kualitas mengalami kenaikan. Beras kualitas bawah I tercatat Rp14.150 per kilogram atau naik 1,07 persen, sedangkan beras super I mencapai Rp17.100 per kilogram atau meningkat 1,48 persen.
Kenaikan ini menunjukkan tekanan yang merata di sektor pangan pokok, seiring tetap tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat pascalebaran.
1. Harga beras dan kebutuhan pokok naik merata

Selain beras, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas kebutuhan dapur lainnya. Daging ayam ras naik cukup signifikan menjadi Rp44.350 per kilogram atau melonjak 5,22 persen, sementara itu telur ayam ras juga mengalami kenaikan tipis ke level Rp31.050 per kilogram.
Di sisi lain, gula pasir premium tercatat naik menjadi Rp19.350 per kilogram, diikuti gula lokal Rp18.550 per kilogram. Harga minyak goreng, baik curah maupun kemasan, juga mengalami kenaikan tipis di kisaran Rp22.250 hingga Rp23.450 per kilogram.
Seorang pedagang sembako di Pasar Sumber, Rina (43 tahu), mengatakan kenaikan harga sudah mulai terasa sejak beberapa hari setelah Lebaran. “Permintaan masih tinggi, terutama untuk beras dan ayam. Stok dari distributor juga belum sepenuhnya normal, jadi harga ikut naik,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
2. Cabai anjlok, pasokan melimpah

Berbeda dengan komoditas pokok, harga cabai justru mengalami koreksi cukup dalam. Cabai rawit merah turun drastis hingga 22,5 persen menjadi Rp83.700 per kilogram. Cabai merah keriting juga turun 8,55 persen menjadi Rp50.300 per kilogram, sementara cabai merah besar turun 7,19 persen ke Rp55.500 per kilogram.
Penurunan ini diduga dipicu oleh melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi setelah panen raya, ditambah menurunnya konsumsi masyarakat usai puncak permintaan saat Lebaran.
“Sekarang cabai malah sepi pembeli. Pasokan banyak, tapi yang beli tidak sebanyak sebelum Lebaran,” kata Dedi (38 tahun), pedagang sayur di pasar tersebut.
Meski demikian, tidak semua jenis cabai mengalami penurunan. Cabai rawit hijau tercatat naik tipis 0,99 persen menjadi Rp56.000 per kilogram, menandakan adanya perbedaan permintaan pasar.
3. Daya beli masyarakat mulai tertekan

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok mulai dirasakan masyarakat, terutama kalangan rumah tangga. Seorang pembeli, Siti (35 tahun), mengaku harus lebih selektif dalam berbelanja kebutuhan dapur.
“Harga beras sama ayam naik, jadi belanja sekarang harus diatur. Biasanya beli banyak, sekarang dikurangi,” ujarnya.
Menurutnya, meskipun harga cabai turun, hal tersebut belum cukup mengimbangi kenaikan komoditas utama yang lebih sering dikonsumsi sehari-hari.
Secara umum, pergerakan harga di Pasar Sumber mencerminkan fase penyesuaian pascalebaran, di mana permintaan terhadap bahan pokok masih tinggi sementara distribusi belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, normalisasi pasokan hortikultura seperti cabai menjadi penyeimbang, meskipun dampaknya terhadap pengeluaran rumah tangga relatif terbatas.


















