KDM Mulai Petakan Dampak Gempa Sesar Lembang hingga ke Cirebon

Pemprov Jawa Barat menyiapkan skenario mitigasi Sesar Lembang, mencakup jalur evakuasi, kendaraan, logistik, air bersih, penyimpanan bantuan, dan teknologi informasi untuk respons darurat.
Gubernur Dedi Mulyadi meminta pemetaan akses Bandung ke wilayah lain serta menyiapkan Cirebon sebagai opsi pusat operasional pemerintahan bila Bandung tidak dapat berfungsi.
Jabar memiliki enam sensor gempa di sekitar Sesar Lembang; pemerintah juga menghitung kebutuhan perangkat mitigasi, mikrozonasi, penataan ruang, dan standar pembangunan kawasan rawan gempa.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menyiapkan skenario menghadapi potensi gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang. Persiapan itu mencakup jalur evakuasi, kendaraan untuk mobilisasi bantuan, logistik, hingga kemungkinan pemindahan pusat pemerintahan ke Cirebon jika Bandung tidak dapat beroperasi akibat gempa.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM meminta seluruh perangkat daerah menghitung kebutuhan penanganan darurat sejak dini. Menurutnya, mitigasi tidak cukup hanya melalui koordinasi antarlembaga, tetapi harus diterjemahkan menjadi rencana operasional yang jelas.
"Jadi, dari sekarang skenarionya sudah kami hitung. Kalau terjadi Sesar Lembang, mobilisasi ke mana, jalurnya lewat mana, berapa truk yang dibutuhkan, logistiknya apa, dan teknologi informasi apa yang disiapkan," ujar KDM, dikutip Senin (12/10/2026).
1. Jalur evakuasi hingga logistik harus dipetakan

Ilustrasi gempa seismograf (IDN Times/Sukma Shakti) KDM meminta perangkat daerah mengidentifikasi kebutuhan kendaraan, peralatan, dan logistik yang diperlukan ketika gempa terjadi. Perhitungan tersebut juga harus mencakup lokasi penyimpanan bantuan dan jalur distribusi agar mobilisasi dapat dilakukan dengan cepat.
Menurutnya, kendaraan berukuran besar, seperti truk, perlu diperhitungkan untuk mendukung mobilisasi petugas maupun pengangkutan bantuan. Ketersediaan bahan pangan dan air bersih bagi warga terdampak juga menjadi bagian dari skenario penanganan darurat.
Kebutuhan mobil tangki air, misalnya, perlu dipetakan untuk mengantisipasi gangguan pasokan air bersih apabila infrastruktur terdampak gempa.
"Kalau membutuhkan banyak truk, maka dinas teknis sekarang harus menyiapkan," katanya.
2. Cirebon disiapkan sebagai opsi pusat pemerintahan darurat
.jpg)
Ilustrasi gempa (IDN Times/Arief Rahmat) KDM juga meminta jalur penghubung Bandung dengan wilayah lain dipetakan berdasarkan potensi kerusakan akibat gempa. Pemetaan ini diperlukan untuk mengetahui akses yang masih bisa dilalui serta alternatif distribusi bantuan apabila sejumlah ruas jalan terganggu.
Pembahasan tersebut, kata dia, perlu diteruskan kepada perangkat daerah yang menangani infrastruktur agar aspek mitigasi bencana turut menjadi pertimbangan dalam perencanaan pembangunan jalan.
Selain jalur evakuasi dan logistik, KDM membahas kemungkinan menjadikan Cirebon sebagai lokasi alternatif operasional pemerintahan jika gempa menyebabkan pusat pemerintahan di Bandung tidak dapat berfungsi.
"Jangan sampai ketika terjadi bencana, kita baru menyiapkan semuanya. Skenarionya harus disiapkan dari sekarang," kata KDM.
3. Enam sensor gempa perlu diperkuat

Ilustrasi gempa (IDN Times/Arief Rahmat) Ia meminta agar skenario tersebut memperhitungkan akses menuju Cirebon, termasuk kemungkinan kerusakan jalan yang dapat menghambat perpindahan personel maupun distribusi bantuan.
Meski demikian, kesiapan pusat pemerintahan alternatif perlu ditopang perencanaan teknis yang jelas. Penentuan lokasi, ketersediaan fasilitas, serta mekanisme pemindahan operasional pemerintahan menjadi aspek yang perlu dipastikan sebelum skenario tersebut dapat dijalankan.
Adapun sensor gempa di Jabar saat ini terdapat enam sensor khusus yang ditempatkan di sisi utara dan selatan Sesar Lembang. KDM meminta kebutuhan perangkat mitigasi dihitung secara terperinci, termasuk jumlah alat yang diperlukan, lokasi pemasangan, dan anggaran pengadaannya.
Mitigasi Sesar Lembang juga berkaitan dengan penataan ruang dan standar pembangunan di kawasan rawan gempa. KDM juga membahas pemetaan mikrozonasi untuk mengidentifikasi kawasan dengan tingkat risiko gempa yang berbeda.
Sebagai informasi, Sesar Lembang merupakan sesar aktif sepanjang sekitar 29 kilometer yang membentang di utara Bandung dan terbagi menjadi enam segmen. Kawasan di sekitarnya mencakup permukiman serta berbagai aktivitas ekonomi sehingga dampak gempa berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat dan infrastruktur.
Badan Geologi pada Februari 2026 menyebut potensi gempa dapat mencapai magnitudo 6,8–7 apabila seluruh segmen bergerak. Sementara itu, kajian BMKG pada Oktober 2025 menyebut segmen Cimeta dan Cipogor berpotensi menghasilkan gempa maksimum magnitudo 5,5 berdasarkan skenario yang digunakan.
























